Roket Space Launch System (SLS) yang membawa kapsul awak Orion tampak berdiri di Kompleks Peluncuran 39B, Kennedy Space Center, Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, Minggu (18/1/2026), seiring NASA memasuki tahap persiapan akhir misi Artemis II. Roket raksasa itu telah digerakkan ke landasan peluncuran, menandai fase krusial menuju misi berawak pertama ke Bulan dalam lebih dari lima dekade, yang ditargetkan meluncur paling cepat bulan depan. (REUTERS/Steve Nesius)
Roket SLS setinggi 322 kaki atau sekitar 98 meter itu bergerak dengan kecepatan sekitar satu mil per jam (1,6 kilometer per jam) di atas platform peluncuran bergeraknya. Saat matahari terbit, roket tersebut perlahan keluar dari pintu garasi raksasa Gedung Perakitan Kendaraan di Pusat Luar Angkasa Kennedy, sebelum menempuh perjalanan sekitar 4 mil menuju landasan peluncuran. (REUTERS/Joe Skipper)
Proses pemindahan roket menjadi tontonan tersendiri bagi ratusan karyawan dan kontraktor NASA yang berjaga di sepanjang rute. Mereka menyaksikan momen bersejarah tersebut sebagai bagian penting dari persiapan misi Artemis II, yang akan mengirim manusia kembali ke sekitar bulan. (REUTERS/Steve Nesius)
Awak misi Artemis II terdiri dari tiga astronot Amerika Serikat dan satu astronot Kanada. Peluncuran direncanakan paling cepat pada 6 Februari, namun jadwal tersebut masih bergantung pada hasil latihan uji coba selama empat hari sebelumnya. Latihan ini akan mensimulasikan hitungan mundur peluncuran guna mengidentifikasi potensi hambatan atau masalah teknis sebelum penerbangan sesungguhnya. (REUTERS/Joe Skipper)
Misi Artemis II merupakan penerbangan kedua dalam program Artemis NASA yang bernilai miliaran dolar, setelah misi tanpa awak pada 2022. Misi ini juga akan menjadi penerbangan berawak pertama, dengan durasi sekitar 10 hari, yang membawa para astronot mengelilingi bulan dan mencapai jarak terjauh yang pernah dicapai manusia dalam penjelajahan luar angkasa. (REUTERS/Joe Skipper)

3 hours ago
1

















































