Menata Iklim Sekolah yang Memuliakan Manusia

1 hour ago 1

loading...

Hendarman - Ketua Dewan Pakar JFAK INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor.

Hendarman
Ketua Dewan Pakar JFAK INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor

Sekolah pada hakikatnya bukan semata ruang transfer pengetahuan, melainkan arena pembentukan manusia seutuhnya. Di sekolah berlangsung proses pengembangan karakter, nilai, relasi sosial, dan identitas diri murid. Namun, tujuan luhur tersebut hanya dapat terwujud apabila sekolah hadir sebagai lingkungan yang aman, nyaman, dan memuliakan martabat kemanusiaan. Tanpa rasa aman baik secara fisik, psikologis, sosial, maupun digital, pendidikan akan kehilangan fondasi etik dan pedagogisnya.

Dalam konteks inilah, tampaknya kebijakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) menjadi relevan dan strategis. Kebijakan baru dari kementerian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah ini telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Peraturan ini menggantikan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan

Kebijakan ini tidak dapat dibaca sekadar sebagai regulasi teknis pencegahan kekerasan, melainkan sebagai upaya transformasi paradigma tata kelola pendidikan menuju pendekatan yang lebih humanis, preventif, dan kolaboratif.

Dari Penanganan Kasus ke Pembangunan Budaya
Selama bertahun-tahun, kebijakan perlindungan di sekolah cenderung berorientasi pada penanganan kasus. Fokus utama diarahkan pada bagaimana merespons kekerasan setelah peristiwa terjadi. Pendekatan semacam ini, meskipun penting, memiliki keterbatasan karena bersifat reaktif dan seringkali tidak menyentuh akar persoalan.

Kebijakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman membawa pergeseran mendasar, yaitu dari sekadar penanganan insiden menuju pembangunan ekosistem sekolah yang kondusif. Sekolah diposisikan sebagai ruang hidup bersama (living space) yang harus dirancang secara sadar agar aman dan menenangkan bagi semua warganya. Dalam paradigma ini, pencegahan tidak lagi dipahami sebagai tambahan kebijakan, melainkan sebagai inti dari praktik pendidikan itu sendiri.

Pergeseran ini juga menegaskan bahwa kekerasan di sekolah bukan hanya persoalan individu. Tetapi ia merupakan fenomena sistemik yang dipengaruhi oleh budaya organisasi, relasi kuasa, norma sosial, serta ekosistem digital yang semakin kompleks.

Dimensi Aman dan Nyaman sebagai Kerangka Holistik
Salah satu kekuatan utama kebijakan BSAN adalah pendekatan multidimensinya. Keamanan dan kenyamanan tidak direduksi hanya pada aspek fisik, tetapi dipahami secara utuh sebagai pengalaman hidup murid dan warga sekolah.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |