loading...
Keabadian pesantren bukanlah takdir, melainkan hasil dari ikhtiar kolektif yang disengaja. Foto/Universitas Darunnajah Jakarta.
Hadiyanto Arief & Muhammad Irfanudin Kurniawan, Dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
Di balik ribuan pesantren yang berdiri kokoh di Nusantara, tersimpan sebuah pertanyaan mendasar yaitu bagaimana lembaga pendidikan Islam tertua ini bisa bertahan dan berkembang, bukan hanya untuk satu generasi pendiri, tetapi untuk ratusan tahun ke depan?
Dalam euforia pertumbuhan jumlah pesantren yang kini mencapai lebih dari 42.000 lembaga, tantangan krusial justru terletak pada keberlanjutan (sustainability) dan keabadian (longevity)-nya. Banyak pesantren lahir dari karisma seorang kiai, namun hanya sedikit yang berhasil membangun sistem yang mampu hidup melampaui sang pendiri.
Menjawab tantangan ini memerlukan pergeseran paradigma dari sekadar bertahan menjadi berkembang dan berkelanjutan. Kerangka pikir “Golden Circle” (Mengapa, Bagaimana, Apa) yang diperkenalkan Simon Sinek, jika diterapkan pada ekosistem pesantren, dapat menjadi peta jalan menuju keabadian tersebut.
Misi yang Melampaui Individu
Alasan terdalam mengapa pesantren harus abadi bukanlah soal kelembagaan semata, melainkan soal amanah peradaban. Pesantren hadir untuk menjawab panggilan Ilahi dalam mencerdaskan umat, melestarikan khazanah keilmuan Islam dengan sanad yang terjaga, dan menjadi penjaga nilai-nilai moderat serta rahmatan lil ‘alamin. Ia adalah “organisme yang terus belajar, bertahan, menyesuaikan diri dan mendorong perubahan”. Misi ini terlalu besar dan penting untuk bergantung pada satu figur. Keabadian pesantren adalah syarat mutlak agar misi mulia ini tidak terputus oleh zaman dan pergantian generasi.
Untuk mewujudkan keabadian tersebut, pesantren perlu membangun "how" yaitu cara atau sistem pengelolaan yang kokoh namun lentur. Kuncinya ada pada transisi dari kepemimpinan personal menuju kepemimpinan sistem. Dalam hal ini ada beberapa yang perlu dipertegas:
Pertama, Manajemen Bernilai, Bukan Sekadar Administrasi, tata kelola pesantren jangan sampai kehilangan ruhnya. Setiap elemen, dari kurikulum, pengasuhan, hingga keuangan harus dijalankan dengan kesadaran bahwa mengelola pesantren adalah ibadah dan amanah. Sistem ini harus memastikan bahwa nilai-nilai Islam menjadi jantung dalam setiap keputusan operasional.


















































