Harga Minyak Meledak 35%, Tertinggi 40 Tahun! Pasokan Dunia Tercekik

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah melonjak pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/3/2026).

Pembeli pembeli berburu pasokan yang tersedia di tengah terbatasnya suplai dari Timur Tengah akibat penutupan efektif Selat Hormuz di tengah meluasnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Harga minyak Brent ditutup pada US$93,34 per barel melesat 9,3%. Sementara itu West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada US$90,9 per barel, melonjak 12,21% pada Jumat. Kenaikan sebesar itu merupakan yang tertinggi sejak 15 Mei 2020 atau lima tahun lebih.

Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak September 2023 atau 2,5 tahun terakhir.

Pergerakan harga minyak juga menunjukkan fakta anomali di mana ini menjadi hari kedua berturut-turut kenaikan harga minyak AS (WTI) melampaui kenaikan kontrak Brent.

Harga minyak WTI menutup pekan ini dengan kenaikan 35,6%. Ini merupakan lonjakan terbesar sejak perdagangan kontrak berjangka minyak dimulai pada 1983 atau 43 tahun. Investor mempertimbangkan dampak perang AS-Iran terhadap pasokan energi global.

Sementara itu, harga minyak brent melesat 28,7% dalam sepekan ini.

Menurut Giovanni Staunovo, analis dari UBS, para pelaku pasar kini aktif mencari sumber minyak alternatif.

"Kilang dan perusahaan perdagangan sedang mencari pasokan alternatif, dan Amerika Serikat adalah produsen terbesar," kata Staunovo, kepada Reuters.
"Untuk mencegah persediaan di AS berkurang terlalu cepat akibat ekspor yang terlalu besar, selisih harga kini kembali mencerminkan biaya transportasi."imbuhnya.

Janiv Shah, wakil presiden analisis minyak di Rystad Energy, menyebut beberapa faktor yang mendorong perbedaan kenaikan antara WTI dan Brent.

Menurutnya, penguatan operasi kilang di Pantai Teluk AS, margin penyulingan yang menarik, serta peluang arbitrase ekspor ke Eropa ikut mendorong kenaikan harga WTI.

Minyak mentah juga berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak volatilitas ekstrem pandemi Covid-19 pada musim semi 2020, karena konflik Timur Tengah menghentikan pengiriman dan ekspor energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.

Harga Minyak Bisa Tembus US$100?

Menteri energi Qatar mengatakan kepada Financial Times bahwa ia memperkirakan seluruh produsen energi di kawasan Teluk bisa menghentikan ekspor dalam beberapa minggu, yang menurutnya berpotensi mendorong harga minyak hingga US$150 per barel, berdasarkan wawancara yang dipublikasikan Jumat.

John Kilduff, mitra di Again Capital, mengatakan kondisi terburuk mulai terlihat.

"Skenario terburuk sedang berkembang di depan mata kita," kata Kilduff.
"Saya pikir prediksi minyak US$100 per barel kemungkinan besar akan menjadi kenyataan."ujarnya dikutip dari CNBC International.

Reli tajam harga minyak dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu lalu, yang kemudian dibalas Iran dengan menghentikan pergerakan kapal tanker melalui Selat Hormuz.

Biasanya, pasokan minyak setara sekitar 20% permintaan global melewati jalur laut ini setiap hari. Dengan selat tersebut tertutup selama tujuh hari, sekitar 140 juta barel minyak atay setara 1,4 hari konsumsi global tidak dapat mencapai pasar.

Konflik juga meluas ke wilayah-wilayah utama penghasil energi di Timur Tengah, mengganggu produksi dan memaksa penutupan kilang minyak serta fasilitas LNG.

"Setiap hari Selat Hormuz tetap tertutup, harga akan terus naik," kata Staunovo.

Ia menambahkan bahwa sebelumnya pasar percaya Presiden AS Donald Trump mungkin akan menarik diri dari konflik karena tidak menginginkan harga minyak tinggi. Namun semakin lama konflik berlangsung, semakin jelas besarnya risiko terhadap pasokan energi global.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Reuters pada Kamis bahwa ia tidak khawatir terhadap kenaikan harga bensin di AS akibat konflik tersebut.

"Jika naik, ya naik saja," kata Trump.

Spekulasi bahwa Departemen Keuangan AS mungkin akan mengambil langkah untuk menekan kenaikan harga energi sempat membuat harga minyak turun lebih dari 1% pada Jumat pagi.

Namun penurunan tersebut menyempit setelah Bloomberg melaporkan bahwa pemerintahan Trump tidak akan menggunakan Departemen Keuangan untuk melakukan perdagangan kontrak berjangka minyak.

Pada Kamis, Departemen Keuangan juga memberikan pengecualian (waiver) bagi perusahaan untuk membeli minyak Rusia yang terkena sanksi. Pengecualian pertama diberikan kepada kilang minyak India, yang sejak itu telah membeli jutaan barel minyak mentah Rusia.

Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi mengatakan kepada Financial Times bahwa produsen energi di kawasan Teluk mungkin perlu menerapkan force majeure dalam beberapa hari ke depan, yang berarti menghentikan produksi.

Langkah ini berpotensi mendorong harga minyak hingga US$150 per barel. Ia memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat menjatuhkan ekonomi dunia.

Profesor emeritus Wharton Jeremy Siegel mengatakan di CNBC bahwa ia sangat berhati-hati. Jika tidak ada terobosan selama akhir pekan, harga minyak dapat menyentuh US$100 per barel pekan depan.

Menurut Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, rentang antara proyeksi harga minyak tertinggi dan terendah kini melebar secara signifikan. Bahkan jika proyeksi US$150 per barel dipangkas sekitar 20%, harga minyak tetap berada pada level yang sangat mengkhawatirkan.

Gangguan mendadak dan akut terhadap pasokan minyak Timur Tengah akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran memaksa para pembeli memanfaatkan setiap barel minyak yang tersedia, sekaligus dengan cepat membongkar proyeksi kelebihan pasokan minyak global tahun ini.

Pada Februari, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa pasokan minyak global akan melampaui permintaan sekitar 3,7 juta barel per hari (bpd) pada 2026, dengan surplus tersebut berlanjut hingga tahun berikutnya. Namun hanya sebulan kemudian, proyeksi tersebut tampak tidak lagi relevan.

Hampir 15 juta bpd produksi minyak mentah, ditambah 4,5 juta bpd bahan bakar hasil penyulingan, kini praktis terjebak di kawasan Teluk setelah penutupan hampir total Selat Hormuz.

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?

Jalur sempit ini ditutup tak lama setelah dimulainya kampanye pemboman udara gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan menargetkan negara-negara Teluk dan infrastruktur energi regional.

Asia menjadi kawasan yang paling terdampak, karena sekitar 60% impor minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah. Kilang minyak dan pabrik petrokimia di seluruh kawasan mulai mengurangi produksi atau bahkan menghentikan operasi untuk menghemat bahan baku.

Industri lain yang sangat intensif energi, mulai dari keramik hingga manufaktur mobil, juga menghadapi kekurangan pasokan yang parah.

Kehabisan Waktu dan Ruang Penyimpanan

Di kawasan Teluk, para produsen minyak mulai kehabisan pilihan. Karena ekspor terhambat, minyak mentah kini dialihkan ke tangki penyimpanan di darat dan kapal tanker di laut.

Irak, yang memiliki kapasitas penyimpanan terbatas, sudah menghentikan setidaknya seperempat dari produksi 4,3 juta bpd-nya.
Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, masih memiliki kapasitas penyimpanan tersisa, tetapi hanya cukup untuk hitungan hari, bukan minggu.

Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru AmanFoto: Infografis/ Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman/ Ilham Restu
Daftar Negara yang Paling Bergantung pada Selat Hormuz, AS Justru Aman

Arab Saudi dan UEA memang dapat mengalihkan sebagian minyak melalui jalur ekspor alternatif, namun kapasitasnya hanya mampu menutup sebagian kecil dari kehilangan jalur Hormuz. Ketika fasilitas penyimpanan mulai penuh, semakin banyak produsen akan dipaksa mengurangi produksi dan menghentikan operasi kilang.

Menutup ladang minyak secara aman merupakan proses yang kompleks. Menghidupkannya kembali juga bisa memakan waktu beberapa hari hingga berminggu-minggu sebelum produksi kembali normal, sehingga dampak terhadap pasar bisa bertahan lama bahkan setelah Selat Hormuz dibuka kembali.

Menguras Cadangan yang Tersedia

Kabar baiknya, persediaan minyak global sebenarnya sempat meningkat dalam beberapa bulan terakhir, berkat peningkatan produksi dari negara-negara produsen termasuk OPEC.

Menurut IEA, inventori minyak global naik 1,3 juta bpd (sekitar 477 juta barel) sepanjang 2025, mencapai level tertinggi sejak Maret 2021.

Sekitar 80 juta barel minyak saat ini disimpan di kapal tanker di laut, menurut data perusahaan analitik Kpler, dengan hampir dua pertiganya berada di Asia.

Namun sekitar tiga perempat dari "floating storage" tersebut berasal dari Iran, Venezuela, dan Rusia, yang semuanya terkena sanksi Barat, sehingga sebagian besar minyak tersebut tidak dapat diakses oleh banyak pembeli. Minyak Iran saja menyumbang sekitar 50 juta barel.

Meski begitu, sebagian minyak tersebut mulai bergerak. Pada Kamis, AS memberikan pengecualian (waiver) kepada India untuk membeli minyak Rusia guna membantu kilang menghadapi krisis pasokan. Sebelumnya, India sempat memangkas impor Rusia bulan lalu sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan dengan Washington.

Minyak Rusia yang tersimpan di kapal tanker telah turun dari 7,7 juta barel sebelum serangan terhadap Iran menjadi 4,5 juta barel pada 6 Maret.

Kilang independen di China, yang selama beberapa tahun terakhir menyerap sebagian besar ekspor minyak Iran, kemungkinan akan mengambil porsi terbesar minyak Iran yang berada di luar Teluk atau yang masih bisa melewati Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, produsen Timur Tengah hampir pasti juga memanfaatkan cadangan minyak mereka yang disimpan di luar negeri untuk memenuhi kewajiban kontrak dengan para pembeli.

Jika gangguan pasokan terus berlanjut, tekanan akan meningkat pada pemerintah untuk menggunakan cadangan minyak strategis mereka. Negara-negara anggota OECD memiliki Strategic Petroleum Reserves (SPR) yang dibentuk sejak 1970-an khusus untuk menghadapi guncangan pasokan.

Berdasarkan aturan IEA, negara pengimpor minyak bersih harus memiliki cadangan setara minimal 90 hari impor.

Amerika Serikat produsen sekaligus konsumen minyak terbesar dunia saat ini memiliki lebih dari 400 juta barel dalam SPR, meskipun kapasitas totalnya sekitar 700 juta barel. Namun karena AS kini bukan lagi pengimpor energi bersih, risiko penggunaan cadangan tersebut relatif lebih kecil.

Faktor paling tidak pasti adalah China. Beijing diam-diam telah mengumpulkan cadangan minyak besar dalam beberapa tahun terakhir, dengan tambahan rata-rata sekitar 300.000 bpd pada tahun lalu saja, menurut IEA. Hingga kini, China belum memberi sinyal akan melepas cadangan tersebut, meskipun pemerintah telah memerintahkan kilang untuk mengurangi ekspor bahan bakar.

Krisis yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya

Cadangan minyak global mungkin cukup besar di awal krisis ini, tetapi tetap terbatas. Guncangan kali ini juga belum pernah terjadi sebelumnya, karena Selat Hormuz belum pernah sepenuhnya ditutup sebelumnya.

Bahkan jika jalur itu dibuka kembali besok, pasar tetap memerlukan waktu berminggu-minggu untuk kembali seimbang dan memulihkan rantai pasokan yang sangat kompleks.

Jika sebagian produksi Teluk dapat dialihkan, mengimbangi gangguan pasokan sebesar 15 juta bpd akan membutuhkan lebih dari 100 juta barel minyak dari cadangan dalam waktu satu minggu. Dengan laju seperti itu, gangguan yang berkepanjangan akan dengan cepat menguras persediaan minyak global.

"Sangat sulit bagi cadangan untuk menggantikan aliran pasokan, terutama ketika penurunan aliran begitu besar," kata Paul Horsnell, analis minyak independen.

Jika cadangan benar-benar terkuras, pemerintah dan para pedagang tentu harus membangunnya kembali, yang berarti permintaan minyak mentah akan meningkat, sekaligus harga minyak kemungkinan lebih tinggi pada tahun depan.

Guncangan pasokan dari Timur Tengah ini kini membalik ekspektasi pasar dari surplus minyak menjadi skenario kekurangan pasokan yang jauh lebih mungkin terjadi.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |