Menkeu AS Peringatkan Jangan Ada Aksi Balasan Tarif Trump: Duduk Diam dan Terima Saja

23 hours ago 3

loading...

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent mendesak mitra dagang Washington untuk tidak melakukan aksi balasan terhadap tarif impor terbaru Presiden Donald Trump. Foto/Dok

JAKARTA - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent mendesak mitra dagang Washington untuk tidak melakukan aksi balasan terhadap tarif impor terbaru Presiden Donald Trump. Seperti diketahui Trump pada hari Rabu, kemarin mengumumkan tarif timbal balik pada ekspor dari negara-negara di seluruh dunia.

Upaya Trump yang disebut sebagai 'Hari Pembebasan' itu meningkatkan kekhawatiran pecahnya perang dagang global. Berbicara kepada Fox News tak lama setelah pengumuman Trump, Bessent mengatakan bahwa pungutan tersebut bertujuan untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

"Saran saya kepada setiap negara saat ini adalah jangan membalas. Duduk, terima saja, dan mari kita lihat bagaimana kelanjutannya," kata Menkeu AS, Bessent.

Ia memperingatkan bahwa pembalasan akan menyebabkan eskalasi. Trump telah membingkai kebijakan tarif terbaru sebagai 'Hari Pembebasan' sebagai cara untuk mengembalikan keseimbangan perdagangan global. Seperti diketahui Trump telah lama menuduh negara-negara asing menyalahgunakan keterbukaan pasar AS dan "menipu" rakyat Amerika.

AS akan memberlakukan tarif dasar 10% pada semua impor mulai 5 April 2025. Sedangkan tarif timbal balik akan berlaku pada 9 April. Selanjutnya tarif 25% yang ditujukan untuk mobil dan truk mulai berlaku pada 3 April, dengan tarif yang sama pada suku cadang mobil akan menyusul pada 3 Mei.

Negara-negara yang ditargetkan dengan tarif timbal balik termasuk China (34%), India (26%), Jepang (24%), Korea Selatan (25%) dan Afrika Selatan (30%). Trump juga memberlakukan bea masuk 20% pada barang-barang asal Uni Eropa, dimana Ia menyebut anggota blok itu sebagai "pedagang yang sangat tangguh."

Para pemimpin dunia mengutuk perubahan besar tarif impor AS. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen pada hari Kamis menyebutnya, sebagai "pukulan besar bagi ekonomi dunia."

"Konsekuensinya akan mengerikan bagi jutaan orang di seluruh dunia," katanya.

Presiden Komisi Eropa juga menambahkan, bahwa Uni Eropa untuk sementara siap untuk bernegosiasi, namun Uni Eropa juga siap untuk merespons dengan aksi balasan.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |