Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memanas selama sekitar 40 hari berakhir dengan gencatan senjata sementara, sekaligus memunculkan julukan TACO untuk Presiden AS Donald Trump, singkatan dari "Trump Always Chickens Out" atau "Trump selalu mundur".
Melansir CNN International, Rabu (8/4/2026), istilah ini mencuat setelah keputusan Trump yang sempat mengancam eskalasi besar terhadap Iran, tetapi kemudian justru mengumumkan gencatan senjata dua arah di menit-menit akhir.
"Hari itu dimulai dengan ancaman kehancuran besar, namun berakhir dengan dunia mencoba memahami keputusan Trump untuk mundur," demikian gambaran situasi yang berkembang, dikutip Rabu (8/4/2026).
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa "seluruh peradaban" Iran bisa hancur, sebelum akhirnya mengklaim kemenangan dan mengumumkan penundaan eskalasi militer melalui platform Truth Social.
"Gencatan senjata dua sisi!" tulis Trump. Ia juga menyebut Iran sepakat membuka Selat Hormuz secara "penuh, segera, dan aman".
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya tetap mengontrol akses strategis tersebut.
"Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran," tulisnya.
Perbedaan narasi ini memicu kebingungan global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dunia. Ketidakpastian sempat mengguncang pasar sebelum akhirnya mereda setelah kabar gencatan senjata.
Julukan TACO dan Kredibilitas
Di tengah dinamika tersebut, istilah TACO menjadi sorotan. Kritikus menilai pola Trump yang kerap mengeluarkan ancaman maksimalis lalu mundur telah berulang.
Jika Iran benar-benar mempertahankan kendali atas Selat Hormuz selama gencatan senjata, hal ini dinilai memperkuat persepsi bahwa Trump tidak memiliki posisi tawar yang kuat.
Namun di sisi lain, pendukung Trump melihat langkah ini sebagai strategi negosiasi. Mereka menilai tekanan ekstrem yang dilontarkan Trump justru berhasil mendorong Iran ke meja perundingan.
Polemik tidak berhenti di situ. Pernyataan Trump yang menyebut kemungkinan kehancuran massal warga sipil Iran menuai kecaman luas dari berbagai pihak di AS.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt sempat mengatakan, "Hanya Presiden yang tahu bagaimana situasinya dan apa yang akan dia lakukan". Pernyataan ini memicu kekhawatiran soal konsentrasi kekuasaan di tangan presiden tanpa pengawasan memadai.
Senator Republik Lisa Murkowski mengkritik keras retorika tersebut. "Retorika semacam ini merupakan penghinaan terhadap cita-cita yang telah dipromosikan bangsa kita selama hampir 250 tahun," tulisnya.
Sementara itu, Senator Demokrat Jack Reed menilai Trump telah "menjadi fanatik seperti para pemimpin rezim di Teheran".
Risiko Global dan Pertanyaan Konstitusional
Di balik meredanya konflik, sejumlah analis menilai hasil sementara ini justru menyisakan risiko jangka panjang.
Jika Iran memperoleh pengaruh lebih besar atas Selat Hormuz, negara tersebut berpotensi memiliki leverage signifikan terhadap ekonomi global, mengingat jalur itu krusial bagi distribusi energi dunia.
Selain itu, keputusan Trump yang nyaris membawa AS ke konflik besar tanpa persetujuan Kongres juga memicu pertanyaan konstitusional serius terkait mekanisme checks and balances.
Meski langkah mundur Trump dinilai mencegah potensi bencana kemanusiaan, gaya kepemimpinannya yang dinilai impulsif dan tidak terduga kini menjadi sorotan global.
Julukan TACO pun menjadi simbol kritik atas pendekatan tersebut, yakni antara strategi negosiasi berisiko tinggi atau tanda inkonsistensi dalam kebijakan luar negeri AS.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
2















































