Lebih dari 300 Pendidik Ikuti Pelatihan Human AI Collaboration, Komunitas IDEA Diresmikan

11 hours ago 3

loading...

Pelatihan bersertifikat Pendidikan Berbasis Human AI Collaboration yang digelar Cendekian Corporate Learning and Development bersama Children’s House–Cendekia Harapan berkolaborasi dengan Kreats Technology. Foto/Ist.

JAKARTA - Di tengah perdebatan tentang peran teknologi di kelas, pelatihan bersertifikat Pendidikan Berbasis Human AI Collaboration yang digelar Cendekian Corporate Learning and Development bersama Children’s House–Cendekia Harapan berkolaborasi dengan Kreats Technology menghadirkan jawaban yang konkret.

Acara yang diikuti lebih dari tiga ratus pendidik, dengan lebih dari seratus sepuluh peserta hadir luring. Energi kolaboratif ini mengerucut pada lahirnya komunitas Indonesia Development of Education and AI atau IDEA, ruang bersama untuk menyulam praktik, etika, dan jejaring dukungan antarguru agar pemanfaatan AI di sekolah berjalan aman, efektif, dan bermakna.

Baca juga: Cara Daftar TKA 2025: Jadwal, Simulasi Online, dan Manfaat Sertifikat untuk Siswa

Sesi pembuka menghadirkan sambutan Sheena Abigail, selaku Vice Principal CH School dan COO CH Group. Ia menggarisbawahi bahwa literasi sains dan teknologi bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan nadi inovasi pembelajaran. Undangan Sheena tegas dan jelas: sekolah perlu bergerak serentak, bukan hanya mencoba alat, tetapi membentuk budaya kolaborasi manusia dan AI yang berpijak pada keselamatan, etika, serta relevansi bagi murid.

Keynote speech pertama disampaikan Prof Toni Toharudin, Kepala BSKAP Kemendikdasmen. Pandangannya menohok kebiasaan lama yang masih bertahan di ruang kelas. Menurut Prof Toni, masa depan pendidikan tidak bertumpu pada hafalan, melainkan pada orkestrasi kolaborasi manusia dan kecerdasan buatan.

Guru diposisikan sebagai arsitek pembelajaran yang merancang pengalaman belajar kritis, kreatif, dan beretika. Ia mendorong kurikulum dan asesmen yang menumbuhkan penalaran, literasi data, serta tanggung jawab etis, sambil membangun budaya inovasi yang aman dan inklusif agar teknologi benar-benar memperkuat misi kemanusiaan pendidikan.

Pada sesi berikutnya, Lidia Sandra S, Wakil Rektor I Universitas Bali Dwipa dan CEO CH Group, menyerukan perubahan yang berakar pada tujuan pendidikan. AI, menurutnya, bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk berkolaborasi dan membebaskan guru serta pelajar dari sekadar mengerjakan tugas menuju ruang berpikir, berkreasi, dan memetik hikmah.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |