Susi Setiawati, CNBC Indonesia
20 January 2026 09:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Jepang resmi memberikan tarif bea masuk 0% untuk produk ikan tuna olahan asal Indonesia. Sejumlah saham perusahaan yang punya bisnis ikan terpantau bergerak moncer.
Melansir keterbukaan informasi yang disampaikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mereka siap memfasilitasi unit pengolahan ikan (UPI) yang ingin mendapatkan tarif 0% ekspor tuna-cakalang-tongkol ke Jepang.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan perubahan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).
"Alhamdulillah, dalam perubahan kesepakatan tersebut mengakomodir kepentingan Indonesia seperti penghapusan 4 pos tarif produk olahan tuna dan cakalang," terang Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDS), Machmud melalui keterangan tertulisnya, Jumat (16/1/2026).
Machmud menerangkan, sebelum adanya perubahan kesepakatan, ekspor tuna dan cakalang kaleng dan olahan non-kaleng lainnya dari Indonesia ke Negeri Sakura dikenai tarif ekspor sebesar 9,6%. Adapun di pasar Jepang, produk tuna kaleng dan olahan lainnya dari Indonesia menduduki peringkat ketiga, top eksportir dengan nilai US$30,28 juta.
Selain itu, compound annual growth rate (CAGR) sebesar 13,82%, unggul dibanding Thailand dan Filipina, masing-masing dengan CAGR 12,12% dan 6,31%.
"Tentu dengan tarif 0%, ekspor tuna-cakalang kita bisa lebih berdaya saing dan kami optimis Indonesia bisa menjadi nomor satu di Jepang," jelasnya.
Kebijakan ini memperkuat daya saing produk perikanan Indonesia di pasar Jepang, yang selama ini dikenal sebagai salah satu importir tuna terbesar dunia dengan standar kualitas tinggi dan permintaan stabil.
Penghapusan tarif ini diharapkan membuat harga produk tuna olahan Indonesia menjadi lebih kompetitif dibandingkan negara pesaing, sekaligus meningkatkan margin eksportir.
Dari sisi industri, kebijakan ini dinilai sebagai katalis positif karena Jepang bukan hanya pasar besar, tetapi juga pasar premium yang sensitif terhadap kualitas, kontinuitas pasokan, dan sertifikasi.
Dengan tarif nol persen, produsen tuna Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan volume ekspor tanpa harus menekan harga jual secara agresif. Berkat katalis positif, kami memantau ada empat saham yang berkaitan dengan ikan tuna langsung bergerak moncer pada perdagangan kemarin Senin (19/1/2026). Berikut rinciannya :
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

2 hours ago
1

















































