Minyak Makin "Panas", Diserang Iran, Harga Terbang 5%

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia kembali menunjukkan taringnya. Kali ini lonjakannya terasa seperti lompatan tajam di tengah ketegangan geopolitik yang makin membara di Timur Tengah.

Mengacu data Refinitiv, pada Kamis (19/3/2026) pukul 09.15 WIB, harga minyak jenis Brent melonjak ke US$112,74 per barel, naik signifikan dari posisi penutupan sebelumnya di US$107,38 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di US$98,64 per barel, juga menguat dibandingkan penutupan sebelumnya di US$96,32 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang reli harga dalam beberapa hari terakhir. Jika ditarik ke awal pekan, Brent telah melonjak dari kisaran US$100,21 (16 Maret) ke atas US$110, menandakan lonjakan lebih dari 10% hanya dalam hitungan hari. 

Melansir dari Reuters, lonjakan harga minyak dipicu oleh eskalasi besar dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Iran dilaporkan meluncurkan serangan ke sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk di Qatar dan Arab Saudi, sebagai respons atas serangan terhadap ladang gas South Pars salah satu yang terbesar di dunia.

Serangan ini bukan sekadar simbolik. Fasilitas energi di Ras Laffan, Qatar, dilaporkan mengalami kerusakan signifikan akibat hantaman rudal. Arab Saudi juga mengonfirmasi berhasil mencegat sejumlah rudal balistik dan drone yang mengincar fasilitas gas mereka. Situasi ini memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.

Yang lebih mengkhawatirkan, konflik ini telah mengganggu jalur vital energi dunia, yakni Selat Hormuz. Jalur ini menangani sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global. Dengan terganggunya distribusi, pasar langsung merespons dengan lonjakan harga yang agresif.

Analis dari SEB, Ole Hvalbye, menyebut bahwa serangan terhadap infrastruktur energi akan terus menjadi bahan bakar kenaikan harga minyak. Bahkan, estimasi pemangkasan produksi di Timur Tengah kini mencapai 7-10 juta barel per hari, atau sekitar 7-10% dari permintaan global angka yang sangat signifikan bagi keseimbangan pasar.

Di sisi lain, ada sedikit kabar penyeimbang dari sisi pasokan. Irak mulai kembali menyalurkan ekspor minyak dari ladang Kirkuk ke pelabuhan Ceyhan, Turki, dengan kapasitas awal 250 ribu barel per hari. Libya juga mulai mengalihkan aliran dari ladang Sharara setelah sempat terganggu akibat kebakaran. Namun tambahan pasokan ini dinilai belum cukup untuk meredam tekanan harga.

Sementara itu, Amerika Serikat mencoba meredam lonjakan harga domestik dengan melonggarkan aturan pengiriman bahan bakar dan membuka akses tambahan distribusi. Namun langkah ini dinilai hanya berdampak terbatas terhadap harga global.

CNBC Indonesia 

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |