Jakarta, CNBC Indonesia - Tampilan makanan yang menarik belum tentu aman dikonsumsi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap kemungkinan penyalahgunaan bahan berbahaya pada pangan, seperti formalin, boraks, hingga pewarna tekstil.
"Keliatannya menarik, tapi.... Tampilan menarik belum tentu aman. Sebagai konsumen kita perlu lebih jeli sebalum beli dan mengkonsumsi pangan," kata BPOM dalam keterangan unggahan Instagram @bpom_ri dikutip pada Rabu (4/3/2026).
BPOM menyebut sejumlah bahan kimia yang seharusnya digunakan untuk keperluan industri kerap disalahgunakan pada makanan untuk membuat produk terlihat lebih menarik atau tahan lama. Salah satu yang paling sering ditemukan adalah formalin.
Zat ini sebenarnya digunakan sebagai pengawet kayu, tekstil, hingga organ tubuh. Namun secara ilegal, formalin kadang digunakan untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat rusak.
Ciri-ciri makanan mengandung formalin
BPOM menjelaskan, makanan yang mengandung formalin biasanya memiliki beberapa ciri, termasuk:
1. Teksturnya tidak mudah putus atau hancur
2. Memiliki bau khas formalin
3. Dapat bertahan lebih dari satu hari di suhu ruang
"Beberapa jenis pangan yang sering ditemukan mengandung formalin antara lain mi basah, tahu, hingga ikan dan lain-lain. Konsumsi formalin secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat memicu gangguan kesehatan," kata BPOM dalam unggahan tersebut.
Selain formalin, masyarakat juga diminta mewaspadai penyalahgunaan boraks, yang dikenal juga dengan sebutan bleng atau pijer. Bahan ini sering dipakai secara ilegal untuk membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan tampak menarik.
Ciri makanan mengandung boraks
Makanan yang mengandung boraks biasanya:
1. Memiliki tekstur sangat kenyal
2. Tidak mudah hancur dan tidak lengket
3. Pada beberapa produk seperti kerupuk gendar, boraks juga dapat menimbulkan rasa getir.
"Jenis pangan yang kerap ditemukan mengandung boraks antara lain bakso, mi basah, siomay, lontong, dan kerupuk gendar. Konsumsi boraks dalam jangka panjang berisiko menyebabkan gangguan kesehatan," jelas BPOM.
BPOM juga menyoroti penggunaan pewarna tekstil pada makanan, seperti Rhodamin B. Zat ini sebenarnya digunakan sebagai pewarna sintetis pada industri kertas dan tekstil, tetapi kadang disalahgunakan pada makanan.
Ciri pangan yang mengandung Rhodamin B antara lain warna merah muda atau pink yang sangat mencolok dan berpendar, serta warna yang tidak merata atau muncul titik-titik warna. Zat ini sering ditemukan pada kerupuk, jajanan pasar seperti kue lapis, hingga minuman.
Selain itu ada pula Methanyl Yellow, pewarna tekstil yang kadang digunakan pada makanan seperti tahu kuning atau kerupuk kuning. Pangan yang mengandung zat ini biasanya memiliki warna kuning sangat mencolok dan tampak berpendar dengan warna yang tidak homogen.
Menurut BPOM, konsumsi bahan-bahan berbahaya tersebut dalam jangka panjang berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga risiko kanker.
"Kenali risikonya, perhatikan ciri-cirinya, dan pilih pangan yang jelas keamanannya. Yuk, jadi konsumen cerdas demi kesehatan jangka panjang," tukas BPOM.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

3 hours ago
1
















































