Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
13 March 2026 20:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Narasi hubungan bilateral antara China dan Irap sudah berlangsung berabad-abad dengan goresan sejarah panjang interaksi yang bersahabat dan kooperatif.
Berdasarkan analisis dari John W. Garver, pakar hubungan internasional dari Georgia Institute of Technology, kemitraan antara China dan Iran (Persia) telah terjalin selama kurang lebih 20 abad.
Rekam jejak historis ini tidak hanya mencakup perdagangan dan budaya, tetapi juga turut membentuk fondasi sikap kedua negara terhadap dominasi Barat di era modern.
Awal Mula Interaksi Melalui Jalur Sutra
Kontak antara Dinasti Han di China dan Kekaisaran Parthia di Persia tercatat dimulai pada tahun 139 Sebelum Masehi (SM). Pada masa itu, utusan China bernama Zhang Qian melakukan perjalanan ke wilayah barat, tepatnya ke tepi utara Sungai Oxus (kini Sungai Amu Darya), untuk mencari sekutu guna menghadapi ancaman suku Xiongnu.
Meskipun Zhang Qian tidak mencapai wilayah Parthia secara langsung, ia berhasil membawa informasi strategis mengenai kekaisaran tersebut kepada istana Han di Changan.
Peristiwa tersebut memicu intensitas aktivitas diplomatik dan pengembangan jalur perdagangan antara kedua kekaisaran, yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutra.
Pada periode pra-Islam, pedagang Persia memainkan peran utama dalam mengorganisasi jalur niaga antara China dan wilayah barat, yang ditandai dengan menetapnya banyak warga Persia di wilayah Guangzhou dan Hanoi (yang saat itu bagian dari kekaisaran China).
Foto: Jalur Sutra. (Dok. Malang International School)
Era Keemasan Pertukaran Budaya dan Komoditas
Selain perdagangan komoditas, interaksi ini memfasilitasi pertukaran budaya dan sistem kepercayaan. Kerajaan Kushan yang memiliki pengaruh Persia kuat menjadi pusat penyebaran agama Buddha ke China pada abad ke-2 hingga ke-4 Masehi.
Pengaruh Persia lainnya seperti Zoroastrianisme dan Kekristenan Nestorian juga masuk ke China pada abad ke-6 dan ke-7.
Pada masa Dinasti Tang, pengaruh budaya Persia di China semakin meluas, mencakup literatur puisi, olahraga polo, hingga inovasi kuliner.
Di sektor ekonomi, perdagangan porselen China yang diekspor secara masif ke wilayah Timur Dekat sejak abad ke-9 menjadi elemen utama dalam sistem ekonomi global saat itu. Tingginya permintaan bahkan mendorong pengembangan industri porselen di Persia.
Hubungan kedua wilayah semakin terintegrasi pasca-penaklukan Mongol pada abad ke-13, yang memicu pertukaran tenaga ahli antara Dinasti Yuan di China dan Il-Khanate di Persia.
Ilmu pengetahuan seperti astronomi, teknologi pencetakan, dan uang kertas dari China ditransmisikan ke Persia. Sebaliknya, ilmu matematika, pengobatan, dan farmakologi dari wilayah Persia dan Arab diperkenalkan ke China.
Pigmen biru kobalt dari Timur Dekat juga menjadi bahan dasar pembuatan porselen biru-putih khas China pada masa Dinasti Ming.
Foto: Guci "Naga" biru dan putih kekaisaran, yang berasal dari Dinasti Ming, dijual seharga $13,7 juta. (Foto:Sotheby)
Makna Geopolitik Terhadap Hegemoni Barat
Catatan sejarah mengenai interaksi pra-modern ini kini memiliki peran strategis dalam kerangka ideologi nasionalis di kedua negara.
Pertama, sejarah tersebut digunakan untuk menegaskan pencapaian peradaban China dan Persia, memberikan pandangan bahwa peradaban mereka sejajar dan tidak berada di bawah supremasi peradaban Barat.
Kedua, narasi kerja sama historis ini membentuk pandangan bahwa kemitraan China-Iran bersifat natural dan positif. Dalam perspektif kedua negara, kerusakan hubungan damai di masa lalu dipandang sebagai akibat dari intervensi imperialisme, dan keberatan negara-negara Barat terhadap hubungan Sino-Iran saat ini sering kali dianggap sebagai sisa-sisa dari sikap superioritas masa lalu.
Ketiga, penekanan pada sifat non-militer dalam interaksi sejarah kedua negara secara implisit digunakan untuk menunjukkan posisi moral yang berbeda dibandingkan dengan sejarah ekspansi kekuatan Barat.
Hal ini sekaligus menegaskan pandangan bahwa tidak ada benturan kepentingan yang mendasar antara China dan Iran untuk terus bekerja sama.
Foto: Yin Yang. (Dok. Freepik)
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

2 hours ago
2















































