Bukan Rp12.300/Liter, Ternyata Segini Harga Asli BBM Pertamax

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin Pertamax (RON 92) yang saat ini ditahan Rp12.300 per liter ternyata masih berada di bawah harga keekonomiannya.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memperkirakan harga keekonomian BBM non subsidi untuk Pertamax berada di level Rp18.740 per liter. Sementara itu, untuk Pertamina Dex diperkirakan mencapai Rp25.560 per liter.

Dengan demikian, terdapat selisih yang cukup signifikan antara harga jual dan harga keekonomian. Untuk Pertamax, selisihnya mencapai sekitar Rp6.440 per liter, sedangkan Pertamina Dex mencapai Rp11.060 per liter.

"Harga keekonomian BBM non subsidi di level Rp18.740 per liter untuk RON 92. Sementara Pertamina Dex di Rp25.560 per liter. Selisihnya berarti pemerintah tanggung kompensasi RON 92 sebesar Rp6.440 per liter dan Dex Rp11.060 per liternya," kata Bhima kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/3/2026).

Bhima menilai, selisih tersebut pada akhirnya berpotensi masuk ke dalam skema kompensasi pemerintah. Kondisi ini berisiko menambah tekanan terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"Purbaya bilang bengkak Rp100 triliun subsidi energi, tapi ditambah kompensasi BBM non subsidi, diperkirakan kebutuhan (subsidi) di atas Rp130-150 triliun," ujarnya.

Terpisah, Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa harga keekonomian BBM Pertamax sejatinya sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni harga minyak global dan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menurut dia, dengan harga minyak dunia yang masih berada di kisaran US$80-90 per barel, serta nilai tukar rupiah di atas Rp15.500 per dolar AS, harga keekonomian Pertamax saat ini diperkirakan berada di rentang Rp14.500 hingga Rp15.500 per liter.

"Dengan kondisi sekarang harga minyak masih relatif tinggi di kisaran 80-90 dolar AS per barel dan rupiah di atas Rp15.500, maka secara kasar harga keekonomian Pertamax itu ada di rentang Rp14.500 sampai Rp15.500 per liter," ucap Yusuf.

Sementara itu, harga jual produk BBM Pertamax milik PT Pertamina (Persero) saat ini masih dibanderol Rp12.300 per liter. Artinya, terdapat selisih sekitar Rp2.200 hingga Rp3.200 per liter dibandingkan harga keekonomiannya.

Menurut dia, selisih ini pada dasarnya tidak hilang, tapi berpindah menjadi beban. Dalam jangka pendek biasanya ditahan oleh badan usaha.

"Dalam hal ini margin Pertamina yang tertekan dan kalau gapnya makin besar atau berlangsung lama, pada akhirnya berpotensi masuk sebagai beban fiskal melalui skema kompensasi," katanya.

Ia menjelaskan bahwa di situlah letak dilema kebijakan, di mana penahanan harga memang membantu menjaga daya beli dan menahan inflasi, terutama di tengah ketidakpastian global, namun jika berlangsung terlalu lama, risikonya akan mulai menumpuk.

Tak hanya Pertamina, sejumlah operator SPBU swasta, seperti BP-AKR, hingga PT Vivo Energy Indonesia juga masih menahan harga jual BBM non subsidi hingga 2 April 2026 ini. Biasanya, harga BBM non subsidi biasa dilakukan penyesuaian pada tanggal 1 setiap bulannya, dengan mempertimbangkan fluktuasi harga minyak, kurs, dan Mean of Platts Singapore (MOPS).

Sebagai contoh, badan usaha swasta seperti BP misalnya untuk BP 92 terpantau masih ditahan di level Rp12.390 per liter, sama seperti periode Maret 2026. Begitu juga dengan produk BBM Vivo yakni Revvo 92 yang terpantau masih dijaga di level Rp12.390 per liter.

(wia)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |