Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
18 April 2026 11:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah presiden Amerika Serikat tidak hanya dikenal sebagai pemimpin politik, tetapi juga memiliki pengalaman langsung di medan perang. Dari era American Revolutionary War hingga World War II, pengalaman militer ini membentuk karakter, keberanian, dan cara mereka mengambil keputusan saat memimpin negara.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam krisis sering kali berakar dari pengalaman ekstrim di lapangan. Berikut 7 presiden Amerika Serikat yang pernah turun ke medan perang.
1.George Washington (22 Februari 1732 - 14 Desember 1799)
Presiden pertama Amerika Serikat, Jenderal George Washington memimpin pasukan Patriot meraih kemenangan dalam Perang Kemerdekaan. Ia juga memimpin Konvensi Konstitusi tahun 1787 yang melahirkan Konstitusi AS dan pemerintahan federal. Washington dikenal sebagai "Bapak Bangsa" berkat kepemimpinannya pada masa awal pembentukan negara baru tersebut. Hari kelahirannya diperingati setiap Senin ketiga bulan Februari dan sering bertepatan dengan Presidents Day.
Foto: https://www.whitehousehistory.org/
George Washington
George Washington ditunjuk untuk memimpin penyerangan terhadap Inggris dengan pasukan tentara kontinental yang baru dibentuk. Penunjukan ini dilakukan oleh para delegasi Kongres Kontinental Kedua, Juni 1775.
Meskipun Washington pernah memimpin pasukan provinsi dan bertugas bersama Inggris dalam Perang Perancis dan Indian, Ia tidak merasa telah melakukan peran yang berarti.
Pada pelantikannya Ia memberikan pidato yang sangat rendah hati, menegaskan rasa percaya dirinya yang rendah terhadap posisi barunya itu.
Tugas yang Ia emban sangat berat. Selain membangun pasukan baru dari awal, ia juga harus memimpin pasukan yang sama melawan musuh yang dikenal kuat pada masa itu.
Hambatan internal seperti kurangnya makanan, senjata, dan pasokan turut membebani pasukannya saat itu. Washington juga harus menguatkan dan menjaga kesolidan tentaranya saat mereka tidak termotivasi akibat kurangnya gaji yang diberikan.
Kondisi ini mengantarkan Washington ke berbagai kegagalan dan kekalahan pertempuran. Alih-alih menyerah, Washington justru semakin giat mempelajari pola dari kegagalannya dan terus beradaptasi.
Pada akhirnya, kemenangan Amerika mungkin tampak seperti "mukjizat", tetapi peran George Washington menjadi faktor penentunya. Dengan ketekunan dan kepemimpinan yang kuat, ia mampu menjaga pasukan tetap bertahan hingga meraih kemenangan.
Karena itu, Washington tidak hanya menjadi tokoh kunci dalam Revolusi Amerika, tetapi juga menetapkan standar kepemimpinan yang terus diikuti hingga kini.
2. Abraham Lincoln (12 Februari 1809 - 15 April 1865)
Lincoln pernah bertugas sebagai kapten di Milisi Illinois dan kemudian menjadi Presiden ke-16 Amerika Serikat. Ia memimpin negara melalui krisis moral, konstitusional, dan politik terbesar dalam Perang Saudara Amerika. Lincoln berhasil mempertahankan persatuan negara, menghapus perbudakan, memperkuat pemerintah federal, dan memodernisasi ekonomi AS.
Pada Februari 1926, Carter G. Woodson-penulis dan sejarawan yang dikenal sebagai bapak Black History Month-meluncurkan perayaan Negro History Week, cikal bakal Bulan Sejarah Kulit Hitam. Ia memilih Februari karena bulan itu bertepatan dengan hari lahir Lincoln dan tokoh abolisionis Frederick Douglass.
Foto: Patung mantan Presiden AS Abraham Lincoln berdiri di dalam rotunda Capitol AS di Washington, D.C., AS, 3 Desember 2018. Brendan Smialowski / Pool via REUTERS
A statue of former U.S. President Abraham Lincoln stands inside the U.S. Capitol rotunda in Washington, D.C., U.S., December 3, 2018. Brendan Smialowski/Pool via REUTERS
Pada 1976, Presiden sekaligus veteran Gerald Ford melanjutkan tradisi tersebut. Ia mengatakan perayaan itu memberi kesempatan untuk "menghormati pencapaian warga kulit hitam Amerika yang terlalu sering diabaikan dalam setiap bidang sepanjang sejarah kita."
3 James Monroe (28 April 1758 - 4 Juli 1831)
Sebelum menjadi presiden kelima Amerika Serikat, James Monroe adalah perwira muda dalam Perang Revolusi Amerika. Ia ikut dalam penyeberangan Sungai Delaware bersama pasukan yang dipimpin oleh George Washington, sebagai bagian dari serangan mendadak terhadap sekitar 1.400 tentara bayaran Hessian yang sedang berjaga di Trenton, New Jersey. Operasi militer ini menjadi titik balik melawan pasukan Inggris.
Dalam pertempuran di Trenton, Monroe tertembak di bahu oleh peluru musket dan nyaris kehilangan nyawa akibat pendarahan hebat. Meski terluka parah, ia tetap bertahan di medan tempur hingga bala bantuan datang.
Foto: https://www.whitehousehistory.org/
James Monroe
4. Andrew Jackson (15 Maret 1767- 8 Juni 1845)
Andrew Jackson memulai pengalaman perangnya sejak usia 13 tahun sebagai kurir dalam Perang Revolusi. Ia pernah ditangkap tentara Inggris dan terluka akibat sabetan pedang karena menolak perintah seorang perwira dan meninggalkan bekas luka seumur hidup.
Perang juga merenggut hampir seluruh keluarganya, menjadikannya yatim piatu. Namun trauma tersebut tidak menghentikannya. Jackson kemudian bangkit menjadi jenderal dan meraih kemenangan besar dalam Battle of New Orleans, yang mengukuhkan reputasinya sebagai pahlawan nasional.
5. Zachary Taylor (24 November 1784 - 9 Juli 1850)
Karier militer Zachary Taylor mulai bersinar dalam perang 1812, khususnya saat mempertahankan Benteng Harrison dari serangan ratusan pasukan sekutu Inggris. Dalam kondisi kacau dan kebakaran yang melanda benteng, Taylor memimpin pertahanan improvisasi yang berhasil menahan serangan hingga bantuan datang.
Keberaniannya di medan tempur kemudian berlanjut dalam Perang Meksiko dengan Amerika, yang mengantarkannya ke kursi presiden. Taylor dikenal sebagai pemimpin yang tenang di tengah tekanan ekstrim.
Foto: white history.org
Zachary Taylor
6. Rutherford B. Hayes (4 Oktober 1822 - 17 Januari 1893)
Rutherford B. Hayes bertugas sebagai perwira Union dalam American Civil War dan dikenal karena keberaniannya di garis depan. Dalam Pertempuran South Mountain, ia tertembak di lengan hingga hampir kehilangan anggota tubuhnya.
Meski terluka, Hayes tetap memimpin pasukannya sebelum akhirnya pingsan di medan perang. Sepanjang perang, ia mengalami empat kali luka tembak dan bahkan kehilangan beberapa kuda yang ditembak saat ia tunggangi.
Foto: white history.org
Rutherford B. Hayes
7. Theodore Roosevelt (27 Oktober 1858 - 6 Januari 1919)
Theodore Roosevelt menjabat sebagai Asisten Sekretaris Angkatan Laut ketika Perang Spanyol dengan Amerika pecah, dan ia segera mengundurkan diri dari jabatannya dan membentuk unit kavaleri sukarelawannya sendiri yang dikenal sebagai "Rough Riders". Pada 1 Juli 1898, dalam Pertempuran San Juan Hill ia memimpin serangan langsung ke posisi Spanyol dengan keberanian tinggi.
Roosevelt bahkan sempat maju terlalu jauh hingga hampir terisolasi dari pasukannya. Aksinya yang nekat dan heroik membuatnya kemudian dianugerahi Medal of Honor secara anumerta, menjadikannya satu-satunya presiden AS dengan penghargaan militer tertinggi tersebut.
Foto: https://nationalvmm.org/
Theodore Roosevelt
8. John F. Kennedy (29 Mei 1917 - 22 November 1963)
Selama Perang Dunia II, John F. Kennedy memimpin kapal torpedo PT-109 di Pasifik. Ketika mengintai kapal perang musuh di dekat Kepulauan Solomon, kapalnya secara tidak sengaja ditabrak oleh kapal Jepang hingga terbelah, dua dari 12 awak kapal Kennedy tewas dalam tabrakan tersebut, dan beberapa lainnya terluka.
Kennedy menunjukkan kepemimpinan luar biasa dengan menyelamatkan para awak kapal, bahkan menarik rekan yang terluka dengan menggigit tali pelampung sambil berenang menuju pulau terdekat. Mereka bertahan hidup berhari-hari sebelum akhirnya diselamatkan.
Kesebelas orang itu selamat dari cobaan tersebut, dan Kennedy kemudian dianugerahi medali Angkatan Laut dan Korps Marinir atas kepahlawanannya.
Foto: AP/Jim Altgens
FILE - President John F. Kennedy waves from his car in a motorcade approximately one minute before he was shot, Nov. 22, 1963, in Dallas. Riding with President Kennedy are first lady Jacqueline Kennedy, right, Nellie Connally, second from left, and her husband, Texas Gov. John Connally, far left. (AP Photo/Jim Altgens, File)
9. Jimmy Carter (1 Oktober 1924 - 29 Desember 2024)
Carter lulus dari Akademi Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1946. Penugasan pertamanya adalah sebagai ensign di kapal USS Wyoming.
Setelah menyelesaikan dua tahun tugas di kapal permukaan, Carter mengajukan diri untuk bertugas di kapal selam. Ia kemudian menjabat sebagai perwira eksekutif, perwira teknik, dan perwira perbaikan elektronik di kapal selam SSK-1.
Carter kemudian menjabat sebagai Presiden ke-39 Amerika Serikat dari tahun 1977 hingga 1981.
Foto: https://nationalvmm.org/
Jimmy Carter
10. Dwight David "Ike" Eisenhower (14 Oktober 1890 - 28 Maret 1969)
Pada 11 Februari 1943, Jenderal Eisenhower menjadi komandan pasukan Sekutu di Eropa. Gelar resminya adalah Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force.
Ia bertanggung jawab merencanakan dan mengawasi invasi Afrika Utara dalam Operation Torch pada 1942-1943, serta invasi Normandia yang sukses pada 1944-1945 dari Front Barat.
Setelah karier militernya, Eisenhower menjabat sebagai Presiden ke-34 Amerika Serikat dari 1953 hingga 1961.
Dwight D. Eisenhower dikenal sebagai salah satu jenderal terbesar dunia bukan karena agresivitasnya di medan tempur, melainkan kemampuannya mengelola perang paling kompleks dalam sejarah modern. Dalam Perang Dunia II, ia menjadi arsitek utama kemenangan Sekutu di Eropa.
Keunggulan Eisenhower terletak pada kemampuannya memimpin koalisi besar lintas negara-mulai dari AS, Inggris hingga Kanada-sembari meredam ego jenderal-jenderal kuat seperti George S. Patton dan Bernard Montgomery. Ia juga menjadi otak di balik Operasi Overlord, invasi terbesar dalam sejarah yang menjadi titik balik kekalahan Nazi Jerman.
Foto: https://www.battlefields.org/
Dwight David "Ike" Eisenhower
Tak hanya itu, Eisenhower dikenal sebagai ahli "grand strategy"-fokus pada kemenangan akhir, bukan sekadar pertempuran. Dengan gaya kepemimpinan tenang, rasional, dan minim ego (berbeda dengan Douglas MacArthur), ia mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan perang.
Hasilnya jelas yakni minim kegagalan besar, momentum terjaga, dan kemenangan Sekutu di Eropa berhasil diamankan.
Eisenhower juga memiliki karier militer yang mengesankan di bidang dunia politik. Saat menjabat sebagai presidensebagai presiden Amerika Serikat ke-34 dari tahun 1953 hingga 1961, ini menjadi periode asa keemasan bagi kelas menengah Amerika. Pertumbuhan ekonomi melonjak hingga 3,5%
Eisenhower tidak membawa negaranya ke dalam perang, meskipun ia sebenarnya bisa saja melakukannya di Indochina pada 1954. Ia juga berhasil merundingkan gencatan senjata dalam Perang Korea hanya enam bulan setelah menjabat. Sepanjang masa kepresidenannya, perdamaian relatif terjaga, meskipun ketegangan Perang Dingin terkadang memanas.
Eisenhower juga tidak mengambil kebijakan yang membahayakan pertumbuhan ekonomi kuat pada 1950-an. Sebaliknya, ia mendorong kebijakan yang merangsang ekonomi, seperti mendukung pembangunan sistem jalan raya antarnegara bagian melalui Federal-Aid Highway Act of 1956.
Meski belanja pertahanan cukup tinggi pada masa pemerintahannya, ia tidak tergoda untuk meningkatkannya secara berlebihan. Ketika Uni Soviet meluncurkan satelit buatan pertama di dunia, Sputnik 1, pada 4 Oktober 1957, Eisenhower menolak tekanan publik yang panik untuk meningkatkan anggaran militer secara besar-besaran, karena ia yakin pertahanan negaranya tetap kuat. Ia menegaskan tidak akan mengeluarkan satu sen pun lebih sedikit dari yang diperlukan untuk keamanan nasional-namun juga tidak satu sen pun lebih banyak.
11. Harry Truman (8 Mei 1884 - 26 Desember 1972)
Dari tahun 1905 hingga 1911, Truman bertugas di Garda Nasional Missouri. Ketika Amerika Serikat memasuki Perang Dunia I pada 1917, ia membantu membentuk Resimen ke-2 Artileri Lapangan Missouri. Truman dan unitnya terlibat dalam pertempuran di kampanye Vosges, Saint-Mihiel, dan Meuse-Argonne.
Setelah perang, Truman bergabung dengan pasukan cadangan dan akhirnya naik pangkat hingga kolonel.
Pada 1945 hingga 1953, Truman menjabat sebagai Presiden ke-33 Amerika Serikat, mengambil alih jabatan setelah wafatnya Presiden Franklin D. Roosevelt. Selama masa kepresidenannya, Truman menjalankan Marshall Plan, menetapkan Doktrin Truman, serta membentuk NATO untuk membendung ekspansi komunisme Soviet.
Foto: https://nationalvmm.org/
Harry Truman
12. Ulysses S. Grant
Jenderal Ulysses S. Grant, kelahiran Ohio, menjabat sebagai Presiden ke-18 Amerika Serikat pada 1869-1877. Grant memimpin Tentara Union meraih kemenangan dalam Perang Saudara Amerika pada 1865. Kemenangan Utara di Gettysburg dan jatuhnya Vicksburg menjadi titik balik perang, sekaligus menjadikan Grant komandan utama tentara federal.
Setelah perang, ia sempat menjabat Menteri Perang di bawah Presiden Andrew Johnson. Saat menjadi presiden, Grant dikenal efektif dalam isu hak sipil. Ia menandatangani undang-undang pembentukan Departemen Kehakiman dan berupaya melindungi warga Afrika-Amerika selama masa Rekonstruksi.
Ulysses merupakan salah satu tokoh kunci dalam kemenangan Union pada Perang Saudara Amerika. Dari bekerja sebagai pegawai di toko kulit milik ayahnya di Illinois, Ia malah sukses menjadi panglima tertinggi dengan lebih dari satu juta pasukan di bawah komandonya.
Grant merupakan lulusan West Point dan pernah bertugas dalam Perang Meksiko-Amerika. Namun, ia sempat mengundurkan diri dari militer pada tahun 1854 dan mengalami masa sulit sebelum perang saudara pecah.
Ketika perang dimulai pada tahun 1861, Grant segera bergabung kembali untuk membela Union. Awalnya ia kesulitan mendapatkan posisi, tetapi setelah menunjukkan kemampuannya dalam melatih pasukan, ia diangkat menjadi kolonel pada Juni 1861 dan kemudian brigadir jenderal hanya sebulan setelahnya.
Foto: https://www.battlefields.org/
Ulysses S. Grant
Sepanjang perang, Grant menunjukkan kemampuan yang tidak hanya unggul secara taktis, tetapi juga strategis. Kepemimpinan, keteguhan, dan visinya menjadikannya sebagai sosok yang berperan besar dalam menyelamatkan Union.
Sebagaimana diungkapkan oleh William T. Sherman, jika George Washington dikenang sebagai pendiri negara, maka Grant akan selalu dikenang sebagai penyelamatnya.
13. George H.W. Bush ( 12 Juni 1924 - 30 November 2018)
George H. W. Bush adalah pilot Angkatan Laut termuda saat Perang Dunia II dan menjalankan puluhan misi tempur. Dalam salah satu misi, pesawatnya terkena tembakan musuh dan terbakar saat menyerang target Jepang.
Meski dalam kondisi darurat, Bush tetap menyelesaikan misi sebelum melompat ke laut. Ia mengapung selama berjam-jam di tengah laut dan nyaris ditangkap musuh sebelum akhirnya diselamatkan oleh kapal selam AS. Atas keberaniannya, ia dianugerahi Distinguished Flying Cross.
(mae/mae)
Addsource on Google

5 hours ago
4
















































