loading...
Pangkalan Angkatan Laut HMAS Stirling di Australia akan jadi markas kapal selam AS dan Inggris. Kehadiran kapal selam tersebut membuat Australia berisiko jadi target serangan nuklir China. Foto/Naval Historical Society of Australia
SYDNEY - Seorang pakar memperingatkan bahwa salah satu pangkalan penting Angkatan Laut Australia kini berada dalam bidikan negara-negara asing yang bermusuhan, termasuk China, dan bahkan berpotensi menjadi target serangan nuklir. Mulai 2027, HMAS Stirling—yang berada di lepas pantai Perth—akan menjadi tempat singgah bergiliran kapal selam Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Melalui program Submarine Rotation Force West (SRF-West), sedikitnya satu kapal selam Inggris dan hingga empat kapal selam AS bertenaga nuklir namun dipersenjatai secara konvensional akan bergiliran beroperasi dari pangkalan di negara tetangga Indonesia tersebut hingga 2032.
Baca Juga: AS Bicara Kemungkinan Perang Nuklir, Sebut Rusia dan China Lawan Setara
Namun, muncul kekhawatiran bahwa kapal selam bertenaga nuklir dan bersenjata milik negara-negara sekutu akan ditempatkan di HMAS Stirling jauh setelah 2032, sehingga pangkalan tersebut berpotensi menjadi target serangan nuklir yang sah.
“Sinyal Peringatan”
Mantan Senator federal Australia Selatan dan mantan awak kapal selam Angkatan Laut Australia, Rex Patrick, yang menyebut dirinya sebagai “pejuang transparansi”, mengatakan jelas ada sesuatu yang lebih besar terjadi di Australia Barat daripada yang diungkapkan pemerintah.
Patrick mengatakan kondisi tersebut dapat menjadikan HMAS Stirling sebagai target utama rudal nuklir China atau Rusia jika perang pecah.
Pangkalan tersebut berada di Garden Island, lepas pantai wilayah selatan Perth.
Dia mengatakan sejumlah artikel di China bahkan telah menyerukan agar Australia dijadikan “sinyal peringatan” bagi AS.
“Daripada menembakkan senjata nuklir ke Amerika Serikat pada saat konflik, yang dapat memicu aksi saling serang, menembakkan senjata nuklir ke negara ketiga seperti Australia berpotensi tidak menyebabkan pertukaran serangan tersebut, tetapi dapat menjadi sinyal kepada Amerika Serikat agar mundur,” kata Patrick, seperti dikutip news.com.au, Minggu (23/8/2026).
Dia menambahkan bahwa rudal balistik antarbenua (ICBM) China kini dapat menjangkau wilayah Australia.
Jika hal itu terjadi, katanya, puluhan ribu orang akan tewas di sekitar lokasi ledakan, sementara ratusan ribu lainnya dapat meninggal akibat keracunan radiasi dalam beberapa hari dan bulan berikutnya.
Dia menambahkan bahwa Canberra tidak siap menghadapi skenario seperti itu.
“Saya sebenarnya telah melakukan sejumlah penyelidikan mengenai bagaimana Australia melanjutkan operasi dalam kondisi ekstrem seperti serangan nuklir, termasuk kesinambungan pemerintahan. Mereka relatif tertutup mengenai hal itu, tetapi kita telah melihat respons terhadap berbagai peristiwa seperti kebakaran hutan di seluruh Australia timur, ketika Australia saja sudah kesulitan. Padahal, kebakaran hutan di Australia jauh lebih kecil dampaknya dibandingkan sesuatu seperti serangan nuklir,” ujarnya.
Patrick mendesak Canberra mengungkapkan lebih banyak informasi mengenai apa yang terjadi di HMAS Stirling.
“Pemerintah Australia perlu melibatkan rakyat Australia. Daripada membuat warga dan jurnalis harus mencari-cari informasi sendiri, pemerintah memiliki kewajiban untuk menjelaskan secara tepat apa yang sedang terjadi. Sayangnya, mereka belum melakukan itu,” katanya.
Departemen Perang AS telah dimintai komentar, namun belum merespons.
Langkah Besar Amerika di Australia
Leland Bettis, pakar dari Pacific Centre for Island Security (PCIS)—lembaga penelitian yang berbasis di Guam—mengatakan Angkatan Laut AS telah dengan cepat meningkatkan infrastrukturnya di Stirling dan secara drastis memangkas pendanaan untuk peningkatan pangkalan angkatan laut di Guam. Menurutnya, langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa AS secara diam-diam menjadikan pangkalan Australia Barat itu sebagai basisnya sendiri.
“Pendanaan seharusnya dilakukan pada tahun fiskal 2026. Namun, ketika kita melihat anggarannya, Departemen Pertahanan AS tampaknya mengajukan proposal yang diperkecil, dan tidak satu pun dari dana tersebut disetujui. Hampir USD1 miliar atau AUD1,41 miliar dalam pendanaan yang diusulkan tidak disahkan dalam anggaran fiskal AS 2026. Nol,” katanya kepada news.com.au.
Menurut Bettis, HMAS Stirling merupakan lokasi ideal bagi kapal selam bertenaga nuklir milik sekutu karena berada di luar “zona keterlibatan senjata” dalam potensi konflik antara China dan Taiwan.
Pangkalan tersebut juga akan mendapatkan dok apung yang mampu mendukung kapal selam kelas Virginia milik AS mulai awal 2030-an.
Angkatan Laut AS juga telah membangun Naval Support Activity, yang akan menyediakan layanan dukungan dan berbagai program bagi personel militer AS, pegawai sipil, kontraktor, serta keluarga mereka yang ditempatkan di SRF-West. Bettis menyebut pembangunan tersebut sebagai langkah yang “signifikan”.
“Naval Support Activity pada dasarnya adalah instalasi Angkatan Laut AS yang berbasis di darat. Tugas utamanya adalah mengelola pangkalan dan menyediakan logistik, keamanan, administrasi, serta berbagai layanan lainnya sehingga awak yang sedang berada di laut dapat fokus pada misi mereka... Itu pada dasarnya berarti menjalankan operasi sebuah pangkalan," paparnya.





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5571042/original/028163100_1777571796-WhatsApp_Image_2026-05-01_at_00.47.21.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5640990/original/043525100_1778245879-haj5.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4476891/original/020351400_1687414010-Banner_Infografis_Badal_Haji_dan_Cara_Dapatkan_Asuransi_Jemaah_Haji.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6600625/original/041656800_1779437299-1.jpg)

