Ledakan Bom Guncang Restoran di Ibu Kota, 7 Tewas-Pelaku Terungkap

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah ledakan besar mengguncang kawasan komersial yang di ibu kota Afghanistan, Kabul, pada Senin (19/1/2026) waktu setempat, menewaskan satu warga negara China dan enam warga Afghanistan, serta melukai sejumlah orang lainnya, termasuk seorang anak.

Ledakan terjadi di sebuah restoran mi China yang beroperasi di dalam hotel di kawasan Shahr-e-Naw, wilayah yang dikenal sebagai salah satu distrik paling aman di Kabul. Area tersebut dipenuhi gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, serta sejumlah kedutaan asing.

Juru bicara kepolisian Kabul, Khalid Zadran, mengatakan restoran yang terdampak ledakan itu dikelola bersama oleh seorang Muslim China bernama Abdul Majid, istrinya, serta mitra asal Afghanistan, Abdul Jabbar Mahmood. Restoran tersebut dikenal melayani komunitas Muslim China di Kabul.

Menurut Zadran, ledakan terjadi di dekat area dapur. Seorang warga negara China yang diidentifikasi bernama Ayub tewas dalam insiden tersebut bersama enam warga Afghanistan.

"Satu warga negara China, yang diidentifikasi sebagai Ayub, dan enam warga Afghanistan tewas dalam ledakan itu, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka," ujarnya, dilansir Al Jazeera.

Beberapa video yang beredar di media sosial memperlihatkan puing-puing berserakan di jalan, dengan asap mengepul dari lubang besar yang menganga di bagian depan bangunan restoran.

Kelompok ISIS cabang Afghanistan (ISIL) kemudian mengeklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam pernyataannya, kelompok itu menyebut ledakan dilakukan oleh seorang pelaku bom bunuh diri.

Kantor berita Amaq yang berafiliasi dengan ISIL menyatakan bahwa kelompok tersebut telah menempatkan warga negara China sebagai target, dengan alasan apa yang mereka sebut sebagai "meningkatnya kejahatan pemerintah China terhadap warga Uighur".

Berbagai kelompok hak asasi manusia menuduh Beijing melakukan pelanggaran luas terhadap warga Uighur, kelompok etnis Muslim berjumlah sekitar 10 juta orang yang tinggal di wilayah barat jauh China, Xinjiang. Pemerintah China membantah tuduhan tersebut dan menuduh negara-negara Barat melakukan campur tangan serta menyebarkan kebohongan.

Sementara itu, organisasi nonpemerintah asal Italia, Emergency, menyatakan bahwa fasilitas medis yang mereka kelola di Kabul menerima 20 korban akibat ledakan tersebut. Dari jumlah itu, tujuh orang dinyatakan meninggal dunia saat tiba di rumah sakit.

"Dua puluh orang telah diterima di Pusat Bedah EMERGENCY di Kabul setelah sebuah ledakan sore ini di wilayah Shahr-e-Naw, dekat rumah sakit. Di antara mereka yang diterima terdapat tujuh orang yang sudah meninggal saat tiba," kata organisasi tersebut dalam sebuah pernyataan.

Emergency menambahkan bahwa empat perempuan dan seorang anak termasuk di antara para korban luka. Organisasi itu juga menegaskan bahwa angka korban masih bersifat sementara.

Ledakan dan serangan bersenjata di Kabul serta wilayah lain Afghanistan sejatinya makin jarang terjadi sejak Taliban kembali berkuasa menyusul penarikan pasukan Amerika Serikat pada 2021. Namun demikian, afiliasi ISIL masih aktif di negara tersebut dan terus melancarkan serangan sporadis, termasuk di kawasan-kawasan yang selama ini dianggap relatif aman.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |