Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Thailand mulai melibatkan para konglomerat dan miliarder untuk menahan lonjakan biaya hidup yang dirasakan masyarakat. Langkah ini menegaskan besarnya peran kelompok bisnis besar dalam perekonomian negara tersebut.
Sejumlah ritel besar yang dikendalikan para taipan seperti Charoen Sirivadhanabhakdi, keluarga Chearavanont, dan keluarga Chirathivat sepakat menjual produk kebutuhan pokok dengan diskon besar. Barang seperti makanan, produk kebersihan, hingga kebutuhan sehari-hari dijual dengan potongan harga 25% hingga 50%.
Program ini merupakan bagian dari kampanye pemerintah bertajuk "Thais Helping Thais" atau "Warga Thailand Saling Membantu" yang resmi diluncurkan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul pada 1 April.
Beberapa perusahaan besar yang ikut dalam program ini antara lain CP All dan CP Axtra milik Dhanin Chearavanont, Central Retail Corp milik keluarga Chirathivat, serta Berli Jucker milik Charoen.
"Ini adalah langkah penting dalam kerja sama antara sektor publik dan swasta. Yang pasti, konsumen akan bisa menghemat uang," ujar Anutin dikutip dari Strait Times, Kamis (2/4/2026).
Pemerintah Thailand dalam beberapa pekan terakhir memang berupaya melindungi daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga, tanpa membebani anggaran negara yang sudah tertekan. Meski pemerintah masih mengontrol harga puluhan barang penting, lonjakan biaya energi dan produksi tetap mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok seperti daging babi dan telur.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar juga semakin menekan pendapatan rumah tangga, terutama saat pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat akibat melemahnya sektor pariwisata dan ekspor seiring perlambatan permintaan global. Langkah pemerintah menggandeng korporasi besar ini juga menyoroti struktur ekonomi Thailand yang sangat dipengaruhi oleh segelintir konglomerat.
Di satu sisi, kolaborasi ini bisa memberikan bantuan cepat di saat krisis. Namun di sisi lain, para ekonom menilai kondisi ini memperkuat dominasi pasar oleh kelompok besar dan berpotensi memperlebar kesenjangan.
Data Bank Dunia menunjukkan 10% orang terkaya di Thailand menguasai sekitar setengah total pendapatan nasional, salah satu yang tertinggi di dunia. Strategi ini bukan hal baru. Saat pandemi Covid-19, perusahaan besar di Thailand juga berperan penting dalam distribusi vaksin, termasuk menyediakan fasilitas dan dukungan logistik.
Dalam implementasinya, ribuan toko grosir, supermarket, dan minimarket kini memasang label diskon mencolok seperti "diskon 50%" untuk menarik konsumen membeli produk dengan harga lebih terjangkau.
Meski inflasi Thailand sempat berada di zona negatif selama 11 bulan terakhir, kenaikan biaya energi diperkirakan akan mendorong inflasi kembali ke kisaran target bank sentral sebesar 1% hingga 3% mulai 2026.
Secara terpisah, kelompok bisnis terbesar di Thailand juga menaikkan proyeksi inflasi menjadi 2% hingga 3% dari sebelumnya 0,2% hingga 0,7%. Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 justru diturunkan menjadi 1,2% hingga 1,6%, dari sebelumnya 1,6% hingga 2%.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

4 hours ago
4
















































