Harga Batu Bara Melonjak 3 Hari "Terbakar" Mega Proyek India

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melonjak tiga hari beruntun. Merujuk Refinitiv, pada perdagangan Selasa (19/5/2026), harga batu bara ditutup di US$ 139,4 per troy ons atau menguat 1,01%. Penguatan ini memperpanjang tren positif dengan menguat 4,5% dalam tiga hari terakhir.

Harga batu bara juga ada di posisi tertinggu sejak 31 Maret 2026 atau 1,5 bulan lebih.

Lonjakan harga batu bara ditopang kabar dari India.

Rencana ekspansi kapasitas baja India diperkirakan bisa mendorong impor kumulatif batu bara kokas mendekati 6 miliar ton dalam beberapa dekade mendatang, berpotensi menimbulkan tagihan impor hampir $1 triliun.

Seiring target India mencapai 300 juta ton per tahun kapasitas baja mentah pada 2030, sekitar 64% dari 382 juta ton kapasitas yang sedang dikembangkan mengandalkan teknologi blast furnace yang intensif penggunaan batu bara.

Dengan kebutuhan rata-rata 770 kilogram batubara metalurgi per ton baja, kapasitas blast furnace yang direncanakan saja bisa membutuhkan tambahan 140 juta ton batu bara per tahun, hampir menggandakan tingkat pasokan saat ini.

Ketergantungan Impor dan Proyeksi

Saat ini, sektor baja India mengimpor 90% kebutuhan batu bara metalurgi, karena batu bara kokas domestik mengandung abu dan sulfur tinggi yang tidak cocok untuk pembuatan baja.

Impor batu bara metalurgi meningkat 9,4% secara tahunan pada 2025, mencapai lebih dari 83,1 juta ton, dan diproyeksikan mencapai 149 juta ton pada 2035 dari sekitar 94 juta ton pada 2026, menurut perkiraan S&P Global.

Permintaan batubara kokas diperkirakan meningkat tajam dari 87 juta ton pada FY25 menjadi 135 juta ton pada 2030, didorong oleh ekspansi industri baja di bawah Kebijakan Nasional Baja. Jalur blast furnace - basic oxygen furnace menyumbang sekitar 65% dari kapasitas terpasang dan mengkonsumsi 95% dari total permintaan batubara kokas India.

Sementara itu, pasar batu bara termal China mengalami stagnasi karena permintaan yang lemah dari sektor energi dan industri, sementara sentimen pelaku pasar tetap hati-hati.

Beberapa faktor utama seperti permintaan tipis dan sentiment yang hati-hari. Konsumsi listrik domestik menurun seiring musim panas yang relatif ringan dan penghematan energi di sektor industri.

Pembangkit listrik batubara melakukan pembelian lebih hati-hati karena pasokan stok yang masih mencukupi.

Pedagang dan pembeli juga menahan diri dari kontrak jangka panjang karena harga batubara global dan domestik yang berfluktuasi.

Ketidakpastian kebijakan energi dan potensi regulasi lingkungan juga menambah kehati-hatian pasar.

Analis memperkirakan bahwa pasar baru akan bergerak lebih aktif ketika permintaan listrik meningkat menjelang musim dingin atau ada lonjakan permintaan industri.

Namun, kelebihan pasokan dan kehati-hatian pembeli bisa menahan kenaikan harga dalam jangka pendek.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |