Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran langsung direspons secara agresif. Iran dengan cepat melancarkan serangan balasan ke 7 negara di Timur Tengah (Timteng) yang merupakan basis militer AS.
Iran juga memulai serangan besar-besaran ke wilayah Israel, dengan menjatuhkan rudal balistik dan pesawat tak berawak (drone). Sirine tanda bahaya dilaporkan terus berbunyi di seluruh wilayah Israel, mulai dari utara hingga selatan.
Dikutip dari Reuters, Minggu (1/3/2026), Israel dengan cepat melarang publik berkumpul, menutup sekolah dan tempat kerja, hingga memindahkan pasien rumah sakit ke fasilitas bawah tanah pada Sabtu (28/2) waktu setempat.
Bisa dibilang kondisi di Israel tak ubahnya lockdown total, sebab berbagai aktivitas dihentikan sementara waktu.
Menteri Pertahanan Israel Katz mengumumkan keadaan darurat di seluruh negeri, memperingatkan masyarakat tentang serangan rudal dan drone Iran.
Militer memerintahkan masyarakat untuk mengikuti panduan darurat saat mengumumkan puluhan ribu pasukan cadangan dipanggil untuk bertugas, termasuk untuk memperkuat perbatasan darat.
Polisi mendesak agar menghindari perjalanan yang tidak penting sehingga kendaraan keamanan dan darurat dapat bergerak bebas.
Dilindungi sistem pertahanan udara yang canggih, beberapa warga Israel 'kabur' ke pantai di Tel Aviv pada Sabtu (28/2), menjelang respons awal Iran. Mereka mengaku merasa aman dan menyatakan dukungan untuk operasi melawan Iran.
"Sudah waktunya," kata Shira Dorany saat berjalan-jalan di sepanjang promenade tepi Mediterania Tel Aviv.
"Saya tidak ingin menunggu lagi apa yang akan datang. Sekarang, itu akan datang. Mari kita selesaikan," ia menambahkan.
Hanya ada sedikit laporan tentang kerusakan atau cedera akibat serangan rudal awal Iran. Warga Israel umumnya memiliki akses ke tempat perlindungan bom dan diperingatkan untuk segera menuju ke sana oleh sistem peringatan nasional.
Tahun lalu Israel dan Iran berhadapan dalam perang udara, setelah Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran pada Juni 2025, yang kemudian diikuti oleh AS. Perang tersebut berlangsung selama 12 hari, menewaskan lebih dari 30 orang di Israel dan lebih dari 900 orang di Iran.
Tel Aviv mengalami beberapa serangan selama perang tahun lalu, begitu pula sebagian wilayah selatan Israel yang memiliki beberapa pangkalan militer.
Pada Sabtu (28/2) kemarin, Israel menutup wilayah udaranya untuk penerbangan sipil, meskipun perbatasan darat dengan Mesir dan Yordania tetap terbuka, menurut juru bicara dari otoritas bandara.
Kedutaan Besar AS di Yerusalem mengatakan personel pemerintah telah disarankan untuk berlindung di tempat. Sebelumnya, pada Jumat (27/2), Kedutaan Besar AS di Yerusalem memperingatkan staf mereka untuk meninggalkan negara itu jika mereka mau.
Di Yerusalem, orang-orang terlihat bergegas membeli makanan dan menarik uang saat ledakan dari pencegatan rudal bergema di seluruh kota.
Di Pusat Medis Sheba dekat Tel Aviv, petugas medis memindahkan seluruh bangsal rumah sakit ke bawah tanah.
"(Sheba) beralih ke mode kesiapan tingkat lanjut sebagai persiapan untuk serangan di Iran. Kami sedang dalam proses memindahkan semua departemen dan layanan kami ke area yang terlindungi," kata Itai Pessach, direktur jenderal pusat medis tersebut.
Di pantai di Tel Aviv, Maayan Eliasi (43 tahun), mengatakan serangan Israel terhadap Iran diperlukan "untuk menunjukkan bahwa kami kuat. Kami tidak takut, dan kami di sini untuk melindungi tanah kami," ujarnya.
(fab/fab)
Addsource on Google

22 hours ago
3
















































