Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
19 January 2026 10:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Arus modal asing berbalik keluar dari pasar keuangan Tanah Air pada pekan lalu.
Merujuk data Bank Indonesia (BI) di sepanjang periode perdagangan 12-14 Januari 2025, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net outflow) sebesar Rp7,71 triliun. Hal ini sekaligus mematahkan tren masuknya inflow asing dalam empat pekan beruntun.
Tekanan arus keluar modal asing ini terjadi di instrumen surat utang pemerintah hingga instrumen moneter BI.
Pada pekan lalu, asing tercatat keluar sebesar Rp8,15 triliun dari pasar Surat Utang Berharga Negara (SBN) dan Rp2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Di sisi lain, investor asing justru masih mencatatkan beli bersih Rp3,08 triliun di pasar saham, menandakan minat pada aset berisiko domestik belum sepenuhnya hilang meski tekanan terjadi di pasar obligasi dan SRBI.
Outflow pekan lalu menjadi yang terbesar sejak pekan kedua Oktober 2025 atau tiga bulan lebih.
Secara kumulatif sepanjang tahun 2026 hingga 14 Januari, berdasarkan data setelmen, investor asing tercatat masih beli bersih Rp5,33 triliun di SRBI dan Rp6,16 triliun di pasar saham. Namun, tekanan jual di pasar SBN masih dominan dengan nilai jual bersih mencapai Rp9,91 triliun.
Sejalan dengan dinamika tersebut, indikator risiko Indonesia ikut naik. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 14 Januari 2026 tercatat berada di 71,43 basis poin (bps), meningkat dari 69,31 bps pada 9 Januari 2026. Kenaikan ini menandakan investor global mulai lebih berhati-hati di awal tahun, meski level CDS Indonesia masih relatif terjaga.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian global turut meningkat setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan wacana terkait Greenland, yang memicu kekhawatiran pasar soal potensi memanasnya tensi geopolitik dan hubungan dagang dengan Eropa.
Pada saat yang sama, situasi Timur Tengah juga kembali memanas menyusul pernyataan Trump yang membuka opsi tindakan lebih tegas terkait gelombang demonstrasi besar di Iran.
Kombinasi sentimen tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset yang dianggap lebih sensitif terhadap gejolak global, khususnya instrumen pendapatan tetap di negara berkembang, ketika volatilitas meningkat.
Bank Indonesia pun menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan guna menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

7 hours ago
5

















































