Ironis! Lansia Kuasai Bursa Saham Amerika, Generasi Muda Terpinggirkan

2 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

27 February 2026 16:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang perayaan ulang tahun kemerdekaan Amerika Serikat (AS) yang ke-250 pada Juli 2026, negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini dihadapkan pada realitas negaranya yang kontradiktif.

Sebuah perubahan fundamental tengah terjadi untuk pertama kalinya, generasi muda AS diproyeksikan akan memiliki tingkat pendapatan riil dan akumulasi kekayaan yang lebih rendah dibandingkan dengan orang tua mereka pada usia yang sama.

Mimpi Amerika atau American Dream-sebuah etos kebangsaan yang menjanjikan mobilitas sosial, keamanan finansial, dan kualitas hidup yang lebih baik melalui kerja keras-kini semakin sulit dijangkau oleh warganya. Fenomena ini secara luas diidentifikasi oleh para ekonom makro sebagai "Boomcession" diambil dari gabungan dari kata boom dan recession.

Di atas kertas, indikator perekonomian seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dan valuasi pasar saham melonjak tajam, namun di tingkat akar rumput, mayoritas warga kelas menengah ke bawah justru merasakan tekanan finansial yang parah layaknya berada dalam kondisi resesi.

Banderol Fantastis 'American Dream'

Krisis keterjangkauan ini semakin nyata jika membedah valuasi ekonomi yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup ideal di AS saat ini. Berdasarkan riset dan data ekonomi terbaru, biaya seumur hidup untuk mewujudkan delapan komponen dasar American Dream kini telah melampaui angka US$5 juta per rumah tangga.

Angka US$5 juta ini menciptakan beban utang dan ekspektasi yang sangat tidak proporsional, mengingat rata-rata total pendapatan seumur hidup seorang pekerja berpendidikan sarjana di AS hanya berkisar di angka US$2,8 juta. Masa pensiun mendominasi porsi terbesar dari beban biaya ini.

Akibat beban biaya yang hiper-inflatoir ini, pencapaian hidup semakin tertunda. Usia median pembeli rumah di AS telah melonjak drastis dari 31 tahun pada 1981 menjadi 56 tahun pada dekade ini. Terhimpit oleh mahalnya biaya hidup, tingkat fertilitas di AS juga anjlok ke rekor terendah seiring enggannya keluarga muda menanggung biaya membesarkan anak.

Divergensi Harga Ekstrem: Boomers vs Milenial

Untuk memahami skala krisis ini, analisis komparatif menunjukkan bagaimana lonjakan harga aset esensial telah meninggalkan laju inflasi dan pertumbuhan upah. Pada era Baby Boomers (sekitar tahun 1980), harga median rumah di AS hanya dipatok di angka US$47.200.

Jika harga historis tersebut disesuaikan murni dengan tingkat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) saat ini, harga rumah seharusnya hanya berada di kisaran US$195.000. Namun pada realitasnya, harga median properti residensial meroket hingga US$403.700, mewakili lonjakan tajam sebesar 107% di atas nilai wajar inflasinya.

Tingginya biaya hidup yang dibarengi dengan stagnasi upah riil sejak tahun 1973 menciptakan perekonomian yang berbentuk huruf K (K-shaped economy). Data kuartal ketiga tahun 2025 dari bank sentral Federal Reserve mengonfirmasi bahwa 1% individu terkaya di AS kini menguasai 50,2% dari total kekayaan nasional, setara dengan US$55 triliun-rekor penguasaan aset tertinggi sejak pencatatan sistematis dimulai pada 1989.

Monopoli Saham oleh Demografi Lansia

Di samping ketimpangan pendapatan, memudarnya American Dream secara fundamental didorong oleh ketimpangan kekayaan antar generasi di pasar modal. Data mentah Distributional Financial Accounts dari Federal Reserve yang melacak kepemilikan ekuitas perusahaan dan reksa dana mengungkap ketimpangan usia yang ekstrem dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada Kuartal III 2025, generasi lansia (usia 70 tahun ke atas) mencatatkan rekor kepemilikan aset pasar modal senilai US$21,94 triliun. Jika angka ini digabungkan dengan kelompok pra-lansia usia 55-69 tahun yang memegang US$22,71 triliun, maka warga AS berusia 55 tahun ke atas secara absolut memonopoli nyaris US$44,65 triliun kekayaan saham.

Sebaliknya, generasi muda di bawah usia 40 tahun hanya memegang porsi sangat marginal sebesar US$3,22 triliun. Perilaku investasi ini menyimpang dari pedoman finansial tradisional. Secara umum, investor lanjut usia disarankan beralih ke instrumen aman seperti obligasi.

Namun, anjloknya yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) dalam dua dekade terakhir memaksa para pensiunan untuk menahan dana mereka pada instrumen saham. Didukung oleh kekuatan compounding selama beberapa dekade masa bullish bursa, generasi lansia sukses mengunci porsi likuiditas terbesar di pasar modal.

Sebaliknya, generasi yang lebih muda terlimitasi oleh kendala likuiditas struktural. Dengan beban kewajiban finansial seperti cicilan rumah, tingginya biaya pengasuhan anak, dan tumpukan utang mahasiswa, kelas pekerja produktif kehabisan ruang arus kas untuk rutin berinvestasi.

Bursa saham yang sedianya merupakan mesin pendorong mobilitas sosial maupun ekonomi kaum muda, kini ternyata menjadi fungsi benteng penjaga kekayaan bagi generasi masa lalu yang sudah tidak produktif dengan jendela waktu kehidupan yang kian memendek seiring dengan waktu.

Ancaman 'Silver Tsunami'

Kombinasi antara dominasi aset oleh lansia dan minimnya populasi usia produktif berujung pada potensi guncangan Silver Tsunami. Menjelang akhir dekade pada 2030, seluruh kelompok Baby Boomers di AS dipastikan akan berusia minimal 65 tahun, dan warga di atas usia 75 tahun akan mendominasi sekitar 10% dari total populasi negara.

Sejumlah pihak menggantungkan harapan pada The Great Wealth Transfer, ini merupakan sebuah proyeksi perpindahan warisan aset senilai US$ 68 triliun hingga US$ 84 triliun dari generasi Boomers ke anak-cucu mereka dalam 20 tahun ke depan.

Namun, pakar ekonomi mewanti-wanti bahwa ini tidak akan memperbaiki kesenjangan secara agregat. Karena lebih dari 50,2% kekayaan nasional hanya dikuasai oleh 1% kelompok elit (menurut data Federal Reserve), gelombang warisan raksasa ini hanya akan mengalir vertikal ke keturunan elit pula yang memiliki orang tua atau kakek-nenek di level UHNWI (Ultra High Net Worth Individuals).

Pada akhirnya, fenomena "Boomcession" menegaskan satu hal yaitu jatuhnya American Dream bukan karena hilangnya produktivitas kaum muda, melainkan akibat sistem ekonomi di mana biaya bertahan hidup jauh melampaui pertumbuhan upah rata-rata nasional secara menyeluruh, sementara instrumen penciptaan kekayaan pasar modal telah dikonsolidasikan oleh satu kelompok demografi dominan yang paling sedikit.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |