Dapat Pesan dari Israel, Presiden RI Ini Beri Balasan Begini

2 hours ago 1
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Tak banyak yang tahu, Israel ternyata pernah berulang kali mengirim surat dan pesan khusus kepada Presiden Indonesia. Namun, seluruh upaya tersebut diabaikan oleh presiden dan lingkar kekuasaannya karena Indonesia sejak awal memegang prinsip kuat untuk berpihak pada Palestina.

Kisah ini terjadi pada masa-masa awal Indonesia merdeka. Sebagai negara baru yang lahir dari perjuangan panjang melawan kolonialisme, pengakuan kedaulatan dari negara lain menjadi fondasi penting bagi eksistensi Indonesia di panggung internasional. Salah satu negara terawal yang mengakui adalah Israel. 

Namun, sejak Israel berdiri pada 1948, sikap Indonesia terhadap negara tersebut sebenarnya sudah jelas dan konsisten, yakni menentangnya. Penolakan ini bukan sekadar pilihan politik luar negeri, tetapi berakar pada prinsip ideologis yang tertanam dalam Pembukaan UUD 1945.

"Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," tulis Pembukaan UUD 1945.

Dengan demikian, eksistensi Israel yang menjajah Palestina tidak bisa diakui. Meski demikian, Israel tetap mencoba membuka jalur diplomasi.

Dalam riset "Indonesia and Israel: A Relationship in Waiting" (2005), Greg Barton dan Colin Rubenstein mengungkap, pada Desember 1949, Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri David Ben-Gurion mengirim telegram kepada Presiden ke-1 RI Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Telegram itu berisi ucapan selamat atas keberhasilan Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan dari Belanda pada 27 Desember 1949.

Namun, pesan tersebut tidak mendapat tanggapan resmi dari pemerintah Indonesia. Tak menyerah, Israel kembali mengirimkan pesan. Kali ini secara eksplisit menyatakan pengakuan kedaulatan penuh terhadap Indonesia.

Pesan itu akhirnya dibalas oleh Mohammad Hatta. Dia menyampaikan terima kasih, tetapi secara tegas tidak memberikan sikap timbal balik berupa pengakuan diplomatik terhadap Israel.

"Hatta merespons surat Israel dengan terima kasih, tapi tidak mau menjalin hubungan diplomasi," tulis mereka.

Upaya Israel tidak berhenti di situ. Pada Mei 1950, pemerintah Israel kembali mengirim surat berisi tawaran bantuan kepada Indonesia yang tengah membangun roda pemerintahan pasca-perang. Namun, pesan tersebut kembali diabaikan. 

Semua ini dilakukan untuk memperoleh pengakuan resmi dari Indonesia sekaligus membuka hubungan diplomatik. Tetapi Indonesia tetap menolak mengakui Israel dan tidak membuka kerja sama apa pun.

Seiring waktu, sikap ini justru semakin mengeras. Indonesia di bawah Soekarno makin kuat melakukan perlawanan. Menurut riset "Indonesia and Israel: A Relationship in Waiting" (2005), tanda awal kebijakan pro-Arab dan anti-Israel muncul pada Juni 1952. Ketika itu, pers Arab melaporkan pemerintah Indonesia tidak berniat mengakui Israel.

Alasannya, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam serta adanya dukungan besar negara-negara Arab dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Garis politik tersebut kemudian tercermin dalam kebijakan konkret. Dalam Konferensi Asia Afrika 1955, Indonesia tidak mengundang Israel dan justru melibatkan Palestina. Pada Asian Games 1962, pemerintah Indonesia juga menolak kehadiran delegasi Israel di Jakarta.

Sampai sekarang, Indonesia tidak pernah menjalani hubungan diplomatik dengan negara zionis tersebut. 

(mfa/luc)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |