Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
19 January 2026 15:05
Jakarta, CNBC Indonesia- Vietnam sedang berlari kencang di perdagangan buah tropis. Target ekspor buah dan sayur US$10 miliar pada 2026 atau sekitar Rp 169,5 triliun (US$1=16.950) bukan datang dari basis kinerja yang sudah terbentuk.
Pada 2025, nilai ekspor sektor ini mencapai US$8,5 miliar atau Rp 144,08 triliun. Hampir separuhnya disumbang durian, disusul kelapa dan pisang yang mulai naik kelas sebagai komoditas bernilai tinggi. Struktur industrinya rapi dengan area tanam terdata, ketertelusuran jalan, dan akses pasar dikunci lebih dulu.
Asosiasi Buah dan Sayuran Vietnam (Vietnam Fruit and Vegetable Association/Vinafruit) mengatakan lonjakan ekspor datang dari kombinasi sejumlah faktor positif, termasuk meningkatnya permintaan dari pasar utama seperti China, Amerika Serikat, Korea, Jepang, dan Uni Eropa, serta perluasan perjanjian akses pasar bagi buah-buahan Vietnam.
Ketua Vinafruit Nguyen Thanh Binh mengatakan kepada VNExpress bahwa pertumbuhan ekspor tersebut bukan sekadar lonjakan musiman, melainkan menunjukkan tren kenaikan yang jelas dan berkelanjutan. Ia menambahkan bahwa fokus yang lebih kuat pada kualitas, ketertelusuran (traceability), dan kepatuhan standar membantu industri produk segar Vietnam semakin mapan di pasar internasional.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia baru masuk bab berbeda. Sebagai perbandingan, ekspor buah dan sayuran Vietnam pada 2024 mencapai US$ 7,2 miliar sementara Indonesia hanya uS$ 4,26 miliar. Termasuk di dalamnya kopi hingga cengkeh.
Ekspor buah dan sayur Indonesia pada tahun ini diharapkan menggeliat karena durian.
Perubahan posisi Indonesia di ekonomi durian Asia dimulai pada 6 Januari 2026, saat pengiriman perdana durian beku Indonesia tiba di Pelabuhan Qinzhou, Guangxi.
Untuk pertama kalinya, durian Indonesia diterima secara resmi oleh sistem karantina China melalui jalur logistik laut cepat. Kontainer tersebut dilepas dari Indonesia pada 15 Desember 2025 dan dinyatakan memenuhi seluruh protokol fitosanitasi dan mutu yang disepakati kedua negara.
Peristiwa ini bersifat struktural. China adalah pasar durian terbesar dunia dengan nilai impor mencapai US$7 miliar pada 2024.
Selama bertahun-tahun, Indonesia berada di luar peta utama perdagangan, meski produksi nasional mencapai sekitar 2 juta ton per tahun. Sebelum 2024, nilai ekspor durian Indonesia hanya berkisar ratusan ribu dolar AS. Pada 2023 baru menembus sekitar US$1 juta dan naik ke lebih dari US$1,7 juta pada 2024.
Angka ini kontras dengan Vietnam yang menguasai pasar China dengan nilai ekspor sekitar US$3,3 miliar, sementara Thailand masih menjadi pemasok terbesar dunia.
Kesenjangan tersebut bukan disebabkan kekurangan buah. Akar masalahnya berada di pascapanen, karantina, dan logistik. Protokol ekspor durian beku yang disepakati Indonesia-China mencakup ketertelusuran penuh, mulai dari kebun terdaftar, fasilitas pengolahan, hingga kontainer ekspor.
Badan Karantina Indonesia menerapkan sistem yang memungkinkan setiap unit produk ditelusuri asal dan prosesnya. Bagi China, ini adalah syarat mutlak, mengingat durian segar diperlakukan sebagai komoditas berisiko tinggi karena umur simpan pendek dan sensitivitas terhadap organisme pengganggu.
Durian beku memberi jalur masuk yang lebih realistis. Stabilitas mikrobiologisnya lebih tinggi, pengawasan mutu lebih konsisten, dan pengiriman bisa dilakukan dalam kontainer penuh. Malaysia menempuh jalur ini lebih dulu sebelum akhirnya memperoleh akses durian segar. Indonesia kini mengikuti pola yang sama.
Momentum ini diperkuat faktor logistik. Pelabuhan Qinzhou berkembang menjadi simpul utama perdagangan buah ASEAN-China. Sepanjang 2025, pelabuhan ini mengoperasikan 44 rute pelayaran langsung ke Asia Tenggara.
Mulai 2026, pembukaan Terusan Pinglu memberi wilayah barat daya China jalur laut langsung ke laut lepas tanpa memutar ke Hong Kong atau Shanghai. Otoritas China memperkirakan koridor ini memangkas biaya logistik produk pertanian ASEAN hingga 30%. Untuk durian beku yang bergantung pada cold chain dan volume besar, efisiensi biaya ini menentukan daya saing harga di ritel China.
Di luar durian, kontras Vietnam-Indonesia tetap terlihat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada pisang, ekspor Indonesia pada 2024 hanya 26.249 ton dengan nilai US$10,52 juta. Vietnam secara terbuka menempatkan pisang sebagai kandidat ekspor US$1 miliar. Pada kelapa, Indonesia menunjukkan daya saing melalui produk olahan.
Ekspor kelapa dan turunannya melonjak pada 2025, terutama ke Eropa dan Timur Tengah. Namun lonjakan ini memicu friksi pasokan domestik, hingga muncul wacana moratorium ekspor kelapa bulat.
Pada mangga dan guava, jaraknya lebih lebar. Indonesia adalah produsen mangga terbesar ketiga dunia dan produsen guava terbesar dunia.
Namun ekspor mangga RI pada 2024 baru mencapai US$148 juta dan turun pada 2025. Di pasar global, Thailand, Meksiko, Peru, dan Ekuador menguasai segmen premium dengan harga per ton jauh lebih tinggi. Indonesia masih terkunci di pasar domestik, dengan kualitas yang belum seragam dan pascapanen yang belum siap untuk jarak jauh.
Vietnam memilih pendekatan sebaliknya. Negara ini mengamankan akses pasar lebih dulu, lalu menyesuaikan produksi. Indonesia memproduksi besar lebih dulu, lalu mencari pasar. Konsekuensinya terlihat jelas di angka ekspor.
Durian menunjukkan bahwa arah itu bisa diubah. Begitu sistem karantina, ketertelusuran, dan logistik dipenuhi, pasar global terbuka cepat. Tantangannya kini konsistensi. Jika model durian beku berhenti sebagai proyek awal, Indonesia akan kembali tertinggal. Jika direplikasi ke komoditas lain, peta ekspor buah Indonesia bisa berubah secara struktural.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

2 hours ago
1

















































