Raksasa Ekonomi Eropa Pusing, Warganya "Hobi" Cuti Sakit

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kanselir Jerman Friedrich Merz tengah menjadi sorotan tajam setelah melontarkan kritik pedas terhadap etos kerja warganya. Di tengah kondisi ekonomi yang lesu, Merz mempertanyakan tingginya angka cuti sakit karyawan di Jerman yang rata-rata mencapai hampir tiga minggu dalam setahun.

Saat berkampanye di Baden-Württemberg pekan lalu, Merz secara khusus menyoroti sistem surat izin sakit via telepon yang diperkenalkan selama pandemi Covid-19. Ia mempertanyakan apakah kemudahan tersebut masih relevan untuk diterapkan saat ini di saat produktivitas nasional sedang anjlok.

Berdasarkan data tahun 2024, rata-rata karyawan di Jerman mengambil 14,5 hari izin sakit. Angka ini setara dengan hampir tiga minggu waktu kerja yang hilang karena alasan kesehatan. Merz merasa angka tersebut tidak masuk akal jika Jerman ingin kembali menjadi kekuatan ekonomi dunia.

"Apakah itu benar-benar tepat? Apakah itu benar-benar perlu? Pada akhirnya, kita semua harus bekerja sama untuk mencapai tingkat kinerja ekonomi yang lebih tinggi daripada yang kita capai saat ini," ujar Merz seperti dikutip dari Der Spiegel dan dituliskan Russia Today, Senin (19/1/2026).

Kritik ini sejalan dengan ambisi Merz yang terus mendorong warga Jerman untuk bekerja lebih lama dan lebih keras. Ia secara terbuka menentang tren keseimbangan kehidupan kerja atau work-life balance dan wacana empat hari kerja seminggu yang mulai populer di Eropa. Menurutnya, kemakmuran Jerman tidak akan bertahan jika masyarakatnya kurang bekerja keras.

"Dengan konsep work-life balance dan empat hari kerja seminggu, kemakmuran yang dinikmati negara kita saat ini tidak dapat dipertahankan di masa depan. Itulah sebabnya kita harus bekerja lebih banyak," tegas Merz di hadapan kamar dagang industri setempat.

Kondisi ekonomi Jerman sendiri memang sedang babak belur. Sejak memutuskan ikut serta dalam sanksi Barat terhadap Rusia pada 2022, Jerman kehilangan akses terhadap energi murah. Padahal, sebelumnya Jerman bergantung pada Rusia untuk 55% pasokan gas alamnya. Keputusan meninggalkan energi Rusia ini memicu lonjakan harga listrik sebesar 14% dan harga gas hingga 74% dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Ekonomi Jerman tercatat mengalami kontraksi berturut-turut pada tahun 2023 dan 2024, yang merupakan penurunan tahunan ganda pertama sejak awal era 2000-an. Merz menilai sistem kesejahteraan negara yang ada saat ini sudah tidak sanggup lagi membiayai beban ekonomi yang begitu besar.

"Negara kesejahteraan seperti yang kita miliki saat ini tidak lagi dapat dibiayai dengan apa yang mampu kita tanggung secara ekonomi," kata sang Kanselir pada Agustus lalu.

Di sisi lain, meski ekonomi sedang sulit, Merz justru memprioritaskan anggaran besar untuk militerisasi. Ia berambisi mengubah militer Jerman menjadi tentara konvensional terkuat di Eropa guna menghadapi ancaman keamanan di kawasan tersebut.

(tps)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |