Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia mampu surplus selama 69 bulan beruntun, seusai pada Januari 2026 neraca ekspor impor mencatatkan untung US$ 960 juta.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan, surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 ini ditopang oleh surplusnya neraca perdagangan Indonesia dengan tiga negara, yakni Amerika Serikat, India, dan Filipina.
Dengan Amerika Serikat, neraca perdagangan Indonesia untung US$ 1,55 miliar, lebih tinggi dari catatan Januari 2025 sebesar US$ 1,34 miliar. Dengan India surplus US$ 1,07 miliar, naik dari sebelumnya US$ 750 juta, dan Filipina US$ 690 juta, turun dari sebelumnya US$ 730 juta.
"Negara penyumbang surplus untuk neraca perdagangan total yaitu Amerika Serikat," kata Ateng saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Selain dengan tiga negara itu, neraca perdagangan Indonesia juga masih mampu membukukan surplus dengan wilayah ASEAN sebesar US$ 570 juta dari sebelumnya hanya US$ 190 juta. Demikian juga dengan Uni Eropa yang masih surplus US$ 520 juta dari sebelumnya US$ 470 juta.
Adapun neraca perdagangan Indonesia yang defisit pada Januari 2026 terbesar dengan China dengan nilai defisit US$ 2,47 miliar, dari sebelumnya 1,69 miliar.
Selain dengan China, perdagangan Indonesia juga tekor melawan Australia yang defisit sebesar US$ 960 juta dari sebelumnya US$ 210 juta.
Kondisi yang sama terjadi juga dengan Prancis. Indonesia membukukan defisit neraca perdagangan dengan Prancis sebesar US$ 470 juta dari sebelumnya per Januari 2025 hanya US$ 20 juta.
"Negara penyumbang defiist terdalam China US$ 2,47 miliar, kemudian Australia defisit US$ 0,96 miliar, dan juga Prancis defisit US$ 0,47 miliar,"
(arj/haa)
Addsource on Google

2 hours ago
1
















































