Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
22 March 2026 20:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Operasi militer udara Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sangat bergantung pada proses pengisian bahan bakar di udara. Saat ini, tugas krusial tersebut sebagian besar dijalankan oleh armada pesawat Boeing KC-135.
Pesawat ini tergolong armada tua karena diproduksi pada rentang waktu 1950-an hingga 1960-an. Risiko dari operasi penerbangan ini terlihat pada insiden jatuhnya dua pesawat pengisi bahan bakar di atas wilayah udara Irak pada 5 Maret lalu, yang mengakibatkan hilangnya enam nyawa awak pesawat.
Meskipun pihak militer AS menyatakan insiden tersebut bukan disebabkan oleh tembakan pihak lawan, sebuah kelompok perlawanan bersenjata di Irak mengklaim bertanggung jawab, yang menunjukkan adanya risiko keamanan tambahan dalam operasi ini.
Mengandalkan Armada Lama Akibat Kendala Teknis Pesawat Baru
Pesawat KC-135 dirancang dengan kapasitas penyimpanan bahan bakar yang besar untuk mendukung pesawat tempur di udara. Secara total, pesawat ini mampu membawa sekitar 200.000 pon bahan bakar.
Penyimpanan ini didistribusikan ke berbagai kompartemen pesawat, seperti tangki utama, tangki cadangan di bagian sayap, tangki geladak atas, hingga tangki di bodi depan yang juga berfungsi sebagai pemberat untuk menjaga keseimbangan pesawat.
Saat ini, Angkatan Udara AS mengoperasikan 153 unit pesawat jenis ini, yang umumnya diawaki oleh satu pilot, satu kopilot, dan satu operator boom (pipa penyalur).
Foto: Struktur Tangki Bahan Bakar KC-135, Source: Boeing
Pemerintah AS sebenarnya sudah menyiapkan pesawat generasi baru, yakni Boeing KC-46, untuk menggantikan armada yang lama. Namun, pengiriman dan penggunaan pesawat baru ini mengalami penundaan karena sejumlah masalah teknis
Pihak militer dan Boeing harus memperbaiki masalah pada sistem boom pengisi bahan bakar dan sistem kamera pemantau yang digunakan oleh operator.
Selain itu, ditemukannya retakan pada beberapa unit pesawat baru pada tahun lalu membuat pengirimannya dihentikan sementara. Akibatnya, militer AS mau tidak mau harus terus memaksimalkan penggunaan armada KC-135 yang sudah ada.
Perubahan Rute dan Kepadatan Lalu Lintas Udara
Eskalasi konflik di Timur Tengah menyebabkan perubahan besar pada rute penerbangan armada pengisi bahan bakar ini. Sebelum operasi militer meningkat pada akhir Februari, sebagian besar pesawat KC-135 beroperasi di wilayah Amerika Serikat atau di sekitar Eropa.
Namun, catatan penerbangan menunjukkan bahwa setelah konflik pecah, banyak pesawat yang dialihtugaskan untuk terbang melintasi rute transatlantik menuju Timur Tengah.
Mobilisasi armada ke Timur Tengah ini juga memicu kepadatan lalu lintas udara di titik-titik tertentu. Data pelacakan penerbangan mencatat adanya aktivitas penerbangan yang sangat padat dari pesawat-pesawat KC-135 yang beroperasi keluar masuk wilayah udara Tel Aviv dan Bandara Ben Gurion. Hal ini mencerminkan tingginya frekuensi penerbangan pesawat penyuplai untuk mendukung operasi jet tempur AS di kawasan tersebut.
Foto: Peta Kepadatan Jalur Terbang Pesawat KC-125 di Israel
Prosedur Pengisian Bahan Bakar yang Rumit
Proses pengisian bahan bakar di udara adalah prosedur yang membutuhkan ketelitian tinggi karena dilakukan saat kedua pesawat terbang dengan kecepatan sekitar 230 mil per jam atau setara dengan lebih dari 370 km per jam.
Tahap pertama dimulai saat pesawat tempur bergerak mendekat menuju jalur pengisian bahan bakar yang sudah ditentukan. Pesawat tempur kemudian harus menempatkan posisinya tepat di belakang dan sedikit di bawah pesawat KC-135, lalu menjaga formasi terbang tersebut agar tetap stabil.
Foto: Tahap Pertemuan dan Formasi Pengisian Bahan Bakar
Setelah formasi stabil, operator di bagian belakang KC-135 akan menurunkan boom atau pipa penyalur bahan bakar. Jarak antara operator dan pesawat tempur yang menerima bahan bakar hanya sekitar 14 meter.
Tugas operator adalah mengarahkan ujung boom tersebut agar masuk dan terkunci pada lubang penerima bahan bakar di badan jet tempur. Tugas ini cukup sulit karena lubang penerima tersebut ukurannya kecil, yakni hanya memiliki lebar sekitar 7,65 sentimeter, atau kira-kira sebesar bola kasti.
Foto: Proses Kontak Pengisian Bahan Bakar Pesawat
Foto: Proses Kontak Pengisian Bahan Bakar Pesawat 2
Foto: Perbandingan Ukuran Lubang Penerima dan Bola Kasti
Begitu pipa pengisi terpasang dan terkunci dengan benar, bahan bakar akan mulai dipompa dari KC-135 ke pesawat tempur. Selama proses transfer bahan bakar yang bisa mencapai ribuan pon ini berlangsung, kedua pesawat harus terus mempertahankan kecepatan dan posisi yang stabil tanpa boleh bergeser sedikit pun.
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

6 hours ago
3
















































