Darurat Klakson India: Jalanan Bising, Kesehatan dan Ekonomi Jadi Korban

1 hour ago 1

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

25 April 2026 17:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebisingan lalu lintas di kota-kota India bukan lagi sekadar gangguan kenyamanan, melainkan telah berkembang menjadi ancaman kesehatan publik yang serius.

Di tengah budaya berkendara yang menjadikan klakson sebagai alat komunikasi utama, paparan suara ekstrim terjadi secara terus-menerus dan berisiko menimbulkan dampak jangka panjang yang sering kali tidak disadari.

Tingkat Kebisingan Melampaui Batas Aman

Berdasarkan data PBB, kota-kota India termasuk yang paling bising di dunia. Di kawasan padat seperti Chandni Chowk, Delhi, tingkat kebisingan jalanan rata-rata mencapai sekitar 75 desibel, jauh melampaui batas aman yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO).

Tingkat kebisingan kotaFoto: Economist

Bahkan, di beberapa kota besar lainnya, suara dapat menembus lebih dari 100 desibel. Kondisi ini menjadikan India sebagai salah satu negara dengan tingkat kebisingan urban tertinggi di dunia, dengan implikasi langsung terhadap kesehatan masyarakat.

Sekitar 75% kebisingan di wilayah perkotaan berasal dari lalu lintas yang tidak terkelola dengan baik. Klakson digunakan bukan hanya sebagai alat peringatan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi di jalan, untuk memberi tanda belok, menegur pengemudi lambat, atau sekadar menunjukkan keberadaan..

Praktik ini diperkuat oleh kebiasaan yang telah mengakar, bahkan diakomodasi oleh produsen otomotif seperti Mercedes-Benz, yang menyesuaikan spesifikasi klakson kendaraannya khusus untuk pasar India agar lebih tahan terhadap pemakaian yang jauh lebih intensif.

Sementara itu, pengawasan oleh Central Pollution Control Board masih terbatas, sehingga upaya pengendalian kebisingan belum berjalan optimal.

Dampak Kesehatan

Paparan kebisingan berkepanjangan telah dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, seperti,

Usulan Solusi

Sejumlah solusi mulai dikaji, mulai dari pendekatan teknis hingga perubahan perilaku. Usulan Menteri Transportasi Nitin Gadkari untuk mengganti suara klakson dengan bunyi alat musik tradisional seperti tabla dan seruling mencerminkan urgensi masalah, meski dinilai bukan solusi struktural.

Namun, pendekatan edukasi dinilai lebih efektif dalam jangka panjang. Eksperimen berbasis behavioral science menunjukkan bahwa intervensi sederhana berupa perangkat yang mengingatkan pengemudi setiap kali membunyikan klakson berhasil menurunkan kebiasaan tersebut hingga 61% dalam enam bulan.

Pengalaman China juga patut dijadikan contoh, dengan mengkombinasikan infrastruktur peredam suara, permukaan jalan yang menyerap kebisingan, penyebaran kendaraan listrik, dan kampanye kesadaran yang dipimpin negara berhasil membuat kota-kotanya jauh lebih tenang.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |