Israel Makin Kesepian, Kehilangan Banyak Teman

1 hour ago 2

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

21 May 2026 20:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Israel menghadapi tekanan diplomatik dan kritik global yang makin besar akibat perang Gaza, termasuk boikot budaya dan kekhawatiran isolasi internasional.

Meski tetap didukung kuat oleh Amerika Serikat dan memiliki hubungan strategis dengan sejumlah negara Arab serta Eropa, banyak pejabat Israel mulai khawatir negaranya semakin kehilangan simpati dunia.

Di dalam negeri, perang dianggap sebagai perjuangan bertahan hidup, namun sebagian kalangan memperingatkan bahwa tanpa solusi bagi Palestina, Israel berisiko menjadi semakin terisolasi dan menghadapi ketidakstabilan jangka panjang.

Di sebuah gang kecil di Yerusalem, seorang tukang cukur tiba-tiba bertanya, "Semalam nonton Eurovision?"

Pertanyaannya terdengar ringan. Eurovision selama ini dikenal sebagai ajang musik penuh lagu catchy, kostum nyentrik, dan drama khas televisi Eropa. Namun tahun ini, suasananya berbeda. Israel berhasil masuk final, lalu protes politik ikut naik ke atas panggung. Beberapa negara Eropa memboikot acara tersebut sebagai bentuk kritik terhadap operasi militer Israel di Gaza. Saat Israel diumumkan sebagai juara kedua, tepuk tangan bercampur dengan suara cemoohan.

Bahkan kontes lagu pun kini terasa politis.

Dan itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar: perang Gaza tidak lagi hanya memengaruhi kawasan Timur Tengah, tetapi juga cara dunia memandang Israel di ruang-ruang yang sebelumnya jauh dari konflik.

Dalam beberapa bulan terakhir, semakin banyak warga Israel yang merasa negaranya mulai dijauhi. Sejumlah ilmuwan mengaku kesulitan memperpanjang kerja sama riset internasional. Ada orang tua yang khawatir anaknya akan dikucilkan di kampus luar negeri, terutama jika pernah menjalani wajib militer di Israel Defense Forces (IDF).

Namun di saat yang sama, banyak warga Israel merasa dunia tidak sepenuhnya memahami posisi mereka.

Bagi sebagian besar masyarakat Israel, serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 masih menjadi trauma besar. Sekitar 1.200 orang tewas dalam serangan tersebut, mayoritas warga sipil. Karena itu, ketika dunia mengecam operasi militer Israel di Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina, banyak warga Israel merasa kritik tersebut mengabaikan rasa takut yang mereka alami sendiri.

Di titik inilah dua narasi besar saling bertabrakan.

Dunia melihat kehancuran Gaza, korban sipil, dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk. Sementara Israel melihat ancaman keamanan yang mereka yakini nyata dan bisa terulang sewaktu-waktu.

Keduanya sama-sama membentuk cara masing-masing pihak memandang perang ini.

Smoke and flames rise following an Israeli strike near a tent camp sheltering displaced Palestinians in Deir al-Balah, central Gaza Strip, March 25, 2026. The Israeli military ordered camp to evacuate before the strike, according to residents. REUTERS/StringerFoto: REUTERS/Stringer

Meski menghadapi tekanan opini publik global, Israel sebenarnya belum benar-benar terisolasi secara geopolitik. Amerika Serikat masih menjadi sekutu terdekatnya, terutama dalam bidang militer dan keamanan. Negara-negara Eropa tetap menjalin hubungan dagang besar dengan Israel, termasuk kerja sama teknologi dan pertahanan. Beberapa negara Arab juga mulai mempererat hubungan strategis karena memiliki kepentingan regional yang sama, terutama terkait Iran.

Artinya, ada dua realitas yang berjalan bersamaan.

Secara moral, citra Israel di mata publik global mengalami penurunan di banyak tempat. Namun secara strategis, negara itu masih dianggap penting oleh banyak pemerintahan.

Dan sering kali, kepentingan geopolitik tidak selalu berjalan searah dengan opini publik.

Di balik itu, muncul kekhawatiran lain, termasuk dari dalam Israel sendiri. Sejumlah mantan pejabat keamanan mulai mempertanyakan apakah kekuatan militer saja cukup untuk menciptakan stabilitas jangka panjang. Sebab perang mungkin bisa menghancurkan infrastruktur atau kelompok bersenjata, tetapi tidak otomatis menghilangkan rasa marah, trauma, dan kehilangan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di sisi lain, masyarakat Israel juga hidup dengan trauma dan ketakutan mereka sendiri akibat ancaman serangan yang terus berlangsung selama bertahun-tahun.

Karena itu, konflik ini sering terasa seperti pertemuan antara dua rasa takut yang sama-sama besar.

Dan mungkin itu pula yang membuat diskusi soal Israel dan Palestina semakin sulit dilakukan secara tenang. Di era media sosial, orang sering didorong untuk segera memilih posisi, bahkan sebelum sempat memahami konteks yang lebih utuh. Padahal konflik ini dibentuk oleh sejarah panjang, kepentingan politik, keamanan regional, identitas, hingga trauma kolektif yang tidak sederhana.

Akibatnya, ruang diskusi publik sering dipenuhi emosi, sementara penjelasan yang runtut justru semakin jarang ditemukan.

Di tengah situasi seperti itu, banyak orang akhirnya merasa lelah mengikuti isu ini. Sebagian mulai mempertanyakan apakah perhatian publik benar-benar bisa mengubah sesuatu.

Namun di sisi lain, rasa lelah juga tidak otomatis membuat masalahnya hilang.

Sebab selama belum ada jalan yang memberi rasa aman bagi kedua belah pihak, konflik ini kemungkinan akan terus meninggalkan dampak, bukan hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga bagi hubungan diplomatik, opini publik global, hingga cara masyarakat dunia melihat isu kemanusiaan dan keamanan di masa depan.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |