Awas Kaget! Rupiah Diramal Bakal Seperti Ini ke Depan

10 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih memiliki kapasitas untuk menguat, menurun sejumlah ekonom dan pejabat Bank Indonesia (BI). Meskipun, beberapa hari terakhir dalam tren pelemahan, hingga betah bertengger di level atas Rp 17.000/US$.

Salah satu yang percaya diri kurs rupiah akan mengalami penguatan dalam jangka menengah panjang ialah Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan, di dasari oleh sejumlah indikator acuan.

"Kami sangat yakin bahwa dalam jangka menengah panjang bahwa rupiah akan punya kecenderungan untuk menguat," kata Erwin dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, dikutip Selasa (14/4/2026).

Setidaknya ada tiga indikator yang menjadi acuan Erwin menilai, kurs rupiah akan menguat dalam periode jangka menengah panjang. Ia mengatakan, yang pertama ialah masih rendahnya defisit transaksi berjalan Indonesia yang saat ini di kisaran 0,69% dari produk domestik bruto (PDB). Didukung oleh terjaganya surplus neraca perdagangan.

"Jadi ketika neraca perdagangan kita inefisien, mau tidak mau terjadi memang koreksi pada nilai tukar. Namun, kalau kita surplus ya nilai tukar akan cenderung menguat," ucap Erwin.

Indikator kedua, ia sebut inflasi yang masih berada di kisaran target BI sepanjang tahun ini, 2,5% plus minus 1%, yakni 3,48% angka terakhir yang telah dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2026. Tekanan inflasi yang terjaga ini memberi ruang bagi Indonesia untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi, yang bisa memperkuat stabilitas kurs.

"Sehingga dari sisi inflasi, fundamental kita menunjukkan bahwa stabilitas nilai rupiah dalam konteks inflasi itu terjaga," paparnya.

Ketiga, ialah cadangan devisa yang kini masih di kisaran US$ 148,2 miliar. Besaran cadev ini setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Masih terjaganya level cadev ini memberi ruang bagi BI untuk menjaga jaring pengaman valas untuk melakukan intervensi ketika kurs melemah. Artinya, pasokan dolar darurat di dalam negeri masih tersedia untuk mengamankan stabilitas kurs.

"Ini juga fundamental yang kita gunakan untuk menjaga stabilitas dan juga memfasilitasi seluruh pembayaran luar negeri adalah cadangan devisa. Angka cadangan devisa kita terakhir 148 million dolar. Angka ini masih memenuhi 6 bulan kewajiban untuk kita melakukan pembayaran impor," papar Erwin.

Kepala Ekonom BCA David Sumual sependapat dengan Erwin. Ia mengatakan, kurs rupiah sebetulnya memang dalam posisi yang cenderung menguat. Pelemahan yang terjadi beberapa hari terakhir menurutnya lebih disebabkan sentimen risk off investor jangka pendek terhadap kondisi eksternal, yakni perang Presiden AS Donald Trump dengan Iran.

"Jadi walaupun tadi dari sisi relative strength, rupiah itu sebenarnya layak menguat, tapi ada persoalan-persoalan jangka pendek mungkin yang dilihat oleh investor terutama portfolio," kata David.

"Karena memang dalam 70 bulan berturut-turut sebenarnya kita mengalami trade surplus. Sejak Mei 2022, sejak perang Ukraina-Rusia sampai sekarang kita mengalami penguatan trade surplus kita. Di samping itu juga inflasi kita sebenarnya under control," tegasnya.

Namun, terkait kapannya rupiah bisa menguat terhadap dolar AS, David menuturkan, hanya akan terjadi bila sentimen risk off, yakni perang berakhir dan membuat pergerakan dolar kembali normalisasi atau dalam tren penurunan indeks DXY.

Sebagaimana diketahui, saat pembukaan perdagangan pasar keuangan di Indonesia kemarin, dan rupiah langsung tertekan ke level Rp17.100/US$ atau terdepresiasi sebesar 0,09% dibanding perdagangan akhir pekan lalu, DXY memang tengah mengalami penguatan hebat, hingga ke level 99,01 berdasarkan data Revinitif pukul 09.00 WIB. DXY terpantau menguat 0,37% saat itu.

"Tidak bisa misalnya kondisi dolar menguat 3%, kita menguat juga 10% misalnya, enggak bisa seperti itu. Memang kelihatannya kalau kita lihat seperti bermain surfing. gelombangnya arahnya seperti apa, ya kita bermanuver dengan gelombang yang terjadi, terutama gelombang globalnya yang belum kita pastikan arahnya ke mana," ucap David.

Selain itu, David menekankan, dalam melihat tren penguatan rupiah, juga tidak bisa hanya mengandalkan seberapa besar level penguatan yang akan dicapai. Melainkan seberapa kuat rupiah dalam meredam volatilitas atau gejolak indeks dolar AS.

"Ini sebenarnya kalau saya ngobrol-ngobrol dengan banyak pengusaha itu sebenarnya utamanya buat mereka itu bukan level atau threshold tertentu dari Rupiah. Tapi yang dilihat oleh mereka itu volatilitasnya. Kalau terlalu volatil seperti ada satu negara South Africa 4%-5% menguat atau melemah itu buat mereka malah menurunkan confidence mereka untuk mengambil keputusan bisnis," tegas David.

Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fsikal (DJSEF) Kementerian Keuangan Noor Faisal Achmad menegaskan, terkait volatilitas rupiah, sebetulnya hingga saat ini masih lebih baik dibanding negara lain. Ini disebabkan fundamental makro ekonomi Indonesia yang memang kuat untuk mendukung pertumbuhan.

Terlihat dari purchasing managers index (PMI) manufaktur yang masih di level ekspansi 50,1 pada Maret 2026, hingga pertumbuhan kredit yang masih mencapai kisaran 9,37% secara tahunan atau year on year.

"Jadi tekanan RI masih moderat dibandingkan peers. Depresiasi rupiah masih terkendali," kata Faisal dalam acara Central Banking Forum 2026 CNBC Indonesia.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, indeks volatilitas rupiah memang masih menjadi yang terendah dibanding 7 negara lain, besarannya hanya 4,75. 7 Negara itu seperti India rupee 8,92, Filipina peso 10,55, Thailand bath 12,40, Meksiko peso 13,20, Brazil real 13,69, Argentina peso 14,50, dan Afrika Selatan rand 16,34.

Depresiasi atau pelemahan kurs rupiah pun masih lebih baik dibanding banyak negara, meskipun nilainya sudah ke level Rp 17.100 per dolar AS. BI mencatat, depresiasi hingga pekan ini sejak awal tahun hanya 2,91%, padahan Korea won mencapai 2,85% terhadap dolar AS, India rupee 3,08%, dan Turki lira 3,69%.

"Jadi Indonesia kuat dibanding peers, inflasi terkendali, fiskal prudent, kita jaga defisit prudent. Rasio utang di bawah batas 60%," tutur Faisal.

(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |