AS Salah Sasaran Tembak Pesawat Penumpang Iran, Ratusan Tewas Seketika

11 hours ago 4
Catatan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan bertubi-tubi ke Iran, hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat. Sejumlah pejabat tinggi Iran juga dilaporkan meninggal.

Tak tinggal diam, Iran menyerang titik-titik pangkalan militer AS yang tersebar di wilayah Timur Tengah. Iran juga menjatuhkan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel.

Sejarah mencatat, ketegangan militer AS dan Iran pernah berujung tragedi besar. Kala itu, sebuah kapal perang AS menembak jatuh pesawat penumpang Iran, menewaskan seluruh penumpang dan awak di dalamnya.

Insiden ini langsung mengguncang dunia internasional dan menjadi salah satu tragedi penerbangan sipil paling mematikan sepanjang sejarah.

Peristiwa itu terjadi pada 3 Juli 1988, ketika kapal perang AS USS Vincennes mendeteksi satu objek di radar yang bergerak cepat di wilayah Selat Hormuz. Komandan kapal, Kapten William C. Rogers III, meyakini objek tersebut sebagai jet tempur F-14 milik Iran yang dianggap mengancam kapal. Tanpa verifikasi lanjutan, dua rudal diluncurkan ke arah sasaran.

Belakangan diketahui, sasaran tersebut bukan pesawat militer, melainkan Iran Air 655, pesawat komersial jenis Airbus A300 yang tengah menjalani penerbangan rutin dari Bandar Abbas menuju Dubai.

Pesawat itu berada di jalur penerbangan sipil resmi dan di luar zona perang, serta membawa 290 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Seluruh penumpang tewas seketika.

Di darat, otoritas penerbangan sipil Iran dilanda kepanikan setelah kehilangan kontak dengan pesawat tersebut. Pencarian kemudian menemukan puing-puing pesawat berserakan di perairan Selat Hormuz, mengonfirmasi bahwa pesawat sipil itulah yang ditembak oleh militer AS.

Tragedi ini langsung memicu kemarahan Iran dan kecaman luas dari komunitas internasional. Pemerintah Iran menuding AS melakukan pelanggaran berat hukum internasional karena menjatuhkan pesawat sipil. Namun, Kementerian Pertahanan AS awalnya bersikukuh bahwa target yang ditembak adalah pesawat tempur.

Pentagon kemudian mengakui terjadi salah sasaran, tetapi menolak menyampaikan permintaan maaf resmi. Ketua Kepala Staf Gabungan AS saat itu, Laksamana William J. Crowe Jr., hanya menyampaikan penyesalan.

"Pemerintah Amerika Serikat sangat menyesalkan insiden ini," ujar Crowe dalam konferensi pers di Pentagon pada saat itu.

Presiden AS kala itu, Ronald Reagan, justru membela tindakan awak kapal. Ia menyebut penembakan dilakukan sebagai tindakan bela diri, dengan alasan pilot pesawat tidak merespons panggilan radio dari USS Vincennes. Washington juga menyatakan situasi konflik regional turut berkontribusi atas insiden tersebut.

Kasus ini akhirnya dibawa ke Mahkamah Internasional. Pada 1992, AS sepakat membayar kompensasi sebesar US$ 61,8 juta kepada keluarga korban. Dengan kurs terkin, nilai tersebut setara sekitar Rp976 miliar. Meski demikian, penyelesaian itu dilakukan tanpa pengakuan kesalahan hukum dari pihak AS.

Hingga kini, tragedi Iran Air 655 tetap dikenang sebagai contoh fatal kesalahan identifikasi militer yang merenggut ratusan nyawa sipil dan meninggalkan luka mendalam dalam hubungan AS-Iran.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |