Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memastikan kondisi warga negara asing (WNA), termasuk warga negara Indonesia (WNI), di Iran berada dalam keadaan aman. Pernyataan ini disampaikan meski Iran sempat dilanda gelombang protes besar yang berujung kerusuhan berdarah.
Hal tersebut disampaikan Boroujerdi saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (19/1/2026). Ia menegaskan pemerintah Iran memberikan jaminan penuh atas keselamatan seluruh warga asing yang berada di negaranya.
"Saya bisa katakan situasi bagi warga asing di Iran sangat baik, mereka aman," ujar Boroujerdi kepada awak media. Ia menuturkan sejak awal situasi memburuk, fokus utamanya adalah memastikan keselamatan WNI di Iran.
"Saya sempat khawatir karena tugas saya adalah menjaga keselamatan warga sipil Indonesia di Iran. Namun saya baru saja mendapatkan informasi dari pemerintah Iran bahwa seluruh WNI dalam keadaan aman, dan kami siap membantu mereka jika terjadi sesuatu," jelasnya.
Boroujerdi menambahkan, jaminan dan perlindungan yang sama juga diberikan kepada warga asing dari negara lain. Menurutnya, kondisi keamanan di Iran kini telah kembali kondusif.
"Sekarang tidak ada masalah di Iran. Perdamaian telah kembali ke negara kami. Namun kapan pun diperlukan, kami selalu siap membantu pemerintah negara lain untuk mengevakuasi warganya," katanya.
Ia mengungkapkan hanya ada satu insiden yang melibatkan warga asing, yakni penyerangan terhadap kediaman Duta Besar Palestina di Iran. Dalam peristiwa tersebut, Dubes Palestina dilaporkan mengalami luka ringan.
"Satu-satunya warga asing yang mengalami masalah adalah Duta Besar Palestina. Agen Mossad menyerang rumahnya dan dia mengalami sedikit cedera. Selain itu, warga asing lainnya baik-baik saja," ujar Boroujerdi.
Lebih lanjut, ia menilai insiden tersebut menjadi indikasi bahwa serangan berasal dari pihak luar. "Ini menunjukkan bahwa serangan itu datang dari luar, dan semua orang tahu yang kami maksud adalah rezim Zionis Israel," tegasnya.
Sebagai informasi, aksi protes di Iran meletus pada 28 Desember lalu, dipicu oleh kesulitan ekonomi yang memburuk. Demonstrasi tersebut kemudian berkembang menjadi gelombang protes luas yang menuntut perubahan mendasar terhadap pemerintahan ulama (mullah) di Republik Islam Iran.
Menurut sebuah laporan yang disusun oleh jaringan dokter di dalam negeri dan dikutip oleh The Sunday Times, sedikitnya 16.500 demonstran dilaporkan tewas dan sekitar 330.000 orang mengalami luka-luka selama kerusuhan berlangsung. Verifikasi independen menjadi sulit dilakukan karena adanya pemadaman internet hampir total di berbagai wilayah Iran.
Laporan itu menyebutkan banyak korban mengalami luka tembak serta trauma mata yang parah, dengan ratusan hingga ribuan orang dilaporkan menderita kebutaan permanen akibat kekerasan tersebut.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu lalu untuk pertama kalinya mengakui bahwa "beberapa ribu" orang tewas sejak gelombang protes pecah sekitar tiga minggu sebelumnya. Namun, ia menuding kekerasan tersebut dipicu oleh aksi para demonstran serta campur tangan pihak asing yang disebut sebagai musuh Iran.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
1

















































