Panas Perang AS-Israel Vs Iran, Harga Tiket Pesawat Langsung Meroket

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri penerbangan global tengah diguncang hebat menyusul penutupan bandara-bandara utama di Timur Tengah akibat eskalasi perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Situasi ini memicu lonjakan harga tiket pesawat rute Asia ke Eropa hingga ke level yang tidak masuk akal, sementara ketersediaan kursi di berbagai maskapai besar ludes tak bersisa untuk beberapa hari ke depan.

Pusat transit utama di Teluk, termasuk Bandara Internasional Dubai yang merupakan bandara tersibuk di dunia dengan kapasitas 1.000 penerbangan per hari, harus berhenti beroperasi selama empat hari berturut-turut hingga Selasa (3/3/2026). Penutupan ini memangkas drastis kapasitas kursi pada rute-rute populer, di mana maskapai seperti Emirates dan Qatar Airways biasanya memegang pangsa pasar yang sangat besar.

Kekacauan ini berdampak langsung pada lonjakan permintaan layanan darurat di agen perjalanan. Managing Director Global Flight Centre Travel Group, Andrew Stark, mengungkapkan bahwa perusahaannya mencatat lonjakan panggilan pelanggan hingga 75% sejak krisis dimulai, di mana tim bantuan bekerja sepanjang waktu untuk menangani disrupsi ini.

"Warga Australia sangat tangguh dan mereka sudah mulai memesan ulang penerbangan ke Inggris atau Eropa melalui rute alternatif melewati China, Singapura, dan pusat penerbangan Asia lainnya, serta Amerika Utara melalui pusat transit seperti Houston," ujar Andrew Stark, dilansir Reuters.

Meski sejumlah maskapai yang menawarkan penerbangan nonstop Asia-Eropa masih bisa beroperasi dengan menghindari wilayah udara Timur Tengah yang tertutup, tantangan besar tetap mengintai.

Pesawat harus memutar ke arah utara melalui Kaukasus atau ke selatan melalui Mesir, yang secara otomatis menambah waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Ketua Association of Asia Pacific Airlines, Subhas Menon, memperingatkan bahwa situasi ini akan menjadi beban berat bagi profitabilitas maskapai jika terus berlanjut. Menurutnya, saat ini hampir seluruh wilayah Timur Tengah sudah tidak bisa dilalui oleh penerbangan sipil demi keamanan.

"Saat ini seluruh Timur Tengah berada di luar jangkauan, yang mana merupakan harga yang sangat mahal bagi beberapa maskapai penerbangan. Jika Eropa hanya dapat dilayani dengan biaya tinggi, maka profitabilitas maskapai akan tergerus. Pada akhirnya, harga yang harus dibayar adalah masalah konektivitas," tegas Subhas Menon.

Kondisi ini diprediksi akan memberi keuntungan jangka pendek bagi maskapai yang memiliki rute di luar zona konflik. Alton Aviation Consultancy menyebut maskapai seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan Turkish Airlines berpotensi mendapatkan limpahan penumpang yang sebelumnya menggunakan jasa maskapai asal Teluk.

Berdasarkan pantauan pada situs resmi maskapai, harga tiket kini meroket tajam. Cathay Pacific misalnya, tidak memiliki sisa kursi kelas ekonomi untuk rute Hong Kong-London hingga 11 Maret mendatang. Harga tiket satu kali jalan pada tanggal tersebut dibanderol minimal US$2.705 (Rp45,66 juta), naik berkali-kali lipat dari harga normal yang biasanya hanya US$646 (Rp10,9 juta).

Kondisi serupa terjadi pada maskapai Qantas Airways untuk rute Sydney-London. Perusahaan tidak menawarkan tiket kelas ekonomi melalui rute normal hingga 17 Maret, di mana satu kursi tersisa dihargai US$2.220 (Rp37,47 juta) sekali jalan. Untuk keberangkatan lebih awal, penumpang terpaksa mengambil rute memutar yang sangat mahal melalui Los Angeles.

Menteri Transportasi Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn, juga mengonfirmasi bahwa penerbangan Thai Airways menuju Eropa saat ini sudah terisi penuh. Hal ini disebabkan oleh wisatawan yang kini lebih memilih penerbangan langsung dibandingkan harus melakukan transit di wilayah Timur Tengah yang berisiko.

"Thai Airways mengalami kondisi penerbangan ke Eropa yang terisi penuh karena turis Eropa memilih rute langsung daripada transit melalui Timur Tengah," kata Phiphat Ratchakitprakarn.

Tiket Thai Airways rute Bangkok-London dilaporkan ludes hingga akhir pekan depan. Tiket kelas ekonomi baru tersedia pada 15 Maret dengan harga US$2.265 (Rp38,23 juta), dan baru akan melandai ke harga US$861 (Rp14,53 juta) pada tanggal 18 Maret mendatang.

Fenomena ini juga dilaporkan oleh maskapai asal Taiwan, EVA Airways, yang menyebut adanya lonjakan pemesanan dari penumpang Asia dan Eropa yang mencari rute alternatif. Sementara itu, maskapai China daratan seperti Air China menunjukkan situasi yang lebih ekstrem, di mana tiket ekonomi rute Beijing-London kini sudah tidak tersedia. Untuk keberangkatan segera, satu-satunya opsi yang tersisa adalah kelas bisnis dengan harga fantastis mencapai US$7.338 (Rp123,86 juta) sekali jalan.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |