Ketegangan AS-Kuba Memuncak, Rusia Buka Suara

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia memperingatkan meningkatnya ketegangan di Kuba menyusul insiden mematikan yang melibatkan kapal cepat berplat nomor Amerika Serikat (AS) di perairan negara tersebut.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow mencermati eskalasi situasi di Kuba setelah insiden bentrokan laut tersebut. Kremlin menilai situasi di Kuba semakin memburuk, terutama dari sisi kemanusiaan, di tengah krisis ekonomi dan energi yang berkepanjangan.

"Kami melihat bahwa situasi di sekitar Kuba meningkat. Yang terpenting adalah komponen kemanusiaan. Masalah kemanusiaan warga Kuba harus diselesaikan, dan tidak seorang pun boleh menciptakan hambatan," kata Peskov kepada wartawan, dikutip dari kantor berita Rusia, Jumat (27/2/2026).

Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah Kementerian Dalam Negeri Kuba melaporkan bahwa penjaga perbatasan negara itu menewaskan empat orang dan melukai enam lainnya dalam bentrokan dengan sebuah kapal cepat berplat Florida, AS, di lepas pantai utara Kuba.

Menurut otoritas Kuba, kapal tersebut memasuki perairan teritorial tanpa izin. Sepuluh penumpang di atasnya dilaporkan melepaskan tembakan ke arah patroli Kuba, sehingga aparat membalas tembakan.

Kementerian Dalam Negeri Kuba menyebut seluruh penumpang kapal merupakan warga negara Kuba yang bermukim di AS. Mereka disebut bersenjata dan sebagian memiliki catatan kriminal sebelumnya. Aparat menyita sejumlah barang dari kapal tersebut, termasuk senapan serbu, pistol, alat peledak rakitan, serta seragam kamuflase.

Dari pihak Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menggambarkan insiden itu sebagai kejadian yang "sangat tidak biasa".

"Ini adalah peristiwa yang sangat tidak biasa, dan kami akan menanggapi dengan tepat setelah melakukan penyelidikan independen," ujar Rubio.

Insiden ini terjadi di tengah tekanan ekonomi berat yang dialami Kuba, terutama akibat krisis bahan bakar. Havana menyebut kondisi tersebut diperparah oleh kebijakan AS yang membatasi pasokan minyak ke negara Karibia itu.

Pemerintahan Donald Trump sebelumnya menyatakan Kuba menimbulkan "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa", serta berjanji akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba. Kuba mengutuk langkah tersebut dan menyebutnya sebagai tekanan sepihak.

Akibat keterbatasan bahan bakar, pemerintah Kuba telah mengambil langkah penghematan, termasuk membatasi pasokan energi untuk sejumlah sektor kunci demi menjaga layanan publik tetap berjalan.

Situasi tersebut juga memicu kekhawatiran internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan potensi "keruntuhan" kemanusiaan di Kuba jika pasokan minyak terus menipis.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |