Cetak Laba Puluhan Triliun, Ini Mesin Bisnis Baru BRI Group

4 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Dari tahun ke tahun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berhasil mencatatkan kinerja apik dan laba yang solid. Dalam 10 tahun terakhir, BRI secara konsisten mencatatkan peningkatan laba, dari Rp 25,4 triliun pada 2015 menjadi Rp 57,13 triliun pada 2025.

Untuk menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, BRI pun melakukan transformasi melalui Brivolution Reignite. Langkah ini menegaskan kemampuan BRI menjalankan semua lini bisnisnya dengan apik dan berkelanjutan.

Transformasi ini mencakup penguatan perolehan dana murah (CASA), meningkatkan kapabilitas transaksi BRI, memperkuat bisnis mikro, hingga akselerasi sumber pertumbuhan baru.

BRIVolution Reignite menegaskan fokus BRI pada penguatan struktur pendanaan, percepatan digitalisasi, peningkatan produktivitas, serta pengembangan bisnis inti dan bisnis baru yang berkelanjutan. Seluruh agenda tersebut dijalankan dengan orientasi customer-centric, sekaligus memperkuat peran BRI sebagai bank yang melayani seluruh segmen.

Pengamat Perbankan, Moch Amin Nurdin menilai arah mesin pertumbuhan baru BRI cukup prospektif, sehingga tidak hanya mengandalkan segmen UMKM melainkan menuju sumber pendapatan yang lebih kuat dan berimbang.

Dengan mesin pertumbuhan baru ini, BRI akan fokus pada peningkatan penetrasi segmen konsumer, emas, dan penguatan produk serta value chain di segmen komersial dan korporasi. Amin menilai BRI telah memiliki 'modal' penting dalam menjalankan 'mesin' barunya, yakni basis nasabah yang luas serta ekosistem yang mumpuni.

Kuatnya basis nasabah ritel dapat menjadi kekuatan untuk penetrasi segmen konsumer, seperti payroll loan, KPR, hingga kredit kendaraan bermotor. Pendekatan value chain di segmen komersial dan korporasi juga meningkatkan cross-selling dan kualitas pembiayaan. Kemudian transformasi digital yang gencar dilakukan dapat memperluas akses dan efisiensi operasional.

"Dengan kombinasi tersebut, mesin baru ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan jangka menengah dan panjang, bukan sekadar ekspansi jangka pendek. Ini merupakan bagian strategi yang sangat baik dalam mendorong pertumbuhan pendapatan Bank BRI, sebagai Bank terbesar di Indonesia saat ini," kata Amin kepada CNBC Indonesia, belum lama ini.

Salah satu lini bisnis yang digenjot adalah emas, melalui pendekatan digital bersama entitas anak, yakni Pegadaian. Melalui Holding Ultra Mikro, BRI pun mampu menjangkau masyarakat lebih luas. Bisnis emas pun semakin kinclong dengan kehadiran izin bullion bank yang dimandatkan pada Pegadaian. Hingga Oktober 2025, jumlah emas yang telah dihimpun oleh Pegadaian mencapai 129 ton.

Amin menilai pengembangan bisnis emas tidak kalah penting, karena memiliki prospek yang menjanjikan sebagai sumber pendapatan baru. Apalagi kehadiran bullion bank juga disebut menjadi babak baru dalam pengelolaan emas di Tanah Air, sekaligus meningkatkan nilai tambah pada perekonomian negara.

"Permintaan emas yang tinggi dan cenderung defensif sebagai instrumen investasi. Kemudian penguatan ekosistem nasional bullion dari hulu hingga hilir dan integrasi dengan Pegadaian dan kanal digital yang memperluas akses nasabah," tukas Amin.

Secara industri jumlah nasabah dan volume tabungan emas menunjukkan pertumbuhan signifikan, dan mencerminkan potensi monetisasi yang besar. Dengan model bisnis yang mencakup tabungan, pembiayaan, hingga perdagangan emas, bullion bank bisa menjadi sumber fee based income dan likuiditas alternatif bagi BRI.

Tidak hanya itu, anak-anak usaha BRI lainnya pun memegang peran penting dalam keberlanjutan. Amin menyebutkan sinergi Holding Ultra Mikro (UMi) yang memperluas jangkauan nasabah dan memperkuat ekosistem pembiayaan, kemudian Pegadaian yang berperan penting dalam bisnis emas sebagai mesin baru, dan BRI Finance dan entitas lainnya dalam memperkuat segmen konsumer dan joint financing.

Sepanjang 2025, anak-anak usaha BRI pun mencatatkan kinerja apik dengan total laba bersih tumbuh 16,1% menjadi Rp 10,37 triliun, dan berkontribusi 19,4% terhadap total laba konsolidasi induk.

Kontribusi anak-anak usaha BRI tercatat meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2024, tercatat kontribusi anak usaha hanya 14,7% dengan total laba Rp 8,93 triliun, yang kemudian meningkat menjadi hampir 20% pada 2025. Sementara dari sisi total aset anak usaha juga tercatat meningkat 23,4% dari Rp 215,5triliunpada 2024, menjadi Rp 267 triliun pada 2025.

Sepuluh anak usaha BRI itu adalah PT Pegadaian yang bergerak di industri pegadaian, emas, dan pembiayaan mikro, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bergerak di pembiayaan ultramikro, PT Asuransi BRI Life (BRI Life) bergerak di industri asuransi jiwa. Kemudian PT BRI Asuransi Indonesia (BRI Insurance) bergerak di asuransi umum, bank digital PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO), BRI Finance bergerak di industri pembiayaan.

Lalu PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) bergerak di pasar modal dan investasi, manajer investasi PT BRI Management Investasi (BRI-MI), modal ventura BRI Ventures (BVI), dan BRI Global Financial Services Co. Ltd yang bergerak di industri remitansi dan pembiayaan.

"New growth engine Bank BRI dinilai prospektif, dengan bullion bank dan segmen konsumer sebagai katalis utama, sementara sinergi anak usaha menjadi faktor kunci dalam menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dan terdiversifikasi," sambung Amin.

Kemampuan untuk mencetak cuan tidak hanya dari pembiayaan UMKM tersebut tentu menjadi nilai tambah bagi fundamental bisnis BBRI di mata investor. Apalagi baru-baru ini bank yang dinakhodai HerGunardi tersebut memutuskan untuk memberikan dividen sebesar 92%dari perolehan laba bersih.

(rah/bul)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |