Goldman Sachs Beri Warning Perang AS-Iran, Industri Ini Bisa Tumbang!

8 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik yang terus membara di Timur Tengah diprediksi akan memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap produk minyak olahan seperti bahan bakar jet (avtur) dan solar dibandingkan terhadap minyak mentah itu sendiri. Raksasa perbankan investasi asal Amerika Serikat, Goldman Sachs, memperingatkan bahwa situasi ini dapat memicu guncangan hebat pada rantai pasok energi global.

Dalam laporan terbarunya yang dirilis Rabu, (18/03/2026), perusahaan jasa keuangan tersebut menyatakan bahwa konflik telah merusak kemampuan Teluk Arab untuk mengekspor produk minyak olahan. Dampak yang paling terasa saat ini menghantam pasokan bahan bakar jet untuk pasar Eropa dan nafta untuk kebutuhan pasar di Asia.

Sekitar 60% ekspor minyak mentah dari Teluk Arab merupakan jenis minyak mentah menengah-berat yang merupakan bahan baku utama untuk memproduksi bahan bakar jet dan solar. Kondisi ini menjadi tantangan besar karena tidak banyak produsen alternatif untuk produk olahan tersebut di luar wilayah Timur Tengah.

"Harga telah melonjak jauh lebih tinggi untuk banyak produk olahan dibandingkan minyak mentah, dengan harga bahan bakar jet di Singapura dan Eropa Barat Laut mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$ 200 per barel pekan lalu," tulis Goldman Sachs dalam laporannya dikutip Rabu (18/3/2026).

Goldman Sachs menambahkan bahwa meskipun pihaknya melihat efek langsung terbesar berasal dari terpukulnya ekspor produk olahan Teluk Arab untuk bahan bakar jet Eropa dan nafta Asia, gangguan parah pada pasokan minyak mentah menengah-berat menimbulkan risiko penurunan besar bagi produksi global. Hal ini mencakup produksi solar, bahan bakar jet, hingga minyak bakar secara menyeluruh.

Berdasarkan Argus US Jet Fuel Index, rata-rata harga bahan bakar jet di Amerika Serikat telah menyentuh angka US$ 3,99 per galon pada 15 Maret 2026. Angka tersebut menandai kenaikan yang sangat signifikan dari posisi US$ 2,50 per galon yang tercatat hanya dua minggu sebelum pecahnya konflik di wilayah tersebut.

Laporan itu juga memaparkan bahwa konflik yang sedang berlangsung telah menyebabkan penutupan sejumlah kilang minyak di wilayah terdampak. Langkah ini secara drastis mengurangi volume produksi global untuk komoditas solar, bahan bakar jet, hingga minyak bakar yang sangat dibutuhkan pasar internasional.

Menurut analisis Goldman Sachs, gangguan pasar minyak global yang dipicu oleh perang juga dapat berdampak pada output dan distribusi nafta. Nafta sendiri merupakan produk sampingan kilang yang digunakan sebagai bahan baku utama dalam pembuatan berbagai produk petrokimia.

Analisis tersebut mengungkapkan bahwa hampir 50% impor nafta Asia dan 40% impor bahan bakar jet Eropa berasal dari Teluk Arab. Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap satu wilayah ini membuat pasar menjadi sangat rentan terhadap gejolak politik dan keamanan yang terjadi di Timur Tengah.

(tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |