Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan selisih antara kebutuhan dan produksi LPG nasional kian melebar. Pasalnya, dari kebutuhan LPG nasional yang diprediksi mencapai 10 juta ton per tahun, produksi domestik hanya mencapai 1,6 juta ton.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, lonjakan kebutuhan tersebut dipicu oleh konsumsi rumah tangga serta sektor industri.
"kita tahu bahwa LPG kita dari total konsumsi kita kan 8,6 juta. Bahkan di tahun 2026-2027 itu meningkat dengan penambahan industri daripada Lotte. Lotte itu butuh itu kurang lebih sekitar 1,5 juta ton per tahun. Jadi overall itu kita butuh sekitar 10 juta ton LPG. Nah kaitan dengan itu kita juga mencari pasar-pasar baru. Total produksi kita hanya 1,6 juta," ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jumat (17/4/2026).
Menurut Bahlil, dengan produksi hanya sekitar 1,6 juta ton, Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan LPG. Oleh sebab itu, penjajakan pembelian LPG dari Rusia menjadi hal yang cukup penting dilakukan.
Adapun, penjajakan impor LPG dari Rusia saat ini masih dalam tahap finalisasi. Pemerintah terus berupaya mempercepat proses tersebut guna mengamankan pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
"Jadi kita harus mencari pasar baru dan termasuk di Rusia. Nah Insya Allah Rusia sekarang dalam kalau untuk LPG dalam taraf finalisasi. Ya kita doakan bisa cepat selesai," kata Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa pemerintah telah mengamankan pasokan minyak mentah dari Rusia. Hal ini diungkapkan Bahlil usai rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Seperti diketahui, Bahlil telah melakukan tatap muka bersama Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev pada Selasa (15/4/2026). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut pembicaraan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin sehari sebelumnya.
Tak hanya mendapatkan pasokan minyak mentah, dari hasil pertemuan itu menurutnya Indonesia juga mendapatkan komitmen dari pihak Rusia untuk membangun infrastruktur di Indonesia untuk meningkatkan ketahanan energi.
"Alhamdulillah kemarin atas arahan Bapak Presiden sudah saya bertemu dengan Menteri Energi dan Utusan Khusus daripada Presiden Putin dan kabarnya alhamdulillah cukup menggembirakan bahwa kita akan mendapat pasokan crude dari Rusia dan juga dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita," kata Bahlil, usai rapat di Istana, Kamis (16/4/2026).
Selain itu, pihaknya juga terus melakukan komunikasi intensif terkait dengan pasokan LPG untuk Indonesia dari Rusia. Mengingat, Indonesia mengimpor LPG sekitar 7 juta ton setiap tahun.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

4 hours ago
7
















































