Rupiah Ditutup Melemah, Dolar AS Naik ke Rp16.770

1 day ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (7/1/2026).

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terdepresiasi sebesar 0,15% dan ditutup di level Rp16.770/US$. Sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah memang sudah berada di zona pelemahan setelah dibuka turun 0,03% di posisi Rp16.750/US$, dan terus mengalami tekanan hingga penutupan perdagangan.

Pelemahan pada hari ini sekaligus memperpanjang tren negatif rupiah menjadi empat hari perdagangan beruntun, atau sejak awal tahun 2026.

Sementara itu, hingga pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,06% ke level 98,641, melanjutkan penguatannya setelah pada perdagangan sebelumnya menguat 0,32%.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini terutama dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya dinamika pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat, meskipun dengan rentang pergerakan yang relatif terbatas. Kondisi tersebut mencerminkan sikap pelaku pasar yang cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pasar global saat ini berada dalam fase wait and see, seiring akan dirilisnya sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Fokus utama tertuju pada rangkaian data ketenagakerjaan, mulai dari laporan ADP, data pembukaan lapangan kerja (job openings), hingga laporan ketenagakerjaan utama yang dijadwalkan rilis pada akhir pekan ini. Data-data tersebut dipandang krusial untuk memberikan gambaran mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS serta implikasinya terhadap arah kebijakan suku bunga ke depan.

Selain faktor data ekonomi, sentimen geopolitik global juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Perkembangan terbaru terkait Venezuela sempat meningkatkan kewaspadaan, namun sejauh ini dampaknya terhadap pergerakan aset keuangan global, termasuk pasar valuta asing, dinilai relatif terbatas.

Minimnya respons risk-off menunjukkan bahwa pasar masih menilai risiko eskalasi geopolitik berada dalam skala yang terkendali.

Di sisi kebijakan moneter, pasar keuangan global juga tengah mencerna perbedaan pandangan di internal bank sentral AS terkait arah suku bunga sepanjang tahun ini.

Ketidakpastian tersebut mendorong pelaku pasar untuk bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil posisi, sehingga pergerakan dolar AS cenderung stabil namun tetap bertahan di level yang relatif kuat.

Ekspektasi pasar saat ini masih menunjukkan peluang besar bagi bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan FOMC akhir Januari mendatang. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan dolar AS sekaligus membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |