Pekan Ini Langkah BI Diuji Serangan Data AS, Jepang Hingga China

11 hours ago 4
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam akhir pekan lalu, bursa saham rekor tertinggi sementara rupiah ambruk ke rekor terburuk
  • Bursa saham AS, Wall Street, melemah pekan lalu
  • Data dalam negeri, keputusan suku bunga BI dan data dari luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini dan sepanjang satu pekan ke depan

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia bergerak kontras akhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tetapi rupiah menyentuh level terendah sepanjang masa di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bisa bergerak positif pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pada hari ini dan sepanjang pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada penutupan Kamis pekan lalu (15/1/2026), IHSG parkir di posisi 9.075,40. Dalam sehari naik 42,82 poin atau 0,47%, mengakumulasi penguatan dalam seminggu sebanyak 1,55%.

IHSG berhasil mempertahankan tren positif selama tiga pekan beruntun dan menembus level tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH).

Perdagangan IHSG pada Kamis pekan lalu tergolong ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp28,25 triliun, melibatkan 50,63 miliar saham yang ditransaksikan 3,37 juta kali. Ada sebanyak 339 saham naik, 331 turun, dan sisanya belum bergerak.

Sektor konsumer non primer dan finansial tercatat menjadi motor penggerak utama kinerja IHSG. Sementara itu, sektor infrastruktur dan barang baku tercatat mengalami koreksi paling dalam pada Kamis.pada Kamis..

Duo bank BUMN yang dikendalikan Danantara tercatat menjadi penopang utama kinerja IHSG. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang melesat 2,69% ke Rp 3.820 per saham dengan sumbangsih 15,72 indeks poin. Lalu disusul oleh saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang melesat 3,10% ke Rp 4.990 per saham dengan kontribusi penguatan 11,65 indeks poin.

Kedua emiten tersebut diketahui baru saja menuntaskan pembagian dividen interim atas kinerja tahun buku 2025. BBRI diketahui telah membayarkan dividen kepada pemegang saham yang berhak senilai Rp 137 per saham, sedangkan BMRI membagikan sejumlah Rp 100 per saham.

Sementara itu saham milik konglomerat tercatat menjadi pemberat utama kinerja IHSG, dengan sumbang koreksi paling besar dibebani oleh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).

Beralih ke pasar nilai tukar, tekanan terhadap mata uang Garuda kini telah melampaui sekadar fluktuasi angka di layar monitor perdagangan antarbank, melainkan sudah memukul pasar fisik secara nyata.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada perdagangan Kamis lalu, harga jual Dolar AS di sejumlah money changer utama di Jakarta telah menembus angka keramat Rp17.000.

Di kawasan sentra valuta asing seperti Menteng, Jakarta Pusat, kurs jual tercatat berada di rentang yang mengkhawatirkan, yakni Rp16.930 hingga Rp17.010 per Dolar AS.

Fenomena ini mengindikasikan adanya lonjakan permintaan fisik dolar yang signifikan, baik dari masyarakat yang melakukan aksi hedging maupun pelaku usaha yang panik mengamankan likuiditas valas untuk kebutuhan impor bahan baku yang mendesak.

Sementara itu, merujuk data Refinitiv, rupiah berada di posisi Rp16.880/US$ pada penutupan Kamis pekan lalu, mencerminkan pelemahan mingguan sebesar 0,51% dan mencatat dua pekan beruntun dalam zona merah.

Rupiah pada pekan lalu sudah menyentuh posisi terendah sepanjang masa, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada 24 April 2025, ketika rupiah ditutup di level Rp16.865/US$.

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir turut dipicu oleh arus keluar dana asing atau hot money flow, khususnya dari pasar Surat Utang Negara (SUN).

"Kelihatannya investor asing banyak yang keluar dulu ambil untung," ujar Myrdal kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, kondisi geopolitik global yang belum kondusif mendorong investor bersikap lebih defensif. Ketegangan di berbagai kawasan, mulai dari konflik Amerika Serikat-Venezuela, Rusia-Ukraina, hingga meningkatnya tensi China-Taiwan, membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset aman (safe haven).

"Ini kan banyak, belum lagi dari Iran, dan kita lihat juga mata uang Asia yang lain juga melemah terhadap dolar, jadi tidak hanya rupiah," tambahnya.

Meski demikian, Myrdal menilai tekanan terhadap rupiah masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Ia menegaskan Bank Indonesia masih memiliki amunisi kebijakan yang memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi di pasar keuangan.

Beralih lagi ke pasar obligasi, pada pekan lalu berakhir di posisi 6,23% untuk yield surat utang acuan RI dengan tenor 10 tahun (ID10Y). Dari posisi tersebut, ID10Y sudah menguat selama dua pekan beruntun.

Perlu dipahami, bahwa pergerakan yield dan harga itu berlawanan arah. Artinya, ketika yield sekarang naik, maka harga sedang turun yang mencerminkan investor lebih banyak menjual obligasi mereka.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |