Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dikhawatirkan bisa membuat perusahaan perangkat lunak (software) tak relevan lagi, bahkan terancam bangkrut.
Kekhawatiran ini kian meluas lantaran pernyataan kontroversial CEO Anthropic, Dario Amodei, yang mengatakan AI sudah bisa menggantikan pekerjaan software engineer, bahkan juga fungsi-fungsi software yang ada saat ini.
Tak tanggung-tanggung, hal ini langsung membuat pasar saham software rontok berjamaah beberapa saat lalu. Namun, kekhawatiran itu ditepis CEO Nvidia, Jensen Huang.
"Saya rasa pasar telah salah menilai," ucap pria dengan kekayaan Rp2.500 triliun, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (27/2/2026).
Menurutnya, sebagian besar perusahaan akan menggunakan AI berbasis agen. Tujuannya untuk mengembangkan software sendiri dan meningkatkan efisiensi.
Ia menekankan bahwa agen AI tidak akan menggantikan software, melainkan akan memperkuat fungsinya. "Itu mengapa kami mengatakan agen adalah pengguna alat," ucapnya.
Contoh alat yang akan digunakan oleh agen AI adalah browser dan Microsoft Excel. Dia mengklaim penggunaannya akan membuat manusia lebih produktif lagi.
"Pada akhirnya kita membutuhkan alat menyelesaikan pekerjaan mereka dan menyajikan informasi kembali dengan cara yang bisa dipahami," kata Huang.
Di sisi lain, sejumlah investor mulai menyuarakan kekhawatiran lonjakan pengeluaran untuk investasi AI. Mereka menyoroti kemungkinan munculkan 'AI bubbles' yang bisa meledak sewaktu-waktu.
Sementara itu, saham penyedia layanan software terus mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pandangan soal hal tersebut dan fundamental alasan aksi jual terbagi menjadi dua bagian.
Dan Niles selaku pendiri dan manajer portofoilio Nile Investment Management mengingatkan tidak semua perusahaan bakal lolos dari ancaman AI.
Pasalnya, ia mengatakan AI akan mengotomatisasi alur kerja, menekan harga, hingga menurunkan hambatan untuk pesaing baru saat memasuki pasar.
Di sisi perusahaan software, menurutnya kemungkinan memang akan ada yang bangkrut. Untuk pemain paling tangguh, dia memperkirakan berasal dari sektor basis data dan keamanan siber.
"Ada beberapa perusahaan software yang akan bangkrut," kata Niles.
(fab/fab)
Addsource on Google

21 hours ago
3
















































