Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
20 January 2026 12:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bonds (JGB) ramai dijual investor pada awal pekan ini.
Kondisi ini membuat imbal hasil atau yield naik di berbagai tenor. Kekhawatiran pasar muncul karena ada usulan pemangkasan pajak, termasuk pemotongan pajak penjualan makanan dan wacana pemangkasan pajak konsumsi, yang dinilai bisa memperburuk kesehatan fiskal Jepang.
Imbal hasil JGB tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 27 tahun pada Senin (19/1/2026). Investor mulai waspada karena peluang pemotongan pajak makin besar, sementara langkah itu dikhawatirkan bisa menekan kondisi fiskal Jepang.
Melansir data Refinitiv, yield acuan ditutup pada level 2,274% atau menjadi yang tertinggi sejak Februari 1999. Bahkan pagi ini tekanan jual kembali mendorong yield naik lebih jauh. Per pukul 10.20 WIB, yield JGB tenor 10 tahun terpantau meningkat hingga berada di level 2,325%.
Perlu dipahami, yield obligasi bergerak berlawanan dengan harga. Jadi saat yield naik, harga obligasi turun. Ini menunjukkan di pasar surat utang saat ini tekanan jual lebih besar dibandingkan minat beli.
Sejumlah anggota parlemen dari partai berkuasa maupun oposisi juga menyinggung kemungkinan pemangkasan pajak konsumsi menjelang pemilu umum dadakan yang diperkirakan digelar awal bulan depan.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun juga mencetak rekor dan menembus 4% pada Selasa (20/1/2026).
Yield tenor panjang tersebut naik lebih dari lima basis poin menjadi 4%, level tertinggi sejak tenor 40 tahun pertama kali diterbitkan pada November 2007, ketika Kementerian Keuangan Jepang melelang obligasi 40 tahun untuk pertama kalinya pada 6 November 2007.
Alasan Mengapa Investor Melakukan Aksi Jual
Kekhawatiran utama pasar ada pada potensi memburuknya kondisi fiskal Jepang. Ini seiring pembahasan usulan pemotongan pajak penjualan makanan dan wacana pemangkasan pajak konsumsi, yang dikhawatirkan bisa membuat penerimaan pemerintah Jepang turun dan defisit melebar.
Tekanan jual juga menguat setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan rencana membubarkan parlemen pada Jumat (23/1/2026) dan menggelar pemilu dadakan pada 8 Februari mendatang. Pemilu ini diperkirakan akan banyak membahas kebijakan ekonomi, sehingga pasar makin sensitif terhadap arah kebijakan fiskal ke depan.
Masahiko Loo, senior fixed income strategist di State Street Investment Management yang dikutip dari CNBC International, menilai kenaikan yield JGB tenor sangat panjang bukan hanya dipicu ketidakseimbangan struktural antara pasokan dan permintaan, tetapi juga karena pasar melakukan penyesuaian ulang terhadap premi tenor dan premi risiko.
Penyesuaian ini terjadi ketika pelaku pasar mulai menyerap sinyal kebijakan fiskal yang lebih ekspansif, ditambah tekanan inflasi yang masih bertahan. Menurutnya, kondisi ini kembali memunculkan pola yang dikenal sebagai "Takaichi trade", yaitu Nikkei cenderung menguat, obligasi pemerintah Jepang melemah, dan yen melemah.
Loo juga menyebut volatilitas kali ini mirip dengan yang terjadi pada Oktober tahun lalu, saat pasar Jepang bereaksi terhadap komentar dan sinyal kebijakan dari Takaichi yang mengarah pada kebijakan fiskal lebih longgar, sebelum akhirnya mereda. Ia menilai pergerakan saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen pasar, bukan tanda adanya masalah struktural yang lebih dalam.
Ke depan, Loo memperkirakan kurva yield masih akan tetap curam pada paruh pertama tahun ini, lalu berangsur stabil seiring penyesuaian pola penerbitan obligasi dan kembalinya bank-bank domestik sebagai pembeli.
Sejalan dengan itu, analis Crédit Agricole Corporate and Investment Bank menilai pasar semakin memperhitungkan pergeseran yang bertahan ke arah kebijakan fiskal agresif di bawah Takaichi. Arah kebijakan ini, yang bertujuan menjauh dari apa yang disebut Takaichi sebagai "belenggu penghematan berlebihan", berpotensi berujung pada defisit yang lebih besar.
Bagaimana Dengan Imbal Hasil Obligasi RI?
Mengacu pada data Refinitiv, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) RI tenor 5, 10, dan 30 tahun menunjukkan tren yang cenderung naik dalam sebulan terakhir, terutama pada tenor pendek dan menengah.
Pada perdagangan hari ini, Selasa (20/1/2026), yield SBN tenor 10 tahun bergerak naik dari 6,126% pada 19 Desember 2025 menjadi 6,331% per pukul 10.30 WIB. Di awal Januari, yield sempat turun ke 6,088%, namun setelah itu kembali merangkak naik dan bertahan di atas 6,2%.
Tenor 5 tahun juga menguat. Yield naik dari 5,6% pada 19 Desember 2025 menjadi 5,762% pada perdagangan hari ini. Setelah sempat turun ke kisaran 5,49 pada 9 Januari, yield tenor 5 tahun berbalik naik cukup cepat dan dalam beberapa hari terakhir bergerak lebih tinggi.
Sementara itu, tenor 30 tahun relatif lebih stabil dibandingkan dua tenor lainnya. Yield tenor 30 tahun turun tipis dari 6,742% pada 19 Desember 2025 menjadi 6,701% pada perdagangan hari ini. Meski demikian, pergerakannya tetap berfluktuasi karena sempat berada di 6,756% pada 9 Januari sebelum kembali turun ke level 6,67%-6,70%
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

2 hours ago
2

















































