Gelombang Rights Issue Jumbo: BUVA - BNBR Masuk Radar!

1 hour ago 1

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

21 January 2026 11:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi rights issue alias tambah modal melalui HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) masih jadi sorotan tahun ini.

Mulai dari dua emiten konglomerasi baru-baru masuk radar dengan potensi rights issue jumbo. Pertama, emiten rup Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Kedua emiten milik Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Tbk (BUVA).

Posisi ketiga, ada emiten yang baru saja ada story backdoor listing dari perusahaan properti menjadi perusahaan nikel yaitu PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN).

Terakhir, ada PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) yang terpantau paling jelas update rights issue-nya, karena sudah keluar prospektus dan jadwal-nya akan berlangsung pada Maret mendatang.

Berikut kami ulas satu per satu prospek rights issue tiga emiten itu:

Saham BNBR

BNBR berencana menggelar rightss issue 90 miliar lembar saham. Pengeluaran saham baru seri E tersebut dibanderol dengan nilai nominal Rp12 per saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti dikutip Selasa (20/1/2026), penerbitan saham baru ini diambil dari saham portepel. Tindakan tersebut untuk optimalisasi struktur pendanaan Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) yang awal tahun lalu telah diambilalih oleh anak usaha perseroan yaitu PT Bakrie Toll Indonesia (BTI).

Adapun rightss issue ini untuk mendukung modal kerja, pengembangan usaha perseroan, dan CCT. Seluruh dana hasil rightss issue setelah dikurangi biaya, ongkos, dan pengeluaran lainnya, untuk pembayaran kewajiban perseroan dan/atau anak usaha kepada kreditur, untuk modal kerja perseroan dan/atau anak usaha.

Rincian alokasi dana disesuaikan dengan mempertimbangkan pengelolaan modal optimal. Manajemen perseroan berhak untuk melakukan penyesuaian terhadap penggunaan dana dengan mempertimbangkan keadaan, dan faktor -faktor lain dianggap layak. Di sisi lain, pemodal yang tidak terlibat dalam aksi korporasi tersebut akan mengalami dilusi kepemilikan maksimum 33,33%.

Seluruh rangkaian transaksi itu, akan dilaksanakan setelah mendapat restu investor. Perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa pada Jumat, 27 Februari 2026 pukul 14.00 WIB. Pemodal bisa terlibat dengan nama tercatat sebagai pemegang saham alias recording date pada 2 Februari 2026.

Saham BUVA

BUVA, emiten milik Happy Hapsoro, juga bersiap melakukan rights issue. Aksi korporasi ini diarahkan untuk memperkuat modal kerja dan mendukung ekspansi bisnis perhotelan, termasuk pengembangan aset dan peningkatan kinerja operasional pascapandemi.

Ini akan menjadi rights issue yang kedua setelah tahun lalu sukses menggalang modal tambahan. Sebelumnya, BUVA telah melaksanakan rightss issue 4,03 miliar lembar saham pada akhir 2025, dengan nilai total mencapai sekitar Rp604 miliar, untuk mendanai akuisisi aset PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bukit Permai Properti.

Kali ini, BUVA berencana mengeluarkan saham baru sebanyak-banyaknya 50 miliar lembar, setara 203,11% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor BUVA sebanyak 24,61 miliar lembar.

Sejauh ini belum ada rincian lebih lanjut, tetapi pasar masih akan menanti keputusan lebih pasti setelah aksi korporasi ini dirapatkan dalam RUPS pada 26 Februari 2026 untuk meminta restu pemegang saham.

Saham KDTN

KDTN menjadi sorotan karena story besar transformasi bisnis. Saham ini melonjak signifikan setelah muncul rencana pengambilalihan sekitar 86% saham oleh Ruby Mining Ltd, anak usaha Huayou Holdings Group, raksasa nikel dan material baterai asal China.

Masuknya Huayou membuka peluang KDTN bertransformasi dari emiten akomodasi dan perhotelan menjadi perusahaan dengan eksposur industri nikel dan baterai kendaraan listrik (EV). Seiring rencana akuisisi tersebut, pasar juga mencermati wacana rights issue super jumbo yang berpotensi digunakan sebagai kendaraan pendanaan injeksi aset dan ekspansi proyek nikel Huayou di Indonesia.

Hingga kini, manajemen KDTN belum merinci struktur dan mekanisme rights issue, namun isu ini menjadi katalis utama lonjakan saham KDTN hingga ratusan persen dalam enam bulan terakhir.

Saham IRSX

Berbeda dari emiten lain, IRSX sudah melangkah lebih konkret. Perseroan telah merilis prospektus rights issue jumbo senilai sekitar Rp3,7 triliun, lengkap dengan jadwal pelaksanaan yang direncanakan berlangsung pada Maret 2026.

Berikut jadwal penting bagi yang mau mengikuti gelaran rights issue IRSX:

  • Cum date di pasar reguler dan nego : 5 Maret 2026

  • Ex date : 6 Maret 2026

  • Distribusi HMETD : 10 Maret 2026

  • Pencatatan HMETD di BEI : 11 Maret 2026

  • Periode Pelaksanaan HMETD (tebus rightss) : 11-17 Maret 2026

  • Penyerahan saham hasil HMETD : 13 - 26 Maret 2026

  • Batas akhir pembayaran saham tambahan : 25 Maret 2026

  • Penjatahan saham tambahan : 26 Maret 2026

  • Pengembalian dana (jika ada pengembalian) : 26 Maret 2026

Mayoritas dana dialokasikan untuk ekspansi agresif ke ekosistem entertainment dan digital, mulai dari inkubasi kreator, produksi konten dan film, hingga penyelenggaraan event berskala besar.

Porsi terbesar mengalir ke PT Folago Karya Indonesia untuk akuisisi hak komersial jangka panjang artis dan influencer, disusul PT Folago Digital Media untuk bisnis event dan jaringan kreator, serta PT Folago Picture Indonesia untuk produksi film/konten.

Alokasi ini menunjukkan arah transformasi IRSX menjadi platform hiburan terintegrasi, namun di sisi lain juga menegaskan bahwa bisnis yang digarap bersifat padat modal, padat biaya, dan sangat bergantung pada eksekusi manajemen serta tren pasar.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |