Badai Data AS Mengamuk, IHSG Terancam Terseret Lebih Dalam

6 hours ago 1
  •  Pasar keuangan dalam negeri ditutup bervariasi. IHSG melemah, namun rupiah kembali ditutup perkasa
  •  Wall Street ditutup beragam, saham Nvidia jatuh
  •  Rilis klaim awal pengangguran AS hingga kenaikan tarif Trump untuk produk tertentu diperkirakan akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air ditutup dengan kondisi beragam pada perdagangan kemarin, Kamis (26/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, nilai tukar rupiah berhasil kembali menguat dari dolar Amerika Serikat (AS) dan Surat Berharga Negara (SBN) masih dibeli investor.

Pasar keuangan Tanah Air diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan hari ini, Jumat (27/2/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca di halaman 3 artikel ini.

IHSG pada perdagangan kemarin menutup perdagangan dengan pelemahan 1,04% atau turun 86,97 poin ke level 8.235,26. IHSG bahkan sempat turun hingga 2% di sesi kedua sebelum akhirnya pelemahan sedikit berkurang hingga ke level penutupan.

Sebanyak 568 saham turun, 146 lainnya naik, dan 105 saham tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin mencapai Rp28,14 triliun dengan melibatkan 56,52 miliar saham dalam 3,14 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun harus tergerus menjadi Rp14.773,31 triliun.

Sementara itu, investor asing tercatat masih terus melakukan aksi beli dengan tercatat net inflow mencapai Rp341,26 miliar. 

Merujuk data Refinitiv, seluruh sektor kompak tutup di zona merah. Penurunan paling dalam dipimpin oleh sektor industri yang terkoreksi hingga 2,24%, disusul sektor konsumer siklikal yang turun 2,11% serta sektor properti dengan pelemahan 2,09%.

Pelemahan juga terlihat pada sektor energi yang turun 2% dan sektor bahan baku dengan penurunan 1,87%.

Sementara dari sisi emiten, di tengah tekanan IHSG, ada beberapa saham yang masih menjadi penahan pelemahan. PT Telkom Indonesia Persero Tbk (TLKM) menjadi penyumbang penguatan terbesar dengan kontribusi 5,26 indeks poin. Disusul PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) yang berkontribusi 3,68 indeks poin serta PT Astra International Tbk (ASII) dengan kontribusi 3,07 indeks poin.

Namun tekanan IHSG terutama datang dari saham-saham sejumlah emiten. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi 5,11 indeks poin. Diikuti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang menjadi pemberat dengan kontribusi 5,08 indeks poin, serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dengan kontribusi 5,02 indeks poin.

Beralih ke pasar mata uang, nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin Kamis.

Melansir data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp16.750/US$ atau terapresiasi 0,18%. Penguatan ini sekaligus melanjutkan tren positif dari perdagangan sebelumnya, ketika rupiah menguat 0,21% dan ditutup di posisi Rp16.780/US$.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah konsisten berada di zona hijau. Rupiah dibuka di level Rp16.720/US$ yang sekaligus menjadi level terkuat rupiah sepanjang sesi, sebelum penguatannya sedikit menipis hingga penutupan.

Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin masih dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global. Pelemahan dolar tercermin dari turunnya DXY, yang mengindikasikan pelaku pasar melakukan aksi jual pada aset berdenominasi greenback. Kondisi ini pada gilirannya membuka ruang penguatan bagi mata uang lain, termasuk rupiah.

Sentimen global juga masih diwarnai ketidakpastian kebijakan tarif AS setelah Presiden Donald Trump kembali menegaskan komitmennya untuk menerapkan tarif dalam pidato State of the Union. Sikap tersebut membuat arah kebijakan dagang AS tetap sulit diprediksi dan menjaga volatilitas di pasar mata uang.

Dari sisi kebijakan moneter, komentar Presiden bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) negara bagian St. Louis, Alberto Musalem dinilai cenderung netral. Ia menyebut suku bunga acuan saat ini berada di sekitar level netral dan cukup tepat untuk menyeimbangkan risiko terhadap pasar tenaga kerja dan inflasi.

Pelaku pasar juga masih menempatkan peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan FOMC 17-18 Maret relatif kecil, sekitar 2%.

Pelemahnya dolar pada akhirnya menjadi sentimen positif bagi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sehingga rupiah mampu bertahan di zona penguatan hingga penutupan perdagangan.

Beralih ke pasar obligasi, SBN yang memiliki tenor 10 tahun tercatat mengalami penurunan 0,09% menjadi 6,404%.

Perlu diketahui, hubungan yield dan harga pada SBN ini berbanding terbalik, artinya ketika yield turun berarti harga obligasi naik, hal ini menunjukkan investor cenderung tengah masuk ke pasar SBN.

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |