Ini Ramalan Terbaru Harga Minyak dari 6 Lembaga Dunia, Sengeri Apa?

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak bergerak sangat volatil bagai roller coaster, dalam sehari sempat naik sampai 25% secara intraday, tetapi sehari kemudian justru anjlok belasan persen. Kira-kira harga minyak akan bertahan di posisi berapa pada tahun ini?

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 9,72% dan ditutup di US$95,73 per barel. Sementara itu, Brent melonjak 9,22% dan ditutup di US$100,46 per barel, menjadi penutupan pertama di atas US$100 sejak Agustus 2022.

Sejak perang Iran versus Israel-Amerika Serikat (AS) meledak pada 28 Februari 2026, harga minyak sudah terbang 42%.

Penguatan harga minyak kemarin terjadi karena ada kekhawatiran bahwa pasokan minyak yang dikirim melalui laut dari kawasan Teluk Persia akan terganggu lebih lama dari perkiraan.

Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan publik pertamanya mengatakan bahwa Selat Hormuz sebaiknya tetap ditutup.

Pernyataan ini menunjukkan sikap keras Iran dan membuat pasar memperkirakan gangguan pasokan minyak akan berlangsung lebih lama, terutama setelah beberapa kapal tanker di sekitar jalur sempit tersebut diserang oleh IRGC (pasukan Garda Revolusi Iran).

Situasi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya intensitas serangan antara Iran, Israel, dan negara-negara GCC (negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan lain-lain).

Sejak konflik dimulai bulan ini, kapal tanker minyak tidak bisa mengambil pasokan dari kawasan Teluk, sehingga sekitar 20% perdagangan minyak dunia praktis terhenti. Akibatnya, negara-negara GCC terpaksa mengurangi produksi hingga 10 juta barel per hari karena fasilitas penyimpanan mereka sudah penuh.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut gangguan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak. Untuk meredam dampaknya, negara-negara anggota IEA sepakat melepaskan 400 juta barel cadangan minyak strategis ke pasar.

Karena konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih panas, laporan terbaru EIA per 12 Maret 2026 juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan pasokan minyak global untuk tahun ini menjadi sekitar 1,1 juta barel per hari. Angka ini turun lebih dari 50% dibanding perkiraan sebelumnya yang pada Februari masih berada di kisaran 2,4 juta barel per hari.

Dalam proyeksi terbaru tersebut, seluruh pertumbuhan pasokan minyak global diperkirakan berasal dari negara di luar kelompok OPEC+. IEA memperkirakan pasokan minyak global pada Maret berpotensi turun hingga sekitar 8 juta barel per hari.

Jika tekanan geopolitik masih terus panas, beberapa lembaga global memproyeksikan harga minyak masih akan mahal dan bisa mencapai puncaknya di US$ 120 per barel, sebelum nanti kembali normal lagi. Berikut rincian-nya:

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |