IHSG Sesi 1 Dibuka Menguat 0,24% ke Level 9.156

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan penguatan pagi ini, Selasa (20/1/2026). Indeks dibuka naik 22,32 poin atau 0,24% ke level 9.156,19.

Sebanyak 286 saham naik, 62 turun, dan sisanya belum bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 498,54 miliar, melibatkan 927,59 juta saham dalam 66.115 kali transaksi.

Adapun kapitalisasi pasar ikut terkerek naik menjadi Rp 16.687 triliun atau nyaris setara US$ 1 triliun.

Adapun sejumlah sentimen yang masih akan mempengaruhi pergerakan pasar termasuk arah kebijakan moneter RI hingga pergerakan harga komoditas global.

Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah aman dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Selasa-Rabu pekan ini.

Meskipun inflasi domestik sedikit terkendali di level 2,92%, BI masih perlu menjaga daya tarik aset keuangan rupiah agar tidak ditinggalkan investor asing. Selisih suku bunga (spread) dengan The Fed harus dijaga.

Jika BI memangkas bunga terlalu cepat saat Dolar AS masih kuat, rupiah berisiko terdepresiasi tajam mengingat rupiah tengah berada di level psikologis menembus Rp 17.000 per US$.

Keputusan menahan suku bunga ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku pasar serta tetap memperkuat rupiah di tengah proyeksi penurunan suku bunga oleh The Fed.

Sektor perbankan mungkin akan tetap menikmati marjin bunga bersih (NIM) yang stabil, namun sektor riil yang sensitif terhadap bunga (seperti properti dan otomotif) mungkin belum akan melihat lonjakan permintaan yang signifikan dalam waktu dekat.

Beralih ke pasar komoditas, sektor metal masih menjadi perhatian pasar, terutama emas dan perak, dan beberapa metal industri seperti nikel, tembaga, dan alumunium.

Indonesia sebagai produsen metal tersebut tak luput jadi sorotan. Akhir-akhir ini harga emas kembali bergairah dan terus mencetak rekor demi rekor, sedikit lagi level US$ 4700 per troy ons seperti-nya potensial tercapai.

Menyusul emas, harga perak juga kembali naik, pada perdagangan kemarin malam harga-nya sempat mencapai US$ 94 per troy ons yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah.

Harga metal lain pun mengikuti seperti nikel yang sudah naik lebih dari 20% menembus US$ 18.000 per ton, berkat penurunan produksi Indonesia yang digadang bisa mencapai 24% dibandingkan setahun lalu dari 790 juta ton menjadi kisaran 600 juta ton.

Pemain metal di Indonesia biasanya tidak hanya bergantung pada satu komoditas, bahkan mayoritas melebarkan sayapnya melalui hilirisasi, seperti pembagunan smelter untuk memasok industri yang berkelanjutan seperti bateray dan kendaraan listrik (EV).

Sementara itu, pasar Asia-Pasifik bergerak lesu setelah imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang Jepang mencapai level tertinggi baru, dengan investor juga mempertimbangkan ancaman tarif AS yang diperbarui terkait Greenland.

Negara-negara Eropa dilaporkan sedang membahas tarif balasan dan langkah-langkah ekonomi hukuman yang lebih luas sebagai tanggapan terhadap ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump, yang semakin memperketat hubungan terkait Greenland.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |