Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak relatif stabil pada hari ini setelah terbang pada pekan lalu.
Harga minyak stabil setelah investor menimbang ancaman Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menargetkan fasilitas energi yang berpotensi memperluas perang. Kabar ini diimbangi dengan pelepasan jutaan barel minyak Iran ke pasar global setelah Washington mencabut sanksi.
Pada Senin (23//3/2023) pukul 08.16 WIB, harga minyak brent melemah 0,9% di posisi US$ 111,17 per barel sementara minyak WTI turun 0,04% ke US$98,36 per barel.
Selisih harga antara Brent dan WTI kini melebar lebih dari $13 per barel, yang merupakan level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Harga minyak sempat melonjak pada pekan lalu.
Harga minyak brent pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (20/3/2026) ditutup di posisi US$ 112,19 per barel atau terbang 3,3% sedangkan minyak WTI melesat 2,27% ke US$ 98,32 per barel.
Harga penutupan brent kemarin adalah yang tertinggi sejak 4 Juli 2022 atau hampir empat tahun terakhir.
Dalam sepekan kemarin, harga minyak brent melesat 8,77% yang merupakan salah satu kenaikan terbesar seminggu dalam 10 tahun terakhir.
Sepanjang tahun ini, minyak brent sudah melesat 84%.
Michael McCarthy, CEO platform trading online Moomoo Australia, mengatakan bahwa penurunan harga minyak saat ini bersifat sementara akibat likuiditas rendah dan aksi ambil untung jangka pendek oleh trader.
"Momentum jelas masih mendukung kenaikan lebih lanjut, dan pengujian level tertinggi terbaru di sekitar $120 adalah skenario yang realistis minggu ini," ujarnya, dikutip dari Reuters.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengancam akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka sepenuhnya Selat Hormuz dalam 48 jam. Ini adalah sebuah eskalasi signifikan hanya sehari setelah ia sempat membahas kemungkinan meredakan perang yang kini memasuki minggu keempat.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menulis di X bahwa infrastruktur kritis dan fasilitas energi di Timur Tengah bisa hancur secara permanen jika pembangkit listrik Iran diserang.
"Ini jelas berarti eskalasi lebih lanjut yang berarti harga minyak lebih tinggi. Namun, sebagian orang keliru berpikir bahwa Iran akan menyerah," kata Amrita Sen, pendiri Energy Aspects.
"Trump mencoba menunjukkan bahwa ia bisa meningkatkan eskalasi, dan jalur ini bisa berujung pada kehancuran total infrastruktur Teluk." Imbuhnya.
Perang ini telah merusak fasilitas energi utama di kawasan Teluk dan membuat pengiriman melalui Selat Hormuz hampir terhenti. Para analis memperkirakan kehilangan produksi minyak di Timur Tengah mencapai 7 hingga 10 juta barel per hari.
Irak telah menetapkan kondisi force majeure pada seluruh ladang minyak yang dikembangkan oleh perusahaan asing, menurut tiga pejabat energi. Menteri Perminyakan Irak Hayan Abdel-Ghani mengatakan produksi minyak mentah di Basra Oil Company telah dipangkas menjadi 900.000 barel per hari, dari sebelumnya 3,3 juta barel per hari.
Untuk meredakan krisis pasokan, Washington sementara mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang berada di laut.
Kilang minyak India berencana kembali membeli minyak Iran, sementara kilang di wilayah Asia lainnya juga sedang mempertimbangkan langkah serupa, menurut para trader pada Sabtu.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google

6 hours ago
5
















































