Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah prasasti Yunani yang ditemukan di dasar Masjid Agung Homs, Suriah, memicu kembali perdebatan lama soal lokasi Kuil Dewa Matahari di kota kuno Emesa. Kuil tersebut berkaitan dengan imam agung yang kemudian menjadi Kaisar Romawi abad ketiga, Elagabalus.
Prasasti itu ditemukan saat proses restorasi masjid. Lokasinya berada di bawah salah satu kolom utama bangunan. Area ini juga memiliki nilai sejarah karena dikaitkan dengan penguasa Dinasti Zengid abad ke-12, Nur ad-Din.
Masjid Agung Homs selama ini diyakini berdiri di atas bekas gereja yang didedikasikan untuk Santo Yohanes Pembaptis.
Namun, perdebatan lainnya adalah apakah sebelum menjadi gereja, lokasi itu merupakan Kuil Elagabalus. Pertanyaan tersebut sudah dibahas puluhan tahun, tetapi belum pernah ada bukti arkeologis yang benar-benar kuat.
Profesor arkeologi Universitas Sharjah, Maamoun Saleh Abdulkarim, yang menulis studi di jurnal Shedet, menilai prasasti ini bisa menjadi titik terang.
"Prasasti ini memberikan bukti baru dalam perdebatan lama, apakah Kuil Elagabalus berada di bawah Masjid Agung saat ini, atau justru di lapisan arkeologis lain di atas bukit buatan tempat benteng Islam Homs berdiri," ujarnya, dikutip dari laman Physorg, Jumat (27/2/2026).
Tiga Fase Agama
Studi tersebut menyebut Homs mengalami tiga fase religius utama, pagan, Kristen, dan Islam.
Pada era Romawi, Emesa dikenal sebagai pusat pemujaan dewa matahari. Pada abad keempat, kota itu beralih menjadi pusat Kekristenan. Setelah itu, wilayah tersebut menjadi bagian dari peradaban Islam dan Masjid Agung berdiri di atasnya.
Menurut Abdulkarim, jika simbolisme kultus matahari dalam prasasti ini terkonfirmasi, maka ada indikasi kesinambungan ruang suci dari era pagan ke Kristen hingga Islam.
Artinya, transformasi agama di Emesa tidak terjadi lewat penghancuran total, tetapi melalui pelapisan dan adaptasi bangunan yang sama.
Prasasti granit itu dipahat langsung di dasar kolom berukuran 1x1 meter. Sekitar 75 sentimeter bagian depan diisi teks Yunani, sisanya bingkai dekoratif.
Menurut Kepala Departemen Ekskavasi Homs, Teriz Lyoun, gaya tulisannya formal dan tersusun rapi dalam garis horizontal, ciri khas prasasti dedikasi resmi.
Isi teks menggambarkan sosok penguasa pejuang yang disamakan dengan angin, badai, dan macan tutul. Ia digambarkan menaklukkan musuh dan menarik upeti dengan otoritas kerajaan yang kuat.
Abdulkarim mencatat ada ketidakteraturan tata bahasa Yunani dalam teks tersebut. Hal itu wajar, karena pada masa Romawi di Suriah, bahasa Aram lebih dominan digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Abdulkarim menekankan pentingnya identitas keagamaan dan perkotaan Emesa, serta letaknya yang strategis di persimpangan jalur perdagangan kuno, khususnya yang menghubungkan Antiokhia, Damaskus, dan kawasan Levant yang lebih luas.
Bagi Kekaisaran Romawi dan kekaisaran-kekaisaran setelahnya, Emesa berkembang menjadi pusat perdagangan utama sekaligus gerbang strategis untuk ekspansi di dalam maupun melampaui wilayah Suriah.
"Identitas Romawi Emesa pada dasarnya bertumpu pada paganisme," tulis Abdulkarim, seraya menambahkan bahwa kehidupan spiritual kota tersebut berpusat pada Elagabalus, dewa matahari lokal, yang namanya bahkan diadopsi oleh kaisar Romawi.
Kuil Elagabalus menjadi pusat perayaan musiman dan aktivitas keagamaan di seluruh wilayah itu.
Inti dari penelitian Abdulkarim adalah penemuan prasasti berbahasa Yunani. Meski sebelumnya telah dicatat oleh para arkeolog, artefak tersebut belum pernah diteliti secara mendalam dalam kajian ilmiah.
Analisisnya menunjukkan bahwa prasasti itu memberikan bukti kuat tentang keberadaan Kuil Matahari yang termasyhur pada periode Romawi, sekaligus mengungkap lokasi pastinya. Selama hampir satu abad, para sarjana memperdebatkan keberadaan kuil tersebut.
(dem/dem)
Addsource on Google

2 hours ago
1















































