Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
07 March 2026 12:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Timur Tengah kembali berada di ambang krisis besar setelah Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangan besar ke Iran tepat satu pekan lalu, pada Sabtu (28/2/2026).
Serangan itu juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang menjadi sebuah perkembangan yang langsung mendorong eskalasi ke level yang jauh lebih berbahaya.
Setelah serangan tersebut, Iran melancarkan balasan berupa serangan rudal dan drone ke Israel serta target-target di negara-negara Teluk yang berkaitan dengan fasilitas militer AS. Bahkan, intelijen AS juga memperingatkan potensi serangan lanjutan dari Iran dan kelompok proksinya, termasuk lewat jalur siber.
Krisis terbaru ini menunjukkan bahwa konflik yang sedang berlangsung tidak bisa hanya dibaca sebagai satu hal baru. Di balik perang yang kini sudah terlanjur pecah, ada dua permusuhan panjang yang saling terkait, yakni konflik historis Iran dengan AS yang berakar sejak kudeta 1953 dan Revolusi Iran 1979 serta konflik Iran dengan Israel yang dalam beberapa tahun terakhir berubah dari perang bayangan menjadi bentrokan langsung.
Karena itu, untuk memahami besarnya eskalasi yang sedang terjadi saat ini, perjalanan konflik Iran dengan AS dan Iran dengan Israel perlu untuk kita semua ketahui.
Perjalanan Konflik Antara AS Dengan Iran
Hubungan Iran dan AS sudah lama diwarnai pasang surut. Pada era Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran justru menjadi sekutu utama Washington di Timur Tengah.
Titik baliknya datang pada 1953 atau 73 tahun lalu, ketika kudeta yang didukung oleh CIA menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh dan memperkuat kembali kekuasaan Shah. Dari sana, Iran semakin condong ke Barat, dengan menerima dukungan ekonomi, militer, dan teknologi, termasuk kerja sama nuklir sipil lewat program Atoms for Peace.
Namun, hubungan itu runtuh total setelah terjadinya Revolusi pada 1979. Rezim Shah tumbang, Ayatollah Ruhollah Khomeini pun mengambil alih kekuasaan dan Iran berubah menjadi republik Islam yang secara terbuka menjadi anti Barat.
Tak berhenti sampai di situ, peristiwa penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979-1981 menjadi puncak pecahnya hubungan kedua negara, ketika 52 warga AS disandera selama 444 hari. Sejak saat itu, hubungan Washington-Teheran mulai berubah dari sekedar rivalitas politik menjadi dendam.
Pada dekade 1980-an, AS dan Iran belum berperang langsung dalam skala penuh, tetapi sudah berhadapan melalui banyak front.
Washington mendukung Irak dalam Perang Iran-Irak, sementara ketegangan di Teluk melahirkan bentrokan langsung seperti Operasi Praying Mantis pada 1988.
Setelah itu, permusuhan berlanjut lewat embargo, sanksi ekonomi, dan tuduhan bahwa Iran mendukung kelompok-kelompok bersenjata yang mengancam kepentingan AS serta sekutunya di kawasan Teluk.
Hubungan keduanya sempat memasuki momen yang sedikit membaik saat kesepakatan nuklir JCPOA tercapai pada 2015.
Namun momen itu tak bertahan lama. Pada 2018, Presiden Donald Trump menarik AS keluar dari JCPOA dan memulihkan sanksi keras terhadap Iran. Ketegangan lalu melonjak lagi pada 2020 saat AS membunuh Jenderal Qassem Soleimani, tokoh militer paling berpengaruh di Garda Revolusi Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke pangkalan AS di Irak.
Terakhir tak berselang lama sebelum serangan AS-Israel ke Iran pada Akhir Februari 2026, AS sempat melakukan serangan dengan sandi operasi "Midnight Hammer". Operasi ini sebagai upaya untuk melumpuhkan program nuklir Iran, sekaligus memberi peringatan keras agar Teheran tidak kembali mengembangkan kemampuan nuklirnya.
Dari Tel Aviv Hingga Tehran: Ini Jejak Panjang Konflik Kedua Negara
Berbeda dengan Iran-AS yang akarnya sangat panjang, hubungan Iran dan Israel awalnya justru tidak selalu bermusuhan. Sebelum Revolusi Islam terjadi, Iran termasuk salah satu negara di Timur Tengah yang pernah memiliki hubungan terbuka dengan Israel.
Namun setelah revolusi, rezim baru di Teheran menempatkan Israel sebagai musuh ideologis utama, dan sejak saat itu permusuhan keduanya terus membesar, terutama lewat dukungan Iran kepada kelompok-kelompok seperti Hezbollah dan Hamas.
Selama bertahun-tahun, konflik Iran-Israel lebih banyak berlangsung dalam bentuk perang bayangan.
Israel menuduh Iran membangun jaringan militer dan pasokan senjata di Suriah, Lebanon, Irak, dan wilayah lain untuk mengancam Israel dari berbagai arah.
Iran di sisi lain memosisikan diri sebagai "poros perlawanan" terhadap Israel. Dalam fase ini, serangan siber, sabotase, pembunuhan terhadap ilmuwan, dan operasi intelijen menjadi bagian penting dari eskalasi kedua negara, meski keduanya belum berhadapan dalam perang langsung terbuka.
Eskalasi besar pun muncul pada 2024 ketika Iran dan Israel akhirnya terlibat serangan langsung.
Iran meluncurkan ratusan drone dan misil ke Israel pada April 2024 sebagai balasan atas serangan terhadap gedung diplomatik Iran di Damaskus.
Israel kemudian membalas dengan serangan ke sistem pertahanan udara milik Iran. Rangkaian ini menjadi penanda bahwa konflik keduanya telah bergeser dari perang bayangan menuju konfrontasi langsung.
Konflik itu meledak lebih besar lagi pada Juni 2025. Ketika Israel meluncurkan Operasi yang dinamakan "Rising Lion". Sebuah operasi besar yang menargetkan fasilitas nuklir, situs militer, dan infrastruktur strategis Iran.
Israel menyebut serangan itu diperlukan untuk mencegah Iran membangun senjata nuklir, sementara Iran membalas dengan serangan rudal ke Israel. Sejak saat itu, hubungan kedua negara masuk ke babak perang terbuka yang lebih jauh lagi.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

3 hours ago
3















































