Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
31 March 2026 20:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menekan Iran justru dinilai memperlihatkan diplomasi yang lemah, mahal, dan makin sulit dipercaya, baik di luar negeri maupun di dalam negeri.
Jika bicara soal menghadapi Iran, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump versi 1987 sebenarnya pernah memberi nasihat yang cukup berguna kepada Donald Trump hari ini.
Dalam buku The Art of the Deal, yang dikutip dari The Economist, Trump pernah memperingatkan bahwa hal terburuk dalam sebuah negosiasi adalah terlihat terlalu ingin mencapai kesepakatan. Jika itu terjadi, lawan akan mencium kelemahan, dan posisi kita akan habis.
Masalahnya, Presiden Trump saat ini justru terlihat tidak mengikuti nasihat dari dirinya yang lebih muda itu. Sejak Iran menutup Selat Hormuz dan mengguncang perekonomian global, Trump menunjukkan beberapa tanda bahwa dia sangat ingin segera mencapai kesepakatan.
Harga minyak melonjak, pasar saham melemah, dan perang Teluk versi Trump juga menghadapi perlawanan di dalam negeri. Pada 28 Maret lalu, masyarakat AS marah dan turun ke jalan di ribuan kota di Amerika Serikat. Mereka memprotes presidennya yang dianggap bergaya seperti raja, serta harga bensin yang terus naik.
Karena ingin menenangkan pasar, pada 30 Maret Trump mengatakan bahwa dia telah membuat "kemajuan besar" menuju kesepakatan dengan rezim baru Iran yang disebutnya lebih masuk akal.
Pada saat yang sama, Trump juga mengancam bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, Amerika akan menghancurkan pembangkit listrik Iran, fasilitas minyaknya, dan mungkin juga instalasi desalinasi airnya.
Sikap seperti ini bukan hal baru. Sebelumnya, Trump beberapa kali melontarkan ancaman keras pada Sabtu lalu, ketika pasar sedang tutup, lalu menarik kembali ancaman itu sesaat sebelum pasar dibuka. Dia juga dua kali secara sepihak menunda tenggat bagi Iran untuk menerima syarat-syaratnya atau menghadapi pemboman pembangkit listrik, dari awalnya 48 jam menjadi satu minggu, lalu lebih dari dua minggu.
Iran tampaknya melihat kelemahan itu. Menyadari bahwa Trump takut terhadap gangguan ekonomi, dan bahwa serangan drone murah serta ancaman yang lebih murah lagi bisa menimbulkan dampak besar, rezim Iran terus melanjutkan serangan dan ancamannya. Iran hanya mengizinkan sedikit kapal tanker melewati Selat Hormuz, dan kadang dilaporkan mengenakan biaya US$2 juta per kapal.
Pada Jumat alu (27/3/2026), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan mengeluhkan bahwa para pemimpin Iran "mungkin memutuskan ingin membuat sistem tol di Selat".
Naysan Rafati dari lembaga pemikir International Crisis Group menyebut strategi ini sebagai Ayatollbooth, permainan kata yang merujuk pada ayatollah dan gerbang tol. Strategi ini melanggar norma global tentang kebebasan navigasi, dan bisa ditiru negara-negara lain yang sedang berkonflik.
Meski begitu, Trump tetap terdengar optimistis. Pada 29 Maret, dia mengatakan kepada wartawan bahwa Iran akan mengizinkan 20 kapal lagi melintas di selat sebagai "tanda hormat".
Ada satu nasihat lain dalam buku Trump, yakni "kendalikan biaya". Trump muda menulis bahwa seseorang boleh saja punya mimpi besar, tetapi semua itu tidak akan berarti jika tidak bisa diwujudkan dengan biaya yang masuk akal.
Namun Trump sebagai panglima tertinggi tampaknya juga mengabaikan nasihat ini. Dia semula mengharapkan kemenangan cepat, tetapi perang kini sudah masuk minggu kelima. Perang ini diperkirakan sudah menghabiskan biaya militer langsung bagi Amerika sebesar US$25 miliar, dan Pentagon kini meminta tambahan US$200 miliar lagi.
Biaya tidak langsungnya kemungkinan jauh lebih besar. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan bahwa jika perang berlangsung lama, konflik ini bisa memangkas 0,5% produk domestik bruto atau GDP global tahun depan dan menambah inflasi sebesar 0,9 poin persentase. Perang ini juga bisa memperburuk kelaparan global karena mengganggu pasokan pupuk.
Semua itu membuat sekutu Amerika semakin menjauh dan ikut menekan angka dukungan Trump.
Survei YouGov yang dilansir dari The Economist menunjukkan tingkat persetujuan bersih terhadap Trump berada di minus 18% pada 23 Maret 2026. Colin Dueck dari lembaga pemikir konservatif American Enterprise Institute mengatakan Iran kini bukan lagi sekadar persoalan kebijakan luar negeri yang jauh dan abstrak. Menurut dia, isu Iran sudah menjadi persoalan isi dompet, dan itu adalah sesuatu yang dipahami pemilih.
Lalu bagaimana Trump bisa terjebak dalam situasi ini? Buku The Art of the Deal menggambarkannya sebagai campuran antara agresi yang penuh dendam dan optimisme yang sempit. Di sana tertulis bahwa jika seseorang berbuat salah kepada kita, maka kita harus melawan dengan sangat keras.
Risikonya memang bisa membuat situasi buruk menjadi lebih buruk, tetapi, menurut buku itu, biasanya pada akhirnya semuanya akan berujung baik.
Presiden Trump sejauh ini memang konsisten mengikuti nasihat itu. Dalam beberapa kasus, strategi itu berhasil. Tidak ada satu pun tentara Amerika yang tewas ketika dia mengirim pasukan khusus untuk menangkap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, lalu memasang pengganti yang dianggap lebih mudah diarahkan.
Namun di Iran, hasilnya berbeda. Sejauh ini perang hanya memberikan sedikit manfaat selain menghancurkan sebagian besar persenjataan konvensional Iran. Rezim Iran masih memiliki cadangan uranium dengan pengayaan tinggi, dan sekarang justru punya alasan yang lebih kuat untuk membangun bom nuklir.
Jeanne Shaheen, senator Demokrat dari New Hampshire, mengatakan para pemimpin Iran kemungkinan kini menyimpulkan bahwa mereka akan lebih baik jika memiliki senjata nuklir, karena dengan begitu mungkin Amerika akan memperlakukan mereka seperti perlakuannya terhadap Vladimir Putin.
Pada 27 Maret, pasukan marinir ekspedisioner Amerika tiba di kawasan Teluk, yang menunjukkan bahwa Trump mungkin sekali lagi akan memilih untuk "melawan dengan sangat keras". Thomas Wright, mantan anggota Dewan Keamanan Nasional Presiden Joe Biden, memperkirakan bahwa jika Trump tetap bertahan, maka dia akan meningkatkan eskalasi.
Itu bisa berarti merebut terminal minyak Iran di Pulau Kharg, mencoba membersihkan wilayah pesisir dari pasukan Iran yang mengancam kapal-kapal, atau bahkan melakukan serangan jauh ke wilayah Iran untuk merebut cadangan uranium negara itu.
Masalahnya, para pemilih AS menilai langkah seperti itu justru akan membuat situasi buruk menjadi lebih buruk. Sebanyak 62% menolak perang darat, dan hanya 12% yang mendukungnya. Bahkan kalangan Trumpis pun mulai gelisah.
Matt Gaetz, mantan calon jaksa agung pilihan Trump, mengatakan dalam konferensi pro-Trump CPAC di Texas bahwa invasi darat ke Iran akan membuat Amerika lebih miskin dan kurang aman.
Thomas Wright menilai negosiasi saat ini antara Iran dan Amerika, yang dilakukan lewat pihak perantara, pada akhirnya "ditakdirkan gagal". Salah satu hambatan utamanya adalah tidak adanya kepercayaan sama sekali.
Dalam bukunya, Trump sendiri mengakui bahwa cara bernegosiasinya bergantung pada kebohongan, yang ia sebut sebagai truthful hyperbole.
Para pemimpin Iran boleh jadi pernah membaca The Art of the Deal, boleh jadi tidak. Namun mereka memang jarang mempercayai presiden Amerika, dan punya alasan khusus untuk meragukan itikad baik Trump, kata Rafati. Trump pernah membatalkan perjanjian yang sebelumnya ditandatangani Amerika dengan Iran pada masa Presiden Barack Obama. Dia juga memberi lampu hijau pada serangan bom menjelang jadwal perundingan.
Kini, daftar 15 tuntutan Trump pada dasarnya mengandaikan bahwa Iran akan memberikan konsesi nyata, seperti menyerahkan uranium yang diperkaya tinggi dan melepas misil jarak jauhnya, sebagai imbalan atas satu janji bahwa Trump tidak akan melanggar kesepakatan gencatan senjata. Jika Iran menganggap kata-katanya tidak bernilai, maka tawaran itu akan sulit diterima.
Pada 29 Maret, Ketua Parlemen Iran mengatakan bahwa musuh secara terbuka mengirim pesan negosiasi dan dialog, tetapi diam-diam merencanakan serangan darat. Colin Dueck menilai Trump sebenarnya tidak menginginkan perang besar dan berdarah di luar negeri, tetapi berharap tontonan kekuatan dan intimidasi itu akan menghasilkan kesepakatan.
Kurangnya kepercayaan ini juga melemahkan posisi Trump di dalam negeri. Kalangan Republik MAGA (Make America Great Again) cenderung percaya bahwa jika Trump mengatakan perang ini perlu, maka mungkin memang begitu. Namun warga Amerika lainnya jauh lebih skeptis.
Menurut lembaga survei Pew, hanya 22% yang percaya perang ini akan membuat mereka lebih aman. Jeanne Shaheen mengatakan tidak ada transparansi kepada publik Amerika soal perang ini, dan bahwa Trump tidak selalu bertindak demi kepentingan terbaik Amerika.
Saat ditanya apakah dalam pengarahan rahasia yang ia terima sebagai anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat ada bukti bahwa situasinya lebih baik daripada yang terlihat, Shaheen hanya menjawab singkat, "Tidak."
Meski demikian, Trump tampaknya tidak gentar. Seperti yang tertulis dalam bukunya, salah satu hal yang menurutnnya sangat dia kuasai adalah "mengatasi hambatan".
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

6 hours ago
6














































