Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
18 April 2026 15:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemulihan ekosistem di sejumlah wilayah dan negara kerap membutuhkan kebijakan radikal, termasuk pemberantasan hewan tertentu.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta tengah menggelar operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu di sejumlah wilayah perairan Ibu Kota pada Jumat lalu. Hasilnya, sebanyak 6,9 ton ikan sapu-sapu berhasil diangkat dari sungai dan waduk Jakarta.
Operasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem perairan Jakarta. Pemprov menilai dominasi ikan sapu-sapu telah mengganggu keseimbangan lingkungan karena spesies invasif ini berkembang sangat cepat dan menekan populasi ikan lokal.
Ikan sapu-sapu dikenal mampu bertahan di perairan tercemar dan memiliki tingkat reproduksi tinggi. Akibatnya, spesies ini kerap mendominasi sungai dan waduk, sekaligus mengancam habitat organisme lain.
Foto: Ikan sapu sapu. (Istimewa)
Ikan sapu sapu. (Istimewa)
Karena itu, pengendalian populasi ikan sapu-sapu dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya lewat operasi penangkapan, tetapi juga melalui perbaikan kualitas air dan pengawasan pelepasan spesies asing ke perairan umum.
Pemprov berharap lewat kolaborasi pemerintah, komunitas, dan masyarakat, kualitas air serta ekosistem sungai Jakarta bisa terus membaik ke depan.
AS Berburu Tikus
Jakarta tak sendiri, kebijakan serupa pernah dilakukan di sejumlah negara.
Kawasan Pasifik menunjukkan hasil signifikan setelah program eradikasi atau pembasmian tikus invasif berhasil dilakukan di Wake Atoll, Samudra Pasifik Utara mulai akhir 2024.
Tikus invasif selama ini dikenal sebagai predator utama yang memangsa telur dan anak burung laut, sehingga menekan tingkat keberhasilan reproduksi spesies asli.
Pembasmian tikus di Wake Atoll bukan perkara mudah. Lokasinya yang sangat terpencil, cuaca ekstrem, dan infrastruktur militer yang sensitif menjadi tantangan besar.
Untuk itu, dibentuklah kolaborasi antara Island Conservation, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), dan Skuadron Teknik Sipil Angkatan Udara AS.
Sebelum operasi digelar, populasi tikus di sana bahkan melebihi jumlah manusia dengan rasio 1.000 banding 1 yang. Tikus disana merusak kabel listrik, mencemari pasokan makanan, hingga berlarian di atas warga yang sedang tidur.
Alam Bangkit dalam Waktu Singkat
Dalam waktu hanya satu tahun setelah program eradikasi tikus dilakukan, pemulihan ekosistem menunjukkan hasil yang melampaui ekspektasi.
Sebanyak 16 spesies burung laut kembali bersarang di kawasan tersebut, termasuk Laysan Albatross, Black-footed Albatross, Wedge-tailed Shearwater, Red-footed Booby, dan Red-tailed Tropicbird. Kembalinya berbagai spesies ini menandai pulihnya habitat alami yang sebelumnya terganggu oleh predator invasif.
Foto: https://www.fws.gov/
Pulau Wake Atoll
Fenomena paling mencolok terlihat dari kemunculan koloni sekitar 2.000 ekor Sooty Tern di Atol Bikar, padahal pada tahun sebelumnya tidak ditemukan satupun sooty tern di lokasi tersebut.
Di daratan, pemulihan juga terjadi secara cepat. Ribuan bibit pohon Pisonia tumbuh di area yang sebelumnya gundul, diikuti lonjakan populasi fauna kecil seperti kepiting pertapa, tokek, laba-laba, dan ngengat. Hal ini menunjukkan bahwa hilangnya tekanan predator membuka ruang bagi regenerasi ekosistem secara menyeluruh.
Pemulihan ekosistem ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dirasakan langsung oleh warga yang menetap di pulau. Hilangnya tikus invasif secara signifikan menurunkan risiko penularan penyakit, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman. Perubahan ini turut mengubah suasana pulau menjadi lebih hidup, seiring kembalinya berbagai spesies asli.
Dampak positif tersebut juga memicu partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Warga mulai menggelar kegiatan bersih pantai dan aksi konservasi lanjutan, sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem yang mulai pulih.
Keberhasilan di Wake Atoll kini menjadi contoh konkret bagi upaya restorasi ekosistem di pulau-pulau terpencil lainnya di kawasan Pasifik.
Pulau South Georgia Resmi Bebas Tikus, Burung Langka Bangkit Lagi
Pada 18 Mei 2018, Pulau South Georgia resmi dinyatakan bebas dari tikus dan mencit setelah proyek eradikasi besar-besaran yang dipimpin South Georgia Heritage Trust.
Tikus diduga masuk sejak era ekspedisi pemburu anjing laut, lalu menyebar ke hampir dua pertiga garis pantai pulau. Selama dua abad, hewan invasif ini memakan telur dan anak burung, menyebabkan populasi burung lokal merosot tajam dan beberapa spesies terancam punah.
Untuk mengatasinya, dilakukan tiga tahap penebaran umpan pada 2011, 2013, dan 2015 menggunakan helikopter serta metode manual. Pada tahap akhir 2017-2018, tim khusus selama enam bulan mencari sisa tikus dengan ribuan alat deteksi dan anjing pelacak.
Foto: https://iaato.org/
Pulau South Georgia
Hasilnya, tak ditemukan lagi tanda-tanda tikus. Sebaliknya, burung endemik seperti South Georgia pipit dan South Georgia pintail mulai pulih drastis.
Dengan luas lebih dari 100.000 hektare, proyek ini menjadi salah satu operasi pemberantasan tikus terbesar di dunia dan kini dilindungi sistem biosekuriti ketat agar tikus tak kembali lagi.
Proyek terbesar di dunia untuk memberantas spesies invasif berbahaya dinyatakan berhasil, setelah pulau terpencil South Georgia kini bebas dari tikus dan mencit yang telah merusak satwa liarnya selama hampir 250 tahun.
Tikus dan mencit tanpa sengaja dibawa ke pulau tersebut-yang berada di lepas ujung selatan South America dan dekat Antarctica-oleh kapal-kapal yang singgah di sana, umumnya dalam ekspedisi perburuan paus. Dampaknya terhadap populasi burung asli sangat besar. Karena tidak terbiasa dengan predator, burung-burung itu bertelur di tanah atau di liang, sehingga mudah dijangkau hewan pengerat tersebut.
Dua spesies burung yang hanya ada di pulau itu, yakni South Georgia pipit dan South Georgia pintail, sebagian besar terpaksa bertahan di beberapa pulau kecil di lepas pantai yang tidak bisa dijangkau tikus. Sementara itu, populasi penguin dan berbagai burung laut lainnya juga ikut terancam.
Pulau Macquarie Bangkit Usai Tikus & Kelinci Dibasmi
Delapan belas tahun lalu, Pulau Macquarie di kawasan sub-Antartika rusak parah akibat invasi kelinci, tikus, dan mencit. Satwa liar terancam, erosi parah memicu longsor, bahkan ratusan penguin raja pernah tewas.
Pada 2007, pemerintah Australia meluncurkan proyek besar senilai US$25 juta untuk memusnahkan tiga hama sekaligus lewat penebaran umpan udara, virus calici, serta anjing pelacak.
Pada 2014, pulau itu resmi dinyatakan bebas hama setelah dua tahun tanpa jejak tikus, mencit, atau kelinci.
Kini hasilnya dramatis adalah vegetasi pulih luar biasa, lereng kembali stabil, dan habitat burung laut seperti albatros membaik pesat. Peneliti menyebut kondisi pulau kini "sangat sehat" dibanding masa lalu.
Foto: https://www.antarctica.gov.au/
, Pulau Macquarie di kawasan sub-Antartika
(mae/mae)
Addsource on Google

5 hours ago
2
















































