Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melonjak ke level tertinggi dua minggu di tengah masih tingginya harga minyak.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (18/5/2026) ditutup di US$ 138,5 per ton atau menguat 1,1%. Harga perdagangan kemarin adalah yang tertinggi dalam dua pekan.
Kenaikan harga batu bara ditopang masih tingginya harga minyak dan permintaan. Batu bara dan minyak adalah komoditas yang saling memengaruhi.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik sekitar 3% dan ditutup pada US$108,66 per barel, sementara Brent Crude menguat lebih dari 2% ke US$112,10 per barel.
Data terbaru menunjukkan menunjukkan produksi listrik dari pembangkit listrik termal yang mayoritas berbasis batu bara melonjak 3,6%.
Saat ini China termasuk negara yang meningkatkan pembangkit listrik termal di tengah pasokan gas global yang makin ketat akibat krisis Timur Tengah.
Kenaikan produksi ini terjadi di tengah penurunan produksi batu bara Tiongkok.
Produksi batu bara China turun tipis 1% secara tahunan pada April. Data biro statistik juga menunjukkan pasokan dan permintaan batu bara masih berada dalam kondisi ketat.
Produksi batu bara April tercatat sebesar 385,63 juta ton metrik, turun dari rekor tertinggi 440,62 juta ton pada Maret.
Sepanjang empat bulan pertama tahun ini, produksi batu bara China mencapai 1,58 miliar ton metrik, turun 0,1% dibanding periode yang sama tahun 2025.
China tetap meningkatkan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menutupi rendahnya kecepatan angin dan beberapa pembangkit nuklir yang sedang menjalani perawatan.
China juga masih memiliki cadangan batu bara melimpah, dan pembangkit listrik diminta menjaga stok menjelang musim panas, saat permintaan listrik diperkirakan melonjak.
Impor batu bara China memang menurun tahun ini, tetapi ekspor juga turun dalam beberapa pekan terakhir karena Beijing ingin memastikan pasokan listrik tetap aman di tengah rendahnya impor LNG akibat harga tinggi dan ketidakpastian pasar energi global karena perang Iran.
Meski agresif membangun energi terbarukan dan menjadi investor terbesar dunia di sektor tersebut, China masih sangat bergantung pada batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik saat energi terbarukan melemah.
Tahun lalu, China menyumbang 78% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara baru yang mulai beroperasi di dunia. Menurut data Global Energy Monitor, China juga menguasai 86% kapasitas global pembangkit batu bara yang sedang dibangun dan dijadwalkan beroperasi tahun ini.
(mae/mae)
Addsource on Google

3 hours ago
3

















































