Kasus Penipuan Terbesar Bikin Geger RI, Banyak Pejabat Jadi Korban

10 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kasus penipuan besar pernah terjadi di Indonesia puluhan tahun lalu. Korbannya tak main-main, dari pejabat tinggi hingga menyeret nama presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Kejadian ini dimulai saat seorang pria berusia 42 tahun bernama Indrus dari Palembang muncul pada 8 Agustus 1957. Dia mengaku sebagai pangeran dari wilayah yang menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Idrus yang datang bersama lima orang dengan penampilam sipil-militer makin meyakini masyarakat. Dia juga mengatakan kedatangannya ke kota karena tempat tinggalnya terjadi konflik dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), yang merupakan gerakan protes dari Sumatera Barat karena pemerintah pusat yang sentralisasi dan melupakan daerah.

Catatan koran Belanda Het Parool (19 Juli 1958) pengakuan Idrus ini lama kelamaaan diyakini banyak orang, tak terkecuali walikota Palembang saat itu. Ini juga yang membuat Idrus diterbangkan ke Jakarta bertemu dengan Soekarno.

Pertemuan tersebut terjadi pada 10 Maret 1985 di Istana Negara, demikian laporan Nieuwsblad van het Zuiden (7 April 1959). Dalam pertemuan dengan Soekarno, Idrus mengaku sebagai bangsawan dan raja dari Suku Anak Dalam.

Perlu dicatat jika Suku Anak Dalam tak memiliki raja ataupun ratu. Di sana hanya ada kepala suku sebagai jabatan tertinggi.

Soekarno yang mempercayai klaim itu langsung menghormatinya. Idrus dijamu dengan berbagai kekayaan, seperti berkeliling kota di Jawa dengan biaya negara dan mendapatkan pengawalan dari pihak kepolisian.

Dia pergi ke berbagai kota dari Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta hingga Madiun. Sambutan meriah dari pemimpin daerah didapatkannya di tiap kota.

Saat berkunjung di Bandung, dia juga bertemu seorang Markonah. Perempuan inilah yang kemudian dinikahinya, dan keduanya memperkenalkan diri sebagai raja dan ratu saat berkeliling di Pulau Jawa.

Penipuan ini akhirnya terbongkar saat berada di Madiun. Nieuwsblad van het Noorden (7 April 1959) melaporkan otoritas setempat mulai menaruh curiga karena perilaku kedua orang itu tidak seperti bangsawan.

Kemudian, pasangan tersebut diinterogasi oleh pihak kepolisian dan terbukti mereka bukan seorang raja dan ratu. Idrus diketahui hanya seorang kepala desa, sementara Markonah hanya perempuan biasa.

Kasus itu kemudian dibawa ke pengadilan. Keduanya mengaku bersalah dan memohon keringan hukuman, namun majelis hakim menjatuhkan hukuman 9 bulan penjara.

Kasus ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Sebab banyak pejabat hingga presiden RI yang menjadi korban.

(hsy/hsy)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |